Pernikahan Kedua

Ditulis oleh: Kurnia Midiasih

Pernikahan kedua memang bukan perkara mudah. Mesti banyak yang dipertimbangkan dan dipersiapkan. Apalagi jika ada trauma masa lalu. Apa saja yang harus dipersiapkan?

Tingginya tingkat perceraian yang diakibatkan banyak hal  membuat tak sedikit teman-teman di lingkungan saya menjadi single parents. Seorang teman yang bercerai berkata bahwa dia tidak mau menikah lagi. Alasannya sederhana, kapok. Wajar, suaminya dulu sangat dominan dan nyaris tak memberinya pilihan apapun dalam semua keputusan keluarga. Namun kemudian, dia bertemu seorang pria, lalu menikah lagi. Namun sayangnya, pernikahan kedua juga berujung pada perceraian. Apa yang menjadi penyebabnya?

Psikolog Anna Surti Ariani mengingatkan, hal terpenting sebelum memutuskan menikah lagi adalah memaafkan berbagai trauma yang timbul dari perkawinan sebelumnya. “Bagian memaafkan trauma ini termasuk bagian tersulit yang sering dilupakan mereka yang akan menikah lagi, sehingga kadang justru mengulangi kesalahan pada pernikahan sebelumnya,” jelasnya. Karena itu, mungkin itu juga yang membuat teman saya di atas akhirnya kembali gagal dalam pernikahannya. Dia terlalu paranoid dengan pernikahan sebelumnya sehingga berpengaruh pada pernikahan keduanya, membuat dirinya (dan suami keduanya!) merasa tidak bahagia, lalu memutuskan berpisah.

Lalu apa saja persiapan yang harus dilakukan sebelum menikah lagi selain persiapan diri dalam bentuk memaafkan masa lalu? Menurut Nina, ini dia beberapa hal yang harus dipersiapkan.

second-marriage-wedding-planning-questions__full

*Gambar dari sini

Persiapan terhadap pasangan

Intinya adalah mengenali pasangan lebih dalam. Ini mencakup antara lain kebiasaan baik dan buruk, emosi apa saja yang sering dia munculkan, bagaimana ketika dia marah atau sedih, apakah kita bisa menerimanya, apakah jika sama-sama marah bisa menyelesaikan masalah berdua,  apakah dia menerima anak Anda dan juga keluarga besar Anda, dan lain-lain.

Persiapan dengan keluarga besar

Ini masih soal mengenali pasangan namun lebih ke soal keluarga besarnya, yaitu mencakup antara lain hubungan antara satu sama lain, akrab atau tidak, lalu kira-kira apa masalah potensial yang mungkin muncul. Misalnya, apakah si calon pasangan harus menyetor sejumlah uang yang tidak sedikit untuk keluarganya setiap bulan, atau ada adik/keluarga pasangan yang harus tinggal bersama Anda berdua jika sudah menikah, dan lain-lain. Bisa juga kemungkinan masalah lain, seperti jika ada masalah antara Anda dengan keluarganya apakah kita bisa cerita ke pasangan atau pasangan jadi sensitif sekali jika Anda melapor tentang keluarganya, dan sebagainya.

Persiapan terhadap anak

Apakah anak Anda (dengan suami sebelumnya) bisa akrab dengan calon pasangan dan keluarga besarnya, apakah ada tanda-tanda penolakan dan kira-kira kenapa sebabnya, apakah perlu langkah-langkah pengamanan tertentu antara anak dengan calon pasangan, dan lain-lain. Sebaiknya, Anda dan calon pasangan menyepakati apa yang hendak disampaikan kepada anak(-anak) tentang diri masing-masing sehingga anak melihat ketulusan Anda berdua untuk menikah.

Persiapan dengan mantan

Pastikan apakah mantan suami Anda tidak mempermasalahkan jika Anda menikah lagi. Meski bukan haknya lagi, bagaimanapun jika dia tidak setuju bisa jadi akan mengganggu bahkan meneror, dan beberapa kasus mempertanyakan lagi hak asuh. Pastikan seberapa terlibat kelak mantan suami dengan keluarga baru Anda dan bagaimana hubungan antara mantan suami dengan calon pasangan.

Persiapan dengan keluarga mantan

Apakah perlu? Ya, Nina mengatakan hal ini juga perlu. Misalnya, mengenalkan calon pasangan dengan keluarga mantan, juga mengecek seberapa jauh keluarga akan terlibat dalam keluarga baru ini. Hal ini dilakukan karena terkadang muncul masalah untuk anak dalam pernikahan kembali, misalnya hubungan antara anak dan keluarga besar ayah (yang tidak mendapat hak asuh) menjadi buruk dan ini bisa memicu masalah antara Anda dan mantan suami.

Secara khusus, Nina juga menambahkan catatan mengenai anak Anda karena anak-anak mungkin akan lebih sensitif mengenai hal ini. “Jangan langsung ngomong,” tegasnya. Jangan terburu-buru. Anda bisa kenalkan saja dulu ke anak, dan ini butuh waktu. Bukan kenal sejak awal Anda “jadian”, tapi saat Anda berdua merasa lebih cocok, baru kenalkan calon pasangan pada anak. Tentu saja atas persetujuan calon pasangan juga.

“Bisa berulangkali jalan bersama atau ngobrol bareng, dan cek bagaimana reaksi anak, juga reaksi pasangan terhadap anak. Jangan puas dengan jalan sekali, karena bisa saja di momen-momen berikutnya baru muncul masalah laten,” lanjut Nina yang menjelaskan bahwa cara di atas bisa diterapkan di semua usia anak.

Jika anak usia SD (karena seringkali remarriage terjadi ketika anak berusia sekitar 6-12 tahun), maka jika ternyata keduanya sudah akrab, baru Anda bisa kemukakan bahwa pria tersebut nanti akan menikah dengan Anda dan tinggal bersama Anda dan anak-anak sebagai satu keluarga. Sebutkan bahwa dia (anak Anda) tetap bisa berhubungan baik dengan ayahnya, masih boleh bertemu bersama, dan bahkan dia beruntung karena yang menyayanginya jadi lebih banyak.

Nah, itu tadi hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum Anda memutuskan untuk menikah lagi. Semoga sukses, ya!