Motherhood Monday : Diah Kusumawardani Wijayanti – Hidupkan Nasionalisme Tunas Bangsa dengan Mendirikan Yayasan Belantara Budaya

“Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu.” –John Fitzgerald Kennedy

photo (1)

Sesekali saya pernah menanyakan hal di atas ke diri saya sendiri, jawabannya? Belum banyak, sebagian masih berkutat pada peran saya sebagai ibu yang berusaha mendidik anak pertama saya Jordy, agar kelak menjadi pribadi yang bermanfaat untuk lingkungan, agama dan negara (aamiin). Meski jalan masih panjang, namun saya optimis suatu saat nanti saya bisa memetik buah manis dari perjuangan saya. Seoptimis kawan lama saya yang bernama Diah Kusumawardani Wijayanti (39) untuk menularkan semangat mencintai budaya Indonesia.

Ia memulai proyek mendirikan Yayasan Belantara Budaya ini dua tahun silam, bertepatan dengan rampungnya studi S2 jurusan Arkeologi-nya di Universitas Indonesia. Yayasan tersebut memiliki program sekolah tari gratis yang diadakan di Museum Kebangkitan Nasional. Selain tari sekarang juga merambah sekolah musik tradisional Indonesia. Ibu dari Kinanti (10) dan Kirana (8) ini, memang hidup di keluarga yang kental dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Sedari kecil ia sudah terpapar dengan aneka kesenian, mulai macam-macam wayang, makanan khas Indonesia hingga belajar gamelan Jawa.

Simak obrolan saya dengan perempuan berambut panjang yang juga dikenal sebagai fotografer dan Wapemred di Gohitz.com ini mengenai Yayasan Belantara Budaya yang didirikannya dan seputar menanamkan rasa cinta tanah air kepada si kecil sedari dini.

Apa yang melatar belakangi Mbak Diah mendirikan Yayasan Belantara Budaya ini?

Ada warisan dari pemerintahan Soeharto yang hingga sekarang saya pegang teguh, yaitu Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Saya aplikasikan ke dalam hidup saya, jadi per lima tahun itu, saya me-review diri mau ngapain lagi saya ini? Dari zaman single: 25-30 harus menikah dan punya anak – karena menurut saya repoduksi perempuan yang paling bagus di rentang usia tersebut. Dan di usia itu juga, perempuan sudah dianggap matang secara kepribadian dan juga cukup memiliki waktu masa “happy-happy”-nya – konteks “happy” di sini maksud saya, umur 23 lulus kuliah dan bekerja. Hasil jerih paya bekerja itu sudah cukup untuk membahagiakan diri sendiri. Dan cukup sampai usia 27, setelah itu menikah dan punya anak satu – di usia 31 saya sudah mempunyai 2 anak (memang persis seperti di rencana awal saya).

Repelita kedua dalam , 30-35 adalah berkarier, setelah punya anak saya memang berkomitmen menjadi wanita karier agar dua anak saya memiliki tabungan masa depan yang mumpuni. Repelita 35-40 saya ingin mengabdikan diri untuk masyarakat, tidak hanya untuk anak dan suami. Terutama untuk anak Indonesia – awalnya saya memang belum tahu jalan yang akan saya tempuh. Intinya di rentang usia 35-40 saya akan berkarya untuk masyarakat.

Dan ternyata doa saya didengar. Pada suatu ketika saat karier sedang mengalami cobaan, ada yang menawarkan beasiswa S2 Universitas Indonesia. Lantas saya mendaftar beasiswa tersebut dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ternyata saya diterima di jurusan Arkeologi. Memang agak jauh dari jurusan saya yang sebelumnya, yaitu Komunikasi – tapi sepertinya Tuhan sedang menunjukkan jalan dari doa-doa saya tadi. Dan saya mendapatkan beasiswa itu penuh 100%, dari uang buku sampai uang transportasi. Seperti yang kita ketahui bersama, beasiswa semacam ini tentunya menggunakan uang rakyat, nah…saatnya saya mengembalikan uang yang saya terima tersebut.

Akhirnya, ketika thesis saya mengambil tema bagaimana sebuah museum bisa berdaya untuk masyarakat melalui program CSR – saat thesis itu sedang berlangsung , sekaligus saya juga mendaftarkan yayasan saya. Jadi ketika thesis sudah ketuk palu tanda lulus S2, di saat yang sama saya memberitahukan kepada profesor yang menguji saya, bahwa saya sudah mempunyai Yayasan Belantara Budaya ini – bukti bahwa thesis saya bisa teraplikasi dengan baik.

Profesor yang menguji saya sempat kaget, kalau ternyata saya sudah memilik Yayasan Belantara Budaya ini. Thesis saya ini membahas tentang museum Kebangkitan Nasional. Ketika saya lulus itu, saya langsung minta izin ke jajaran museum tersebut untuk membuat program di sana. Karena museum Kebangkitan Nasional itu bagus banget, megah, indah, letaknya pun strategis di tengah kota, halamannya luas – tapi kok sepi ya. Nah, hal ini yang menjadi salah satu pertimbangan saya membuat program tersebut – nama programnya “Sekolah Tari Tradisional Gratis.” Pekerjaan rumah yang besar saat membuat program ini adalah, “Apakah banyak yang  mendaftar?”, pertanyaan itu terus bergelayut di kepala saya. Ada dua kesedihan yang sempat menghamipir saya, ada dua sisi, yaitu satu museum adalah tempat yang jarang sekali dikunjungi – seperti bukan hal yang sifatnya kekinian. Sebagian orangtua mungkin berpikir untuk apa ke museum, banyak debu, nantinya di sana main apa, dan hal-hal lain yang sifatnya meragu akan keberadaan museum.

Pertanyaan-pertanyaan tadi sebetulnya juga menjadi PR besar bagi pihak museum, karena saya yakin orang-orang atau keluarga bukannya tidak mau datang ke sana, tapi karena ketidaktahuan saja akan program-program berkualitas yang museum bisa tawarkan kepada masyarakat. Nah, saya mulai menyosialisasikan program “Sekolah Tari Tradisional Gratis” kepada masyarakat luas – lewat jajering sosial, datang ke sekolah-sekolah yang posisinya dekat dengan museum tersebut, dan ternyata pendaftaran gelombang pertama mencapai 250 anak. Sangat di luar dugaan, saya sangat senang. Bisa dibayangkan dong ya, 250 anak itu pasti diantar oleh ibunya, berarti dikali dua sudah ada 500 orang, belum lagi kalau ayahnya juga ikut mengantar, berarti ada 750 orang yang berkunjung ke museum dalam sehari. Dan sampai hari ini yang terdaftar di museum ada 540 anak. Karena hingga saat ini berjalan baik dan sambutan masyarakat juga bagus, jadi saya membuat “Sekolah Musik Tradisional Gratis”. Memang kalau niat baik dan dijalankan dengan baik, niscaya pasti akan membuahkan hasil yang manis.

Kapan saja dua program tadi dilaksanakan? Dan bagaimana dengan tenaga pengajarnya?

Diadakan setiap hari Sabtu, jam 10.00 – jadi keluarga bisa menghabiskan akhir pekannya di museum. Untuk tenaga pengajar guru tari, saya bayar mereka secara profesional dari dana pribadi. Dan untuk yang sekolah musik, saya belum bisa membiayai secara penuh – karena dana saya masih terbatas untuk proyek ini. Jadi sekarang saya sedang mencari relawan yang mau mengajar di sana, misalnya mengajar angklung, gamelan jawa dan lain-lain –  sudah ada yang mendaftarkan diri.

Apa saja hikmah yang Diah temukan sepanjang perjalanannya mendirikan Yayasan Belantara Budaya Indonesia? Simak di halaman selanjutnya ya, Mommies.


Post Comment