Pentingnya Hari Pertama Sekolah

Kegiatan mengantar anak sekolah di hari pertama tahun ajaran baru biasanya sudah menjadi kewajiban kita para orangtua. Ternyata, kegiatan yang kesannya sederhana dan ‘sepele’ itu memiliki banyak manfaat baik bagi si kecil maupun kita sebagai orangtua.

Sebelum Kemendikbud mengeluarkan anjuran atau campaign mengenai pentingnya mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama masuk sekolah, saya yakin banyak dari kita para mommies yang sudah menerapkan hal itu. Iya nggak? Bagi saya sendiri, momen saat anak saya pertama kali masuk TK atau masuk SD menjadi momen yang penting, karena ibaratnya saya melepas mereka ke dunia baru yang belum mereka kenal.

Anggaplah saya lebay atau mungkin cengeng, tapi melihat si bayi mungil tahu-tahu sudah mengenakan seragam TK, hati saya mencelos. Kemudian, saat lulus TK dan masuk ke SD, melihatnya mengenakan seragam SD, kemudian masuk ke lingkungan sekolah yang jauuuuh lebih luas dari TK tempat mereka belajar dulu, lagi-lagi saya sedih. Time flies soooooo faaaaast. Jadi, salah satu cara membuat hati saya nggak galau-galau amat ya dengan mengantarkan mereka ke sekolah di hari pertama, menunggu sampai selesai dan sibuk membombardir mereka dengan pertanyaan mengenai pengalaman di hari pertama sekolah.

kid2 (1)

*Gambar dari sini

Dengan ikut serta di hari pertama, saya merasa lebih nyaman karena saya jadi tahu siapa guru kelasnya, bagaimana perilaku teman-temannya secara selintas dan bagaimana anak saya berinteraksi dengan teman maupun gurunya. Kadang saya berpikir, kayaknya saya deh sebagai orangtua yang lebih khawatir kalau si kecil kenapa-kenapa. Anaknya mah, terlihat lebih santai dibanding saya, hahaha.

Tahun ini, Djati, anak bungsu saya mulai memasuki dunia Sekolah Dasar. Hari pertamanya jatuh pada Rabu lusa, tanggal 29 Juli 2015. Dan mengantarkan dia ke sekolah sudah pasti ada di dalam jadwal saya untuk hari itu.

Sebelum libur Lebaran kemarin, saya bersama Hanzky berkesempatan ikut meeting dengan tim dari Kemendikbud. Dan ternyata, topik bahasannya seperti sudah saya bahas di atas adalah anjuran untuk para orangtua mengantarkan anak di hari pertama sekolah. Campaign dari Kemendikbud ini menarik karena mereka bertanya pada para pakar di bidang pendidikan dan juga psikolog.

Well, bisa dibilang sekolah ada Rumah Kedua bagi anak-anak kita. Anak-anak menghabiskan 1/3 waktunya dalam sehari dengan berada di sekolah. Ada wajah masa depan anak-anak kita di sekolah, jadi mengenal dengan lebih baik si Rumah Kedua tentu saja penting. Dari sekian banyak hari yang dihabiskan di sekolah, kenapa juga harus hari pertama? Kan bisa saja kita mengantarnya besok-besok.

Coba bayangkan, saat kita kecil dulu, memasuki dunia baru yang ramai dan belum familiar, pasti kita merasa percaya diri dan tenang kalau kita tahu ada yang mendukung kita kan? Sama halnya dengan anak-anak sekarang. Saya pernah bertanya sama Bagus dan Djati, apakah mereka senang diantar mama dan ayahnya saat pertama kali masuk sekolah? Jawaban mereka “Senang banget.  Aku jadi nggak bingung kalau ada mama sama ayah,”  jawab mereka dengan mata berbinar.  Akan berbeda ‘sensasi’ nya kalau mereka diantar setelah hari kesekian. Mengantar anak ke sekolah juga merupakan kesempatan untuk membangung hubungan positif antara lingkungan pendidikan di rumah dan sekolah. Mengantar bukan sekadar antar sampai gerbang sekolah kemudian dadah dadah pulang, tapi berarti menemani dan berinteraksi.

Jadi, apa sih yang bisa kita lakukan di hari pertama sekolah?

  • Ajak anak untuk menyapa teman-teman barunya
  • Melihat lingkungan sekolah bersama
  • Menyapa wali kelasnya
  • Berkenalan dengan ibu kantin atau bahkan bapak satpam
  • Jangan lupa berkenalan dengan orangtua murid yang lain

Saat semua pelaku pendidikan melakukan perannya, maka Rumah Kedua pun akan terasa menyenangkan.

Baik orangtua, guru, warga sekitar lingkungan sekolah hingga si kecil selaku murid pun bisa melakukan beberapa hal untuk membuat suasana belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan, lho!

Untuk orangtua bisa melakukan ini: Mengantar anak ke sekolah, berkenalan dengan wali kelas, kepala sekolah dan staff pembantu di sekolah, bertukar kontak dengan wali kelas serta sesama orangtua. Saya pribadi menyimpan nomor telepon pak Satpam di sekolah anak saya, untuk berjaga-jaga. Saya juga senang bercerita tentang karakter anak saya sehingga ini bisa menjadi ‘alat bantu’ untuk wali kelasnya mengajar anak-anak saya. Minimal, wali kelas jadi tahu sifat dan perilaku anak-anak saya.

Untuk guru bisa melakukan ini: Menyambut siswa dan orangtua, berkenalan dan bertukar kontak dengan orantua murid, menjelaskan program belajar untuk satu tahun kedepan, bertanya tentang karakter dan potensi anak, membangung komunikasi rutin dengan orangtua.

Si kecil sendiri sebagai murid bisa mengajak orangtua untuk berkeliling sekolah, dan rutin menceritakan kegiatan di sekolah setiap hari.

Jadi bagaimana pengalaman mommies di hari pertama si kecil bersekolah?


Post Comment