Agar Balita Mau Potong Rambut

Urusan memotong rambut balita bisa menjadi drama tersendiri baik bagi orangtua maupun si anak, seperti pernah tertulis di artikel ini. Bagaimana cara mengurangi drama potong rambut?

Saat dua anak saya masih berumur di bawah tiga tahun, urusan membawa mereka potong rambut bisa menjadi kegiatan yang penuh rencana dan tantangan. Saya dan suami (bahkan kadang melibatkan eyang dan tante-tantenya) harus mengatur strategi kapan waktu yang tepat memboyong mereka, apa yang harus dilakukan kalau ternyata mereka malah ngotot nggak mau dipotong, dan kalau mereka menangis. Heboh ya.

naturally-curly-happy-toddler-2

*Gambar dari sini

Masalahnya, waktu masih kecil banget, Bagus memang pernah memiliki pengalaman yang buruk, yaitu kulit kepala di dekat telinga belakang terluka akibat alat cukur rambut si tukang cukur. Dan, trauma itu masih dia ingat sampai sekarang saat usianya sudah memasuki 8,5 tahun!

Anak-anak saya sendiri mulai senang dipotong dan bahkan meminta cukuran dengan model macam-macam saat sudah berusia lima tahun ke atas. Sebelum itu? Sudahlah, jangan ditanya. Nah, berikut beberapa tips yang sempat saya praktikkan kepada anak-anak saya.

1. Beritahukan akibat dari rambut yang terlalu panjang (kecuali kalau Anda memang ingin si kecil berambut gondrong ya)

Saya menjelaskan kepada mereka bahwa rambut yang terlalu panjang berarti menuntut mereka untuk rajin-rajin membersihkan dan keramas. Karena jika terkena keringat akan cepat beraroma asam.

2. Mengenalkan peralatan menggunting rambut

Saya tunjukkan ke mereka alat apa saja yang kira-kira akan dipakai, mulai dari cermin agar mereka bisa melihat model rambut saat dipotong, gunting hingga kursi. Beberapa kali sempat juga mengajak mereka menemani sang ayah ketika potong rambut. Minimal mereka sudah familiar dulu dengan suasana tempat potong rambut.

3. Potong rambut itu tidak sakit

Ini yang sempat menjadi pr karena mereka berpikir namanya anggota tubuh dipotong pasti akan terasa sakit. Saya merelakan sedikit ujung rambut saya dipotong oleh mereka agar mereka yakin bahwa memang benar-benar tidak sakit.

4. Pilih salon khusus anak

Belajar dari pengalaman Bagus yang sempat terluka karena alat cukur rambut, saya pun memutuskan untuk hanya mengajak anak potong rambut di salon khusus anak. Alasan pertama, karena seharusnya para hair stylist-nya sudah terbiasa menghadapi pelanggan anak-anak yang luar biasa polahnya. Kedua, suasana salon khusus anak tentu saja lebih menyenangkan karena baik pemilihan warna ataupun fasilitasnya memang ditujukan untuk anak-anak.

photo 1

Berbicara tentang salon khusus anak-anak, salah satu rekomendasi saya adalah Hair Pop yang baru saja resmi dibuka di Jl Kemang Timur Raya No. 74B, Jakarta Selatan. Salon dengan konsep feels like home ini menyediakan layanan potong rambut serta manicure, pedicure, nail art, bubble bath serta area playground. Hair Pop juga menyediakan toko kecil yang menjual barang-barang khusus anak-anak.

Untuk para orangtua yang mengantar, jangan takut merasa bosan karena Hair Pop juga memberikan layanan salon serta perawatan kuku untuk orangtua.

5. Alihkan perhatiannya

Sama seperti orang dewasa yang ketika merasa nerveous kemudian mencoba mengalihkan pikiran, maka anak kecil juga bisa dikondisikan seperti itu. Inilah salah satu alasan mengapa saya memilih salon khusus anak, karena biasanya mereka menyediakan tempat duduk beragam model, ada mobil-mobilan, pesawat-pesawatan hingga tempat duduk yang dilengkapi dengan TV serta DVD player atau permainan PS. Minimal saat proses potong rambut berjalan, anak tidak fokus pada rasa tidak nyamannya.

Nah bagaimana dengan pengalaman mommies ketika mengajak si kecil potong rambut?