Anak Bermain Ke Rumah Teman? Ada Aturannya.

Meskipun statusnya sebagai tamu cilik, tapi penting mengajarkan si kecil apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan saat ia bermain ke rumah temannya yang terhitung tetangga di lingkungan rumah.

Tulisan ini saya buat setelah sekian lama saya memerhatikan beberapa kebiasaan anak-anak kecil di lingkungan rumah yang kerap bermain ke rumah kami di saat weekend. Ada beberapa kebiasaan yang kalau dibiarkan terus seperti itu akan mengganggu penghuni rumah yang dikunjungi. Menurut saya, bukan salah si anak sih, karena bagaimanapun melihat kisaran usia mereka (sekitar 5-8 tahun) mereka belum terlalu paham unggah ungguh ketika bermain ke rumah teman. Harusnya nih, si orangtualah yang perlu mengajarkan.

Ini yang saya terapkan kepada anak-anak saya. Intinya, saya hanya mencegah jangan sampai kehadiran anak-anak saya yang sebenarnya ingin bermain di rumah temannya malah menciptakan ketidaknyamanan.

zrb-pg3-sun-shining-houses

*Gambar dari sini

Rule No 1: Perhatikan waktu bermain

Beberapa anak hobi banget datang ke rumah kami sekitar jam 6.30 atau jam 07.00 PAGI di HARI SABTU atau MINGGU. Bayangkan, saya dan suami bekerja senin – jumat, anak-anak saya sekolah juga senin – jumat, pastinya weekend saat tidak ada rencana kemana-mana minimal bolehlah kami bangun agak siang sedikit. Di lain sisi, saya jadi berpikir, orangtua dari anak-anak ini juga bekerja, di saat weekend memang mereka nggak mau ya bermain dengan anak-anaknya?

Buat saya, waktu paling aman adalah sekitar jam 09.00 atau 10.00 sampai jam 12.00 siang. Saat jam makan, saya mewajibkan anak-anak sudah harus kembali ke rumah. Karena saya tidak mau membuat pemilik rumah merasa direpotkan menyiapkan makanan untuk anak-anak saya. Iya kalau lagi ada masakan, lah kalau pemilik rumah lagi nggak masak, bagaimana?

Jadi saya suka heran kalau ada anak main ke rumah saya, dari pagi dan sampai jam 2 siang nggak dicari sama orangtuanya. Ya saya pasti nawarin dia untuk makan siang. Hanya heran saja sama orangtuanya membiarkan anak bermain selama itu tanpa memikirkan apakah si anak sudah makan siang atau belum.

Rule No 2: Anak sudah mandi dan sudah kenyang

Ini mengapa saya mengizinkan anak-anak kalau mau main ke rumah temannya sekitar jam 09.00 atau 10.00 pagi. Karena mereka ada waktu untuk mandi dulu dan sarapan dulu. Jadi secara tampilan juga sudah bersih dan perut sudah kenyang sehingga mereka tidak akan meminta makanan di rumah orang. Mungkin aturan yang ini dianggap berlebihan. Tapi karena sejak kecil saya terbiasa dididik oleh orangtua saya bahwa kalau keluar rumah harus bersih, jadi memang ini juga saya terapkan ke anak-anak.

Rule No 3: Jangan berteriak-teriak

Berteriak-teriak di sini bukan dalam konteks mereka sedang bermain bersama teman-temannya lalu saya larang untuk berteriak. Bukan itu. Tapi saat baru datang ke rumah temannya, saya membiasakan anak-anak saya untuk mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Bisa sesuai agama yang punya rumah atau cukup mengucapkan kata ‘Permisi” saja di depan pintu. Walaupun kadang-kadang mereka suka lupa juga dan tetap teriak manggil nama temannya, hehehe. At least saya selalu mengingatkan.

Beberapa teman anak-anak saya sering sekali berteriak dari luar pagar memanggil nama anak-anak saya. Masalahnya kalau saat itu sedang tidak ada penghuni rumah yang sakit mungkin bolehlah (sesekali), tapi kalau ada yang sedang sakit, dan siapa tahu saja sedang istirahat, kasihan kan terbangun karena suara anak berteriak-teriak.

Rule No 4: Jangan minta kecuali kalau ditawarkan

Salah seorang anak tetangga saya pernah main ke rumah saya dan berinistiatif sendiri untuk membuka kulkas  dan tudung saji di meja makan *__*. Dan, hubungan kami tidak seakrab yang Anda kira. Lalu meminta makanan yang ada di meja makan dan cake yang ada di dalam kulkas (saat itu tidak ada satupun dari anak-anak saya yang sedang makan). Kita bicara tentang anak usia 8 tahun ya di sini, bukan balita yang memang kadang suka tunjuk sana tunjuk sini.  Kalau anak-anak saya lagi tidak mau membawa botol minum sendiri, paling saya hanya mengizinkan mereka kalau haus minta air putih.

Sebaliknya, kalau ada temannya yang bermain ke rumah, dan anak-anak saya sedang ingin makan sesuatu, saya meminta anak-anak untuk menawarkan ke teman-temannya. Kan kasihan juga kalau anak saya asyik mengunyah kue cubit (kekinian sekali ya kan, hehehe) terus teman-temannya hanya melongo melihat.

Rule No 5: Informasikan pemilik rumah yang akan didatangi

Maraknya berita penculikan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak memang sukses membuat saya paranoid. Jadi, setiap kali anak-anak saya mau main ke rumah tetangga, kalau saya punya nomor telepon pemilik rumah, saya akan menelpon terlebih dulu menginformasikan bahwa Bagus dan Djati mau main ke rumah Panji (misalnya). Dengan menginformasikan terlebih dulu, saya jadi tahu ada siapa saja di rumah mereka, apakah ada orang dewasa yang mengawasi.

Kalau pemilik rumah tidak punya nomor telepon, saya akan meminta bibik (kami memanggil ART kami dengan sebutan Bibik) untuk mengantar anak-anak sampai tiba di rumah tetangga. Memastikan anak-anak sampai di rumah tujuan dengan selamat (Walaupun rumahnya hanya beda  5 rumah, hehehe) Memastikan ada siapa saja di rumah tersebut. Kalau saya tidak yakin, saya akan meminta si Bibik untuk ikut menemani. Kenapa bukan saya yang menemani? Nah, masalahnya saya bukan tipe ibu-ibu yang gemar nenangga. Apalagi kalau jam-jam segitu. Mending saya bersih-bersih di rumah. Lagipula kalau lagi main ke rumah temannya, anak-anak saya malas kalau ada saya, kebanyakan larangan kata mereka, hmmm.

Well, apakah saya yang seribet ini membuat aturan ketika anak (hanya) bermain ke rumah tetangga atau mommies juga melakukan hal yang sama? Share yuk mom.


Post Comment