Sombong Bersocial Media Boleh, Kok

Maraknya berita penculikan anak hingga disalahgunakannya foto-foto bayi oleh salah satu akun di social media yang tidak bertanggung jawab membuat saya berpikir untuk mulai ‘sombong’ dalam bersocial media.

Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat dibuat heboh dengan salah satu akun Instagram yang mengaku memberi pelayanan jual beli bayi. Iya, bayi sungguhan, bukan boneka berwujud bayi. Dan, ternyata, foto-foto bayi yang ada di akun tersebut adalah bayi milik orang lain yang main dicomot dari akun si ibu kandungnya. Apakah benar si ibu kandung menjual bayi? Tentu saja tidak.

Entah apa maksud si pembuat akun tersebut, serius atau sekadar candaan, tapi yang jelas bagi saya pribadi, tindakan seperti itu sama sekali tidak layak masuk ke dalam kategori bercanda. Dari sini saya juga melihat bahwa tidak semua orang dikaruniai kecerdasan dan rasa kemanusiaan untuk bermain di ranah social media.

Saya ingat, awal-awal Facebook booming, kemudian disusul Twitter, lanjut Path, Instagram, Pinterest, dan semakin banyak lagi social media lainnya, saya sempat dianggap sok, belagu dan pillih-pilih sama teman-teman yang tidak terlalu dekat dengan saya (Iya, sudahlah nggak terlalu dekat, terus asik memberi ‘stempel’ ke diri saya. Dih, suka heran sama orang-orang seperti itu, hehehe). Apa yang membuat saya dicap demikian?

social-networking

*Gambar dari sini

Kalau di awal memiliki akun social media, teman-teman saya berlomba memiliki teman sebanyak mungkin, saya malah kebalikannya. Awal bermain, saya lagi norak-noraknya, semua ditulis, semua di-upload (termasuk beratus-ratus foto anak-anak). Akibatnya, saya malah jadi benar-benar membatasi pertemanan di dunia maya. Akun saya kunci dan hanya orang yang saya kenal dan cukup dekat dengan saya yang saya approve untuk berteman. Alasannya lebih kepada faktor kenyamanan saja, sih. Saya jadi merasa bebas menulis apapun atau meng-upload apa saja.

Tapi, saat ini saya tidak lagi mengunci akun saya. Mungkin juga karena euphorianya sudah lewat, saya sudah lebih berhati-hati dalam menulis status atau memasukkan foto. Namun, jika ada permintaan pertemanan, saya tetap ‘menyelidiki’ dulu latar belakang akun terssebut. Dibilang sombong di dunia maya? Saya tidak terlalu peduli! Kalau standar sombong atau tidaknya hanya berdasarkan akun yang dikunci atau tidak, atau apakah permohonan pertemanan diterima atau tidak, ya buat apa saya pusing.

Saya juga tidak pernah suka mencantumkan lokasi sedang berada di mana, terutama jika sedang bepergian dengan anak-anak saya. Bukannya mau sok rahasia, tapi saya ‘kan tidak tahu siapa yang sedang mengamati akun saya, atau apa niatnya membuka-buka akun saya. Terlebih dengan maraknya berita penculikan anak. Biasanya kalau sedang berlibur pun, akan saya siasati dengan meng-upload foto-foto tersebut tanpa keterangan lokasi atau saya upload beberapa jam setelahnya atau bahkan beberapa hari setelahnya.

Rutin memeriksa akun social media juga sering saya lakukan. Biasanya, saat sedang senggang, saya suka cek lagi siapa saja yang menjadi teman saya. Kalau kira-kira saya sama sekali tidak kenal, ya akan saya hapus. Atau jika isi postingannya sangat menganggu dan membuat saya tidak nyaman, juga akan saya hapus.

Social media memang hadir untuk wadah kita seru-seruan bersosialisasi di dunia maya, mendapat banyak informasi, bahkan tak jarang dari sini kita jadi memiliki teman baru atau bahkan mendapat tawaran pekerjaan dan bertemu dengan klien. Namun, mengingat bahwa social media juga rentan dengan kejahatan, rasa-rasanya dibutuhkan kecerdasan dari diri kita sendiri, kalau nyatanya kita tidak bisa berharap pada orang lain.


Post Comment