Trik Mengurangi “Drama” Anak Saat Kembali ke Sekolah

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Libur panjang selesai, waktunya anak-anak kembali ke sekolah. Nah, bersiap deh dengan drama yang akan terjadi karena mereka sudah keasyikan libur.

PR terbesar bagi saya sehabis liburan panjang sekolah anak-anak adalah, mengembalikan ke rutinitas awal seperti sebelum liburan. Namanya juga liburan, saya biasanya memberikan banyak kelonggaran dari rutinitas sekolah, seperti tidur lebih malam dan bangun lebih siang, jam makan yang mundur karena banyak camilan di saat jalan-jalan, dapat berleha-leha nonton film sepanjang hari tanpa batasan, mandi cukup (ehm) 1 kali sehari, liburan di rumah oma sehingga membentuk rutinias baru dan pola makan baru, dan banyak lagi cuti dari kegiatan rutin.

Dampaknya ketika sudah tiba waktu masuk sekolah, mereka menolak untuk tidur di jam biasanya lalu malas bangun pagi, di sekolah ngantuk dan cranky, pulang sekolah saat mau buat PR tidak mau, lebih memilih menonton TV dan banyak lagi efeknya. Kebayang kan drama serta pusing dan stresnya saya menghadapi perubahan ini?

School_Girl

*Gambar dari sini

Anak-anak tidak berbeda seperti kita orang dewasa, kita pun juga akan melewati fase “kaget” saat mengubah rutinitas. Tidak usah liburan panjang sekolah, dari weekend menghadapi hari Senin saja rasanya badan sudah berat untuk bangun pagi. Bedanya kita sudah jauh lebih advance untuk bisa mengatasi mood, walaupun tanpa kita sadari mungkin setiap hari Senin kita juga sedikit moody, jutek atau kurang semangat.

Tapi tenang, anak-anak dan Anda masih tetap dapat menikmati kelonggaran saat liburan, kok! Risiko “drama” setelah liburan juga dapat berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali apabila Anda mencoba trik yang selalu saya selalu lakukan selama liburan. Works with my kids, hope it works with yours!

  • Hanya memberi kelonggaran tidur malam maksimal 1 jam lebih lama. Normalnya, anak-anak saya biasa tidur jam 8 malam saat tidak tidur siang, jam 9 malam apabila tidur siang. Dan saat liburan, waktu yang sama saya tetapkan namun lebih longgar 1 jam lebih lama (kecuali saat tidak tidur siang), anak-anak dapat tidur maksimal jam 10 malam. Tidak ada tawar menawar, jadi semua kegiatan liburan ya konsisten dilakukan pagi dan siang. Tidak ada judulnya nonton film mengambil jadwal malam, atau jalan-jalan dimulai baru sore hari. Kalaupun malam ada jadwal, jam 10 mereka tetap harus tidur. Anda tidak akan terlalu sulit untuk mengubahnya ke jadwal normal, karena “jetlag” tidak terlalu jauh perbedaan waktunya.
  • No snacks or treat before main meal. Godaan saat jalan-jalan ketika liburan pasti salah satunya adalah mencicipi makanan-makanan favorit atau yang unik. Boleh banget memberikan treats, tapi semua itu harus sesudah main meal (sarapan, makan siang dan makan malam) atau di antara makan siang dan malam. Dan pada setiap main meal sudah jelas saya memilih makanan yang bergizi tinggi (buah/sayur), jangan pernah menggantikan main meal dengan snacks dan treat. Hanya kentang goreng, roti cokelat atau kue tidak akan memenuhi gizi anak. Buat perjanjian dengan anak saat sudah makan sehat baru boleh pilih jajanan. Jadi saat mulai sampai akhir liburan, anak tahu pasti apabila makanan dia tetap sama dan memang yang harus dia makan ya makanan tersebut sebagai menu utama.
  • TV time is after activities time. Kalau liburan tidak ada rencana apa-apa selain di rumah saja, maka tetap berlakukan jam untuk anak-anak yang hampir sama dengan jam sekolah tapi menggantikan kegiatan sekolah dengan kegiatan di rumah. Misalnya, sehabis sarapan anak-anak harus beraktivitas di luar seperti bersepeda sehabis itu membersihkan sepeda atau membantu menyiram tanaman, dan sebagainya. Setelah makan siang anak-anak membaca buku atau art and craft baru boleh menonton TV atau main Ipad selama waktu yang ditentukan. Kalau bingung mau ngapain di rumah ikuti berbagai program liburan. Karena membiarkan mereka nonton TV seharian tidak membuatnya beraktivitas lain sama sekali, pasti akan berpengaruh pada jam tidur malam yang akan molor. Karena energinya tersimpan saat nonton TV dan baru aktif saat sore atau malam hari (Noo!).
  • Tell them it’s a holiday. Ingatkan pada si anak, kalau perlu setiap hari, bahwa hari ini hari libur, jadi jadwal mereka berbeda, nanti saat masuk sekolah tidak seperti ini. Ucapan ini akan melekat pada mereka dan pada saat menjelang masuk sekolah si anak sudah akan siap-siap menjalani rutinitas normalnya. Jangan baru semalam sebelum masuk sekolah mengucapkannya ya moms, karena anak-anak masih butuh “daily alarm”.
  • Learning by playing. Kita sudah pasti mengetahui apa saja yang dipelajari anak-anak selama ini, saat liburan sesekali masukan unsur edukasi yang pernah diajarkan di sekolah, sehingga mereka tidak merasa sekolah asing bagi mereka saat liburan berakhir, entah itu di kegiatan di rumah atau saat liburan ke luar. Contoh; yang terakhir anak saya pelajari di sekolah adalah mempelajari living and non-living things. Saya dan suami bertanya pada saat di taman mana yang termasuk living things dan mana yang non-living things, dan kenapa ia memilih itu. Mudah, kan?

Happy back to school kids!

 


Post Comment