Jangan Lakukan Ini Saat di Mall (Please…)

Ada etika di tempat umum seperti mall atau pusat perbelanjaan yang perlu kita pahami  agar sikap kita tidak membuat pengunjung lain menjadi tidak nyaman.

Libur sekolah yang menjadi satu paket dengan libur Lebaran membuat kedua anak saya mengalami periode libur selama satu bulan lebih. Awal liburan, cita-cita mulia sang mama alias saya  masih berjalan dengan baik dan lancar. Membuat aktivitas di rumah (checked), mengajak ke museum (checked), memastikan mereka bermain di luar ruang (checked), dan sejuta destinasi lain yang kesannya ‘mendidik’. Tapiii, masuk ke minggu terakhir, mama sudah habis ide, maka melangkahkan kaki ke mall menjadi pilihan, hehehe. Dan, sama seperti saya, pasti banyak mommies juga melakukan hal yang sama (eh, loh kok malah mencari teman :p). Dan, saya ingin berbagi pengalaman mengenai serunya melihat (atau dipaksa melihat) tingkah laku para pengunjung mall yang tak jarang membuat  saya kesal. Karena sesungguhnya ada etika di tempat umum. Here the lists…

  1. Anak kecil bersepatu roda

Sering lihat kan anak-anak kecil berseliweran di mall dengan menggunakan sepatu yang ada rodanya itu? Semacam roda tambahan. Saya nggak tahu namanya apa, tapi saya memutuskan untuk menyebutnya dengan sepatu roda. Bagi saya, membiarkan anak kecil menggunakan sepatu roda dan asik ‘berjalan’ cepat di area mall yang notabene bukan area yang dikhususkan untuk pengguna sepatu roda itu sama saja mengancam keselamatan pengunjung lain.

Bayangkan jika si anak tidak sengaja menabrak orangtua atau lansia yang sedang berjalan? Atau, seperti pengalaman saya dulu, lagi asik membawa mangkuk panas di area food court, tiba-tiba ada anak nyaris menabrak saya karena dia belum canggih mengenakan sepatu roda itu. Kebayang kalau mangkuk berisi kuah panas jatuh dan menyiram orang di sekitar?

Jangan atas nama sayang anak terus jadi egois sama keselamatan orang lain dong. Ajak anak melampiaskan hasrat bermain sepatu roda di tempat-tempat yang memang semestinya. Jelaskan juga bahayanya jika ia tetap ngotot ingin pergi ke mall dengan sepatu roda.

2414348042_bc586448f8

*Gambar dari sini

  1. Restoran bukan tempat ganti

Mantan atasan saya pernah bercerita bagaimana ia kehilangan nafsu makan setelah seorang ibu di sebelah mejanya asik mengganti  pospak bayinya yang berisi….. pup.

Iya, memang masih bayi, asupan makanannya mungkin belum seheboh kita orang dewasa. Tapi, yang namanya kotoran ya tetap saja kotoran. Tetap tidak nyaman kan saat kita bersiap menyantap hidangan favorit kemudian kita melihat kotoran atau mencium aroma tidak enak.

Lagipula, tidak semua orang dewasa terbiasa dengan urusan ‘dapur’ seperti itu. Mungkin kita sebagai orangtua tingkat pemaklumannya terhadap kondisi seperti itu besar, tapi pengunjung mall kan tidak semuanya pernah menjadi orangtua. Coba usaha sedikit, cari changing room atau ke toilet terdekat.

  1. Jangan egois menggunakan stroller

Mengajak bayi ke mall tentu saja tidak salah. Meletakkannya di stroller juga tidak salah. Tapi, jangan lantas stroller yang kita bawa membuat orang lain terganggu kenyamanannya. Misal, saat makan di restoran, stroller kita membuat orang yang duduk di belakang stroller jadi sulit memajukan atau memundurkan kursinya.

Jadi, tidak ada salahnya meminta petugas restoran mencarikan tempat duduk yang sedikit di pojok sehingga stroller Anda tidak menganggu tamu lain. Atau jika si kecil sudah bisa duduk sendiri, lipat saja stroller untuk sementara dan titipkan di area kasir, misalnya.

  1. Pencet-pencet angka di lift

Yes, si kecil baru saja mengenal angka dan mulai belajar berhitung. Jadi setiap kali melihat angka dia sangat bersemangat. Kemudian, saat masuk lift, dia tekan semua angka di lift. Bayangkan jika saat itu ada orang yang sedang terburu-buru, dan harus menahan sabar karena di setiap lantai lift harus berhenti. Mungkin memang nggak lama dan lantai mall di Indonesia paling berapa lantai sih maksimal? Tapi tak ada salahnya mengingatkan si kecil sejak awal untuk tidak menekan tombol angka ketika berada di dalam lift.

6a00e5538eb49b88340192acb273c8970d-500wi

*Gambar dari sini

  1. Fitting room bukan area bermain

Pernah nggak sedang asyik coba-coba baju kemudian ada anak yang mendadak menjulurkan kepalanya dari bawah pintu? Saya berbicara tentang ruang ganti dengan pintu yang tidak full hingga ke lantai. Asli rasanya kaget dan juga kesal. Iya, yang ‘mengintip’ memang anak kecil, tapi tetap saja kesal. Ternyata si anak sedang bermain petak umpat dengan saudaranya. Atau, kakak saya yang sempat bete karena lagi mencoba baju kemudian pintunya digedor kencang-kencang oleh seorang anak sambil berteriak-teriak. Saat kakak saya keluar, sang ibu hanya tersenyum manis sambil berucap “Maaf ya, namanya juga anak kecil.” Well, anak kecil kan juga harus diajarkan tata krama di tempat umum.

Saya sendiri selalu mengajarkan ke anak-anak saya tentang apa itu ruang ganti, kegiatan apa yang dilakukan orang di situ. Dan, jika saya hanya pergi bertiga dengan anak-anak tanpa orang dewasa lain, kemudian saya ingin mencoba baju, saya akan meminta anak-anak saya menunggu persis di depan kamar ganti saya. Saya juga meminta mereka untuk tidak pergi ke mana-mana.

Atau, kalau misalnya mereka sedang asyik dengan ayahnya kemudian ingin menyusul saya ke ruang ganti, saya meminta mereka untuk berbicara dengan volume cukup kencang “Ma, ini Bagus (atau Djati), mama di mana?” Jadi saya bisa segera menjawab dan mereka nggak perlu mengetuk setiap pintu yang tertutup.

Sebenarnya semua daftar di atas tidak hanya saat pergi ke mall saja sih. Intinya, jangan sampai saat bepergian ke tempat umum kemudian kita abai terhadap kenyamanan pengunjung lain. Kita memang punya hak di tempat itu, tapi sejuta pengunjung lain juga punya hak untuk merasa nyaman :). Itu namanya etika di tempat umum.

Kalau mommies, sikap apa yang membuat mommies gregetan? Boleh tambahkan di sini.


6 Comments - Write a Comment

  1. Satu hal paling mengganggu yang pernah terjadi ke gue adalah perjalanan pulang dinas, dalam keadaan capeeee banget lahir batin, naik pesawat terakhir dan anak di belakang gue sibuk tendang2 kursi, teriak2, dan berakhir dengan… muntah, baunya breng kemana2. Jadi gue menahan kondisi ditendangin dan bau muntah itu selama penerbangan 2.5 jam. Muntahnya okelah, gak bisa diapa2in ya…. tapi ortunya tidak sekali pun melarang anak itu teriak2 dan tendang2. Kalo aja itu Metromini, gue akan turun di tengah jalan…. Mau negor ortunya, kayaknya bisa berantem di pesawat, trus takut nanti gue ditangkep Air Marshall (btw ada nggak sih Air Marshall di Indonesia?)

    Makasih Fia yang adalah seorang ibu udah nulis artikel ini, karena hal2 seperti ini ganggu banget kalo dilakukan anak2 di tempat umum sementara sering para ortu menganggap hal2 tersebut biasa aja seakan2 seluruh dunia harus mentolerir kelakuan anak2 mereka (yang seharusnya adalah tanggung jawab ortunya). Sebagai seorang perempuan yang masih belum mempunyai anak, kalo gue mengomentari hal2 seperti ini pasti dijawab “ah biasa namanya anak2, nanti juga kalo elo punya anak akan bikin gini juga” :(

    1. Haaah pasti nggak nyaman banget yah di sepanjang penerbangan itu. Sama kayak gw nonton bioskop terus anak kecil di belakang nendang2 terus. Jadinya ujung2-nya negur ortunya deh :D. Sebelum punya anak gw juga pernah diomongin gitu Re, tapi kok gw dulu malah makin berusaha supaya bisa ngajarin anak2 gw sopan santun. Minimal mengurangi kegenggesan mereka.

      Thankyou komennya ya :)

  2. Gw tambahin ya Fia,…..

    1. Makan di dalam area playground
    2. Berbicara atau menangis ketika film diputar di bioskop
    3.Berlari – lari di dalam mall
    4. Makan es krim dan meninggalkan bekas wadah makanannya tanpa buang ke tempat sampah, lengket

  3. Bener bngtttt itu yg masuk2in kepala ke fitting room .. Wah sempat tuh anak cowo umur 7 thn an tau2 aja kepalanya nongol dari bawa pintu. Untung gw udh berpakaian lengkap.. Jujur bngt pengen gw injek aja kepalanya. Ngak sopan bngt. Gw buka pintu, enyaknya cuek aja ngak ada minta maaf ataupun negur

    Gw jg ngak demen sama anak yg jerit2 guling2 minta barang ke ortunya. Nah yg ini jg gw kasian sama ortunya yg malu jadi tontonan. Menurut gw kudu tegas ya, kalo sekalinya ortu nurut .. Jadi kebiasaan nanti si anak beguling2 demi sepotong mainan

Post Comment