Saya Ibu Bekerja, Pernah Hamil & Menyusui. Ini Harapan Saya!

Peringatan sebelumnya untuk yang membaca, jangan anggap saya perempuan yang banyak menuntut ya, hehehe.

Saya sangat menyadari konsekuensi dari peran ganda yang saya jalani sejak saya menikah, kemudian hamil anak pertama dan hamil anak kedua. Peran saya adalah sebagai seorang perempuan secara pribadi, istri, pekerja, dan ibu. Sadar bahwa ini berarti jadwal saya setiap hari akan padat merayap bagaikan jalanan ibukota di hari Jumat malam. Sadar bahwa akan ada masanya saya berharap bisa membelah diri bagaikan amuba agar saya bisa ikut meeting sekaligus menemani anak yang sedang kurang sehat, dan sadar bahwa pada hari-hari tertentu saya akan merasa bahwa 24 jam dalam satu hari sangatlah kurang. Namun, dengan segala kesadaran ini, sungguh saya tidak menyesal menjalaninya.

Tapi tidak menyesal bukan berarti saya nggak boleh bermimpi dan mengharapkan perubahan dong. Ya ‘kan?

original

*Gambar dari sini

Saya setuju statement yang bilang bahwa elements of support untuk ibu hamil dan menyusui yang bekerja terdiri dari TIME, SPACE, dan SUPPORT. All three factors are needed for women in any kind of work setting. (Catat: Ini adalah pendapat pribadi saya).

Oke, mari kita bahas satu per satu:

TIME

Masa cuti 6 bulan. Kenapa harus 6 bulan? Bukan untuk jalan-jalan atau leyeh-leyeh, kok. Tujuannya tak lain agar minimal masa pemberian ASI eksklusif bisa dilakukan dengan lancar, tenang, dan fokus. Tanpa harus memikirkan deadline pekerjaan, tanpa harus stres karena takut ASIP tidak cukup, dan berjuta kekhawatiran lainnya. Atau, misalnya pun ada Mommies yang tidak beruntung dengan pemberian ASI sehingga ASI-nya nggak keluar, at least dia bisa menciptakan waktu berkualitas dengan si bayi lebih lama. Flexible work hours to breastfeed atau untuk Mommies melakukan kegiatan pumping ASI.

Nah, untuk perusahaan yang memekerjakan para ayah baru, para ayah ini juga diberikan cuti tanpa potong gaji (hehehe). Nggak perlu dalam hitungan bulan, cukup 5 hari, deh. Setidaknya dalam 5 hari itu, suami bisa menemani para istri yang mungkin masih kesakitan, kelelahan atau bingung dengan peran barunya sebagai ibu. Swear, saya mengalami sendiri ada enaknya juga kehadiran suami di awal-awal setelah melahirkan. Beruntung karena suami memiliki usaha sendiri dan tidak terikat pada jam kantor.

SPACE

Ruang menyusui yang LAYAK. Gini, deh, kalau kita disuruh menikmati  atau menyiapkan makan siang kita di WC, mau nggak? Atau harus makan di bilik kecil sambil jongkok atau duduk di lantai sembari deg-degan kalau ada orang yang akan menerobos masuk dan membuat piring berisi makanan kita jatuh ke lantai? Sudah pasti jawabannya nggak. Sama aja halnya dengan memerah ASI. ASIP itu makanan untuk anak kita, bukan? Apa iya saya harus menyiapkan makanan untuk anak saya di tempat yang nggak layak?

Ruang menyusui yang besar, ber-AC, dan sofa? Nggak usah semuluk itu juga (yah kalau bisa seindah itu, amiiiin juga sih). Cukup ruangan yang nyaman di mana saya bisa duduk dan terjaga privasinya. Masalahnya, saat ini, walaupun memang sudah semakin banyak perusahaan yang menyediakan ruang menyusui, sayangnya masih banyak juga perusahaan besar yang belum menyediakan fasilitas ini. Atau kalaupun ada, benar-benar ala kadarnya.

Satu lagi, ruang kerja yang terjaga kebersihannya. Tak jarang, ada perusahaan yang abai terhadap kontrol kebersihan ruang kerja. Lantai jarang disapu pel, AC jarang dibersihkan hingga sirkulasi udara yang juga nggak dikontrol. Padahal, kebersihan ruangan berdampak banget pada kondisi kesehatan para pegawai. Di salah satu kantor lama saya, saya pernah iseng meninggalkan remah-remah makanan di meja sehari sebelum cuti, untuk cek aja, apakah meja saya dibersihkan oleh Office Boy sesuai aturan yang berlaku. Daaaan, 3 hari kemudian saya kembali dari cuti, remah-remah itu masih berserakan dengan manis di meja saya. No wonder banyak pegawainya yang sering banget sakit *__*. Ini baru contoh kecil.

Terus, support macam apa sih yang bisa diberikan oleh perusahaan?