“Belum Menjadi Ibu yang Sesungguhnya dong…”

Pernah mendengar orang mengeluarkan statement seperti itu ke kita? Saya pernah dan rasanya itu sangat menyebalkan.

Saya nggak pernah mengerti dan gagal paham dengan orang yang bilang kalau saya belum benar-benar merasakan rasanya menjadi ibu yang sesungguhnya hanya karena saya melahirkan dengan cara OPERASI CAESAR!!! Dan, ucapan seperti itu nggak hanya sekali atau dua kali terpaksa didengar oleh telinga saya, adalah kalau 10 kali lebih.

million-ways-to-be-a-good-mom1

*Gambar dari sini

Menurut mereka-mereka ini, kalau sudah melahirkan secara normal, merasakan mulas dan menanti pembukaan hingga 10, baru SAH seorang perempuan menyandang gelar ibu. Oke… pertanyaan saya adalah…. bagaimana dengan kehamilan 9 bulan lebih yang saya jalani?  Trimester pertama merasakan mual luar biasa, kemudian trimester akhir mulai susah berjalan, sulit tidur dan keluhan-keluhan lainnya? Yang ada di dalam rahim saya itu kan calon anak saya. Berarti kalau di dalam rahim sudah ada calon anak, saya sudah sah dong disebut sebagai ibu! Siapa yang setuju silahkan angkat tangan.

Next, sudah nih menjalani kehamilan 9 bulan lebih, setelah melahirkan caesar, kan ada proses menyusui yang saya jalani. Selama proses menyusui itu, ada perjuangan dan doa, loh, yang saya lakukan. “Berjuang” supaya ASI tetap lancar, berdoa agar ASIP mencukupi, berjuang menahan bengkak dan tidak nyaman saat ASI mengalir deras tapi saya belum bisa memerah dan berdoa semoga kualitas ASI saya mumpuni agar asupan gizi si kecil te o pe be ge te.

Menjadi seorang ibu bagi saya juga nggak hanya sebatas sukses melahirkan secara normal atau menyusui. Mengurus, mendidik, menyayangi dan mendampingi si kecil juga termasuk syarat untuk menjadi ibu bukan?? Bisa melahirkan normal itu bagus, bisa memberi ASI itu juga bagus, tapi ada serentetan hal lain yang dapat dilakukan untuk kita tetap layak menyandang gelar ibu. Bagi saya yang terpenting adalah, memenuhi tangung jawab dan komitmen saya untuk terus memberikan cinta saya untuk anak-anak dan memastikan bahwa mereka merasa nyaman bersama saya. Bahkan walaupun kita tidak memiliki hubungan darah dengan si kecil.

Kedua kakak saya tidak memiliki anak, tapi anak-anak saya memanggil kakak saya yang pertama dengan sebutan Ibu, dan kakak saya yang kedua dengan sebutan Bunda. Apa kakak saya melahirkan Bagus dan Djati? Jawabannya tentu saja tidak. Apa kakak saya menyusui Bagus dan Djati? Ya nggak lah. Tapi saya tahu bahwa rasa cinta yang dimiliki oleh kedua kakak saya nggak ada bedanya dengan cinta yang saya miliki untuk kedua anak saya.

Kedua kakak saya juga bukan tipikal perempuan yang sukaaaa sama anak kecil. Tapi bagi mereka, keponakan-keponakan mereka adalah anak-anak yang lucu, pintar, keren dan paling ganteng, hahaha. Jangan ditanya sebesar apa mereka mau berkorban untuk kedua keponakannya. Dan, itu yang terpenting untuk saya. Rasa cinta yang benar-benar ada untuk anak-anak saya.

Apa kabar dengan para mommies yang mengadopsi anak mereka? Apa iya besarnya cinta dan pengorbanan yang para mommies itu lakukan hangus begitu saja hanya karena mereka tidak melahirkan dan menyusui anak-anak yang diadopsi? Kemudian membuat mereka nggak layak disebut ibu? TIDAK kaaaan.

Jadi, sudahlah, jangan lagi ya mengeluarkan pernyataan “Oh melahirkannya caesar? Belum sah dong ya disebut ibu, nggak ngerasain kan sakitnya melahirkan normal.”

After all, saya hanya ingin setiap kali anak-anak saya mengingat saya, yang mereka ingat adalah saya sebagai ibu yang penuh cinta. Dan itu semua bisa saya berikan tak hanya melalui proses melahirkan atau proses menyusui :). That’s all.


4 Comments - Write a Comment

  1. i feel what you feel mbak….:-). Melahirkan 2 orang anak, cesar semuanya, tanpa gejala2 melahirkan normal…tidak ada rasa sakit…mulas2….kontraksi…bukaan 1…2…3….dst…. Tapi, waktu sudah selesai melahirkan….ibu saya bilang, “masih pinteran mbakmu ya….anak 3 melahirkan normal semua…”…. What??? makjleb deh rasanya….Emang melahirkan cesar ga pinter ya? Dan ada juga bbrp orang bilang… saya belum jadi ibu yg sesungguhnya karena tidak melahirkan secara normal… Tapi udahlah…semuanya udah lewat…yg terpenting adalah bagaimana saya mendidik anak2 saya…menyayangi mereka….dan mengajarkan mereka untuk bisa open minded…hehehe…. Karena menjadi ibu itu tidak ada sekolahnya…dan menjadi ibu yg ‘sesungguhnya’ tidak ditentukan dari cara melahirkan…tp dari ketulusan menyayangi anak2nya…..

  2. Bener banget Mbak Fia, komentar kayak gitu nyebelin banget. Tapi setelah dipikir lagi, there’s no point of living a life just to prove. Gak penting juga pengakuan semacem gitu dari orang lain. Yg terpenting adalah bagaimana hubungan kita dan arti hadirnya kita bagi anak-anak dan suami. As long as we’re the glue to the family, well, shut the noise ;)

Post Comment