Family Friday: Venita Daben –Resep Kue Ibu yang Mengantarkannya Sukses Berbisnis.

Berawal dari kecintaannya terhadap kue buatan sang Ibu, kini ia dan adiknya berhasil mendirikan Minilovebites.

IMG_8610

Selama ngobrol seru bersama Venita Daben, pendiri Minilovebites ini, decak kagum saya sulit untuk dihentikan. Bayangkan saja, bermodalkan oven yang ukurannya hanya sebesar kertas A4, dikerjakan hanya berdua, hingga sekarang sudah memiliki 25 karyawan. Kini ia dan adiknya, Ifa Daben, sudah mempunyai toko di Jalan Gunawarman dan mal Pacific Place, dan pernah melayani pesanan 2.700 cupcakes dari sebuah Bank Swasta. Tak hanya itu, jangkauan layanan pesan antar Minilovebites sudah merambah ke seluruh Jakarta.

Bagi Mommies yang ingin memulai bisnis kue rumahan, silahkan disimak petikan wawancara kami dengan Venita Daben.

Cerita dong awal bisnis Minilovebites ini?

Jadi ibu saya bersama sahabatnya punya toko kue. Dulu kami rutin ke toko Ibu, yang ukurannya tidak terlalu besar di daerah Dharmawangsa. Kami dari kecil tidak pernah membeli kue, selalu mengonsumi kue buatan ibu. Dan  dua tahun setelah beliau meninggal, kami mencari kue dan entah kenapa mendapti kue-kue ini rasanya aneh, artinya aneh dari segi rasa dan ada perasaan tidak terbiasa membeli kue.

Lalu akhirnya saya dan adik iseng bakingnah, adik saya ini memang sering baking untuk keluarga. Saya pun seperti itu. Sampai akhirnya ada ide, membuat usaha pastry ini. Entah bagaimana, nama untuk usaha ini langsung ada di kepala saya. Setelah menemukan nama, saya mengecek apakah nama Minilovebites sudah ada yang memiliki domainnya, ternyata belum ada, saya langsung mendaftarkannya, dan juga langsung bikin akun social media-nya. Adik saya pun menyambut baik ajakan saya dan setuju untuk merintis usaha ini bersama-sama. Lucunya kami tidak punya pengalaman baking yang expert, jadi trial and errornya banyak sekali. Langkah awal kami adalah memberikan contoh kue kepada teman-teman. Komentar dari teman-teman  juga positif, mereka bilang kue yang saya kasih layak untuk dijual. Kami memulainya dengan ukuran oven yang terbilang kecil dengan harga Rp. 200 ribu saja. Karena ruangan dapur yang sempit, berawal dari pemasaran mulut ke mulut akhirnya banyak pesanan yang datang.

Jadi sistem pemasarannya, apakah lewat sosial media saja?

Kalau dulu karena awalnya kami tidak memiliki modal yang besar, kami hanya mau mengambil dari jatah uang jajan kami sebulan. Jadi kami tidak mau berinvestasi terlalu besar, dan yang kedua kami belum tahu bisnis ini bisa berjalan atau tidak. Jadi kami berhitung, kira-kira modal berapa yang kalau hilang atau rugi kami ya nggak apa-apa – artinya uang sekolah untuk anak-anak tidak terganggu, uang pensiun juga tidak terganggu. Jadi ya kami mulai kecil-kecilan saja, dari 15-20 juta di tahun 2011. Kalau dulu balik modalnya dalam tiga bulan, dengan catatan mulainya dari online dulu. Dan minta bantuan orang-orang di sekeliling saya yang memiliki skill khusus untuk membantu bisnis ini, misalnya adik ipar saya yang bisa membuat website, jadilah saya meminta bantuannya – bisa menghemat budget juga kan? Hehehe. Di awal itu website kami formatnya masih katalog, dan paling penting ada menunya dulu, supaya orang-orang bisa dengan mudah jika ingin memesan online. Sekarang sudah lebih rapih. Awalnya, dari mulut ke mulut dan social media (website, twitter dan Intagram). Kami juga memberi contoh produk ke teman-teman.

Saya perhatikan efek social media cukup besar ya?

Empat tahun lalu saat IG belum terlalu booming, kami lebih fokus ke twitter. Kalau bisnis makanan ini awalnya dari rasa, otomatis orang yang makan kalau dia cocok dengan rasanya, dia pasti akan merekomendasi ke orang lain, minimal dia repeat order. Di twitter kami jualan, tapi juga dipengaruhi sama siapa follower kami, dan siapa yang me-retweet. Kami juga mempunyai beberapa teman yang punya influence cukup besar, walaupun sebetulnya kami tidak bermaksud untuk meng-endorse atau menjadikan mereka buzzer. Karena mereka nge-tweet, jadilah kami banyak pesanan dari sana. Contohnya, Wulan Guritno yang pernah memesan kue dari saya, karena kenal dengan teman saya itu.

Ada kiat jitu lainnya dari Venita dalam hal strategi promosi, intip di halaman berikutnya ya Mommies


Post Comment