Motherhood Monday : Cerita Meyta Retnayu Membangun Bisnis Kaynn & Persiapan Jadi Ibu

Pemilihan nama yang playful dengan karakter produk yang orisinal akan menjadikan sebuah brand lebih stand-out sehingga mampu ‘mencengkeram’ pasar. Hal inilah yang sudah dilakukan Meyta Retnayu sehingga berhasil membesarnya usahanya bernama ‘Kaynn’, usaha di bidang handcrafted bags and leather goods.

Bagi Mommies yang menyukai dan senang mengoleksi tas kulit buatan anak negeri mungkin sudah familiar dengan brand Kaynn. Saya sendiri sudah lama jadi penggemar tas buatan Meyta Retnayu ini. Alasannya tentu saja tidak terlepas karena kualitas serta desain model yang ditawarkan Kaynn begitu menggoda. Tidak percaya? Coba saja intip akun Instagram @meytanayu.

meyta

Perempuan asal Bandung ini mengakui kalau kekuatan produknya adalah simplicity in complexity. Meskipun desain yang ditampilkan sangat sederhana, namun pengerjaannya terbilang sulit. Hal ini dikarenakan semua pengerjaan yang handmade dengan proses desain yang cukup rumit. Tidak heran kalau produk buatan istri dari Mitchy Vilhat Riffandie ini sudah diekspor ke beberapa negara.

Meyta telah berhasil ‘menyulap’ bahan-bahan kulit kambing ataupun sapi menjadi produk fashion yang unik. Hebatnya lagi, untuk mengurangi gunungan sampah dari bahan kulit, ia pun memanfaatkan sisa kulit untuk dijadikan berbagai aksesori berukuran kecil, seperti dompet, gantungan kunci, gelang, dan sandal.

Mau tahu perjalanan perempuan yang tengah menanti kehadiran anak pertamanya ini dalam membangun kerajaan bisnisnya? Simak obrolan saya dengannya, di bawah ini, ya.

Ceritain dong awal mulanya membuka usaha Kaynn. Idenya dari mana, sih?

Awal mulanya, tahun 2009 lulus kuliah di FSRD ITB saya hijrah ke Bali untuk bekerja di suatu retail busana, setahun di sana saya melihat banyak produk kulit. Jadi tertarik untuk coba-coba bikin sendiri karena sumber dayanya mendukung (tukang, dan bahan baku). Di samping itu saya merupakan penggemar tas kulit dibanding produk fashion lainnya, setelah berpikir panjang “Dari pada ngebesarin brand orang, mending saya merintis brand sendiri”. Lalu dari sana awal mulanya, saya build di Bali. Intinya dimulai dari kegemaran mengumpulkan tas dan coba untuk membuat untuk diri sendiri.

Kenapa memilih nama Kaynn?

Kaynn sendiri sebenarnya tidak ada artinya, spontan saja di kepala karena mungkin hampir setiap hari saya berhubungan dengan material kain baik semasa kuliah (kriya tekstil ITB) maupun bekerja ketika fresh graduate. Hanya ingin abstrak jadi penulisannya diubah biar rancu.

Sebelumnya memang sudah pernah ada pengalaman bekerja di industri fashion?

Yup, karena saya sempat bekerja di retail busana “Biasa” di Bali. Dari sana banyak dapat pengalaman, lalu pondasi paling utama jelas ketika semasa kuliah saya di jurusan seni rupa ITB jurusan Kriya Tekstil di sana banyak belajar tentang desain, manajemen desain dan mendapatkan banyak link di dunia desain seni dan fashion, seperti pernah terlibat di beberapa event fashion Jakarta Fashion Week (JFW) atau Jakarta Fashion Food Festival (JFFF) dan lain lain.

Selanjutnya, Meyta bercerita mengenai strategi yang dilakukan dalam membangun kekuatan merek Kaynn.


Post Comment