Motherhood Monday: Lucy Akmaltalia, Mengenalkan Warisan Budaya Lewat Swans Twenty

Swans Twenty merupakan produk buatan Indonesia yang mengusung spirit traditional touch of modern Indonesia. Koleksinya selalu menggunakan material kain tradisional dirancang modern dengan cutting yang sederhana.

Siapa di antara Mommies yang senang menggunakan produk lokal dengan sentuhan tradisioanal Indonesia? Saya sendiri bisa dibilang pengagum kain-kain tradisional, seperti batik, tenun, atau songket. Setiap melihat produk yang menggunakan material kain-kain tradisional seperti ini, mata saya langsung ‘hijau’. Bawaannya selalu mau dibeli, hahaha. Salah satu produk yang sering menggoda saya adalah Swans Twenty.

Belum lama ini saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan ibu dari D. Rizky Bimo Hartono (16 tahun) dan Raina Vannaty Putri Ernawan (14 tahun) di kediamannya di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Waktu itu, perempuan yang berlatar belakang Marketing ini banyak bercerita mengenai bisnis yang ia rintis dari tahun 2013 ini. Ternyata untuk urusan desain, Lucy mempercayakannya pada desainer muda, Sofia Sari Dewi peraih juara 3 ajang Citilink Designer Challenge.
lucy1

Ketika Indonesian Fashion Week 2015 dilangsungkan beberapa waktu lalu, produk Swans Twenty juga sempat mengikuti ajang fashion terbesar di Indonesia ini. Waktu itu, Sofie berkolaborasi bersama desainer muda lainnya, Mega Jannaty membuat koleksi busana dengan tema “Transformasi Fashion”, yaitu busana yang dapat digunakan pada 2 kesempatan dengan 2 gaya berbeda.

Lucy Akmaltalia, selalu pemilik brand Swans Twenty mengaku bahwa tujuannya mendirikan rumah busana Swans Twenty tidak semata-mata hanya karena ingin mengeruk keuntungan. Ia bermimpi fashion lokal  yang menggunakan material kain tradisional bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Dari sekian banyaknya peluang usaha yang ada, mengapa tertarik membuka usaha di industri fashion yang menggunakan bahan tradisional Indonesia seperti batik dan tenun?

Beberapa tahun belakangan ini, saya melihat indsutri fashion memang berkembang dengan pesat, dari sana makanya saya berpikir untuk membuat sebuah perusaahan yang bergerak di industri fashion dan E-commerce. Selain itu tentunya ingin mengenalkan budaya khususnya kain tradisional Indonesia ke luar negeri.

Ada alasan tersendiri mengapa memilih memasarkan produk lewat e-commerce?

Nggak bisa dipungkiri, ya, kalau masyarakat kita saat ini lebih senang dengan sesuatu yang praktis dan cepat. Dengan menjual produk di E-commerce, masyarakat akan lebih mudah mendapatkan produk kami tanpa perlu repot kena macet. Lagi pula pemasaran pun lebih mudah menjangkau pasar yang cukup luas. Kedepannya saya juga ingin Swans Twenty menjadi wadah untuk memasarkan produk lokal yang menggunakan bahan material kain tradisional.  Kami ingin membuka peluang dengan mengajak brand yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kami.

Jadi ke depannya Swans Twenty ingin menjadi E-commerce?

Iya, ini salah satu tujuan yang ingin kami capai beberapa tahun mendatang. Saat ini E-Commerce memang sudah banyak sekali, namun rasanya yang mengkhususkan menjual produk lokal dengan sentuhan tradisonal masih jarang. Bahkan belum ada. Kami ingin menyuguhkan kain tradisonal dengan produk yang lebih modern.

Saat ini pemasaran Swans Twenty sudah sampai negara mana saja?

Selain di Indonesia, koleksi kami diminati mancanegara seperti Malaysia, Brunei, Hongkong, dan Australia.