Belajar Dari Puasa Dalam Keluarga Berbeda Agama

Bagaimana momen berpuasa mengajarkan banyak hal kepada anak-anak kami yang hidup di dalam satu atap dengan dua agama yang berbeda?

Saat awal memutuskan akan menikah dengan pria yang berbeda agama, banyak pernyataan datang seperti “Menikah satu agama aja belum tentu nggak ada masalah, apalagi dengan yang berbeda agama,” sampai pertanyaan “Bagaimana nanti kalian membesarkan anak-anak kalian kalau kalian berbeda agama?”.

Nyatanya, memasuki ulangtahun pernikahan yang ke -11, kehidupan pernikahan kami baik-baik saja dan dua anak kami juga baik-baik saja. Intinya, saling menghargai, itu sudah pasti! Dan, saat ini, tanpa kami memaksa atau kami yang menentukan, masing-masing anak sudah memutuskan SENDIRI agama mana yang ingin mereka anut.

Saya tidak mau berpanjang lebar membahas tentang perbedaan agama di antara kami, yang saya mau cerita di sini adalah, bagaimana ternyata momen berpuasa mengajarkan banyak sekali hal kepada anak-anak kami yang hidup di dalam satu atap dengan dua agama yang berbeda. Apa saja?

tolerance

*Gambar dari sini

  1. Belajar untuk saling menghargai

Saling menghargai di sini berlaku baik bagi kakak ataupun adik. Karena ayah dan kakaknya berpuasa, saya mengajarkan adiknya untuk tidak sembarangan makan atau minum di hadapan mereka yang berpuasa. Sebaliknya, si kakak pun saya ajarkan untuk menghargai adiknya yang tidak berpuasa, dengan cara tidak memaksa adik untuk jangan makan kalau ada kakak. Dan, believe itu or not, mereka bisa menjalankan dengan baik. Adik kalau mau makan pasti bilang ke kakak “Kak, maaf ya aku makan dulu.”  Atau si kakak kalau sudah tahu jam makan siang sudah dekat, kemudian mengingatkan si adik untuk makan.

  1. Belajar tentang perbedaan

Saya percaya bahwa kemampuan untuk menghargai perbedaan dan bersikap penuh toleransi BERAWAL dari rumah, bukan dari sekolah atau rumah ibadat. Di bulan puasa, anak-anak kami pun semakin belajar tentang perbedaan, bahwa tidak semua orang memiliki atau melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan atau miliki. Bagaimana kebiasaan ibadat agama A dengan agama B berbeda. Bahwa mereka yang berbeda dengan kita bukanlah musuh.

  1. Belajar lebih sabar

Buat si kakak, bulan puasa memang benar-benar menjadi bulan yang baik untuk melatih kesabarannya. Mulai dari sabar menunggu jam berbuka puasa, sabar menahan haus dan lapar ketika melihat adiknya makan atau minum, hingga sabar menghadapi polah adiknya yang masih suka kelepasan iseng. Kakak jadi jarang ‘marah-marah’ kalau adik lagi bersikap ‘menyebalkan’ karena menurut kakak, sayang ibadah puasanya kalau nanti dia marah-marah. Bagaimana dengan si adik? Dia pun bisa lebih menahan sikapnya karena beralasan “Kakak kan lagi puasa ma, aku nggak mau nakal sama kakak, kasian kakak.” Two thumbs up my boys.

  1. Belajar empati

Saat merasakan haus dan lapar, awal-awal anak saya suka mengeluh dan bilang tidak kuat menunggu sampai jam berbuka puasa. Di saat-saat ‘genting’ seperti ini biasanya saya kasih gambaran ke anak-anak saya bagaimana banyak orang tidak mampu di luar sana yang harus menahan haus serta lapar tidak hanya dalam hitungan jam, tapi bisa dalam hitungan hari. Saya perlihatkan gambar tentang mereka yang kelaparan di negara-negara lain (tentu saja saya mencari gambar yang masih masuk dalam kategori aman untuk dilihat oleh mata anak-anak). Dari sini mereka pun mulai belajar untuk paham apa yang orang lain rasakan.

Saya senang karena selama bulan puasa, anak-anak saya bisa belajar banyak hal yang saya percaya bisa menjadi bekal kelak saat mereka tumbuh dewasa dan belajar hidup di dalam masyrakat dunia yang sangat beragam.

Selamat menjalakan ibadah puasa untuk semua mommies yang menjalankannya :).


2 Comments - Write a Comment

  1. Salut mbak…..stand up applause deh kalo boleh…..Ga gampang mengajarkan anak menghargai perbedaan dan juga mengajarakan empati ….. padahal anak dengan umur segitu egonya masih gedhe banget… But you did it! You are a great wife and mom! Gb ya mbak…

    1. Iya mba, nggak gampang emang, butuh perjuangan di awal-awal, ego mereka masih besar banget, tapi untungnya saat puasa mereka lebih bisa nahan diri, walaupun untuk urusan rebutan mainan tetap heboh sih, hehe. Tapi mungkin karena secara umur juga udah lumayan nih mbak, udah mau 8,5 tahun dan 6,5 tahun. Tengkyu mbak :)

Post Comment