Pernikahan Kedua, Lebih Rentan atau Lebih Kuat?

Ditulis oleh: Kurnia Midiasih

Masih ingat dengan artikel tentang persiapan apa saja yang dibutuhkan saat Anda memutuskan pernikahan kedua? Nah, sekarang saatnya cari tahu lebih jauh apakah pernikahan kedua lebih kuat atau lebih rentan.

Artikel ini saya tulis berdasarkan rasa penasaran saya atas pernikahan seorang teman yang gagal hingga tiga kali. Dulu, saya berpikir, saat seseorang bercerai kemudian memutuskan untuk menikah lagi, maka pernikahan berikutnya pastilah akan langgeng, karena kan masing-masing sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Well, makanya ada pepatah “Pengalaman adalah guru yang terbaik,” bukan?

slide6

 

*Gambar dari sini

Tapi ternyata, bukan mau menakut-nakuti, pada tahun 1992 dalam DeGenova muncul hasil penelitian Booth & Edwards bahwa pernikahan kedua cenderung lebih mudah bercerai daripada pernikahan pertama. Hal ini juga diamini oleh psikolog Nina Teguh dalam obrolan kami yang lalu. Dalam penelitian itu disebutkan, sekitar setengah anak yang orangtuanya bercerai dan kemudian menikah lagi, akan mengalami perceraian kedua.

Lalu pada tahun 2007 dalam penelitian Ahrons terhadap anak dewasa (diwawancara 20 tahun setelah ortunya bercerai), melaporkan bahwa anak yang mengalami perceraian orangtua dan pernikahan kembali (remarriage) menganggap bahwa remarriage lebih membuat stres dibanding proses dan efek perceraian. Mengapa?

Bagaimanapun, perlu diingat bahwa ketika orangtuanya menikah kembali, maka si anak membutuhkan penyesuaian dengan pasangan si orangtuan, keluarga besar pasangan, kadang teman si pasangan, anak-anak bawaan si pasangan, dan lain-lain. Terkadang, anak juga harus kembali merasakan perubahan gaya hidup, misalnya harus pindah rumah dan pindah sekolah, juga tinggal dengan keluarga besar pasangan.

How to make it stronger?

Namun baru-baru ini, The Huffington Post melangsir artikel yang menampilkan 10 alasan mengapa pernikahan kedua lebih baik daripada pernikahan kedua. Dalam artikel berjudul “10 Reasons Marriage Is Better The Second Time Around” tampil sepuluh pasangan yang menceritakan kisah pernikahan kedua mereka. Dalam testimoninya, mereka menyebutkan bahwa pernikahan kedua mereka membawa kebahagiaan dan terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Kristin Shawn yang sudah delapan tahun dalam pernikahan kedua misalnya menyebutkan, “Pengalaman perceraian pertama dan bertambahnya usia mendewasakan saya. Saya juga jadi lebih hati-hati dalam memilih pasangan, mengubah sifat buruk saya, dan belajar bahwa saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Sementara itu, Lisa Miller yang sudah 15 tahun dalam pernikahan keduanya mengatakan, “Dulu saya berpikir bahwa jika saya dan suami sudah ditakdirkan untuk bersama sehingga segalanya pasti takkan terlalu sulit. Namun saya belajar bahwa sebuah pernikahan butuh kerja keras, pengorbanan, ketekunan, dan segunung rasa humor.

Lesson Learn is Everything

Testimonial di atas rasanya sejalan dengan yang dikemukakan Nina Teguh. Saat saya bertanya, lalu bagaimana membuat pernikahan kedua jadi lebih kuat? Seperti yang mungkin juga Anda temui, tidak sedikit juga yang gagal dalam pernikahan kedua mereka.

Nina Teguh menjelaskan, penyebab yang paling banyak terjadi adalah melakukan kesalahan yang sama dengan pernikahan pertama. Contohnya, dulu sering bicara judes dengan pasangan ketika marah, lalu belum berubah sudah menikah kembali. Di pernikahan kedua ini pun tiap kali marah juga judes sampai pasangan tidak tahan.

“Bisa juga karena pada dasarnya dia menikah dengan orang yang mirip pasangannya dulu, yang sebetulnya banyak ketidakcocokan dengannya namun tidak ia sadari,” tambah Nina Teguh. Contohnya, dulu ia menikahi orang yang sangat boros, lalu bercerai. Lalu tertarik dengan pasangan baru yang gayanya spektakuler, namun setelah menikah ternyata baru tahu bahwa si pasangan baru juga sangat boros. “Jadi intinya, betul-betul lakukan evaluasi dari pernikahan sebelumnya. Karena ini biasanya alasan yang umum terjadi,” lanjut Nina Teguh.

Alasan yang juga banyak terjadi adalah karena pernikahan yang baru tidak betul-betul dipersiapkan, sehingga ternyata ada begitu banyak ketidakcocokan yang terjadi dan baru disadari setelah menikah. Ini juga sering terjadi pada pernikahan yang diawali dengan hubungan seks sebelum menikah, mengira bahwa mereka betul-betul saling mencintai, tapi ternyata lebih karena nafsu.

Nggak ada yang menginginkan pernikahannya mengalami perceraian, apalagi jika lantas ada perceraian kedua, ketiga dan selanjutnya. That’s why, bagi mommies yang mungkin ingin menikah kembali, pastikan bahwa kali ini Anda memilih orang yang memang benar-benar tepat. Tak semata untuk diri pribadi, tapi juga untuk si kecil.


Post Comment