Kapan Saat Tepat Memberitahu Anak Jika Ia Diadopsi?

Perbedaan pendapat mengenai kapan waktu yang tepat untuk memberitahu anak jika ia adalah anak hasil adopsi rasa-rasanya akan selalu ada. Namun, kalau kita mengacu pada kebutuhan emosi si anak itu sendiri, sebenarnya kapan waktu yang paling pas?

Beberapa orang di lingkungan keluarga saya dan juga beberapa teman-teman saya menjadi orangtua setelah melakukan proses adopsi. Saat ditanya, apakah si anak akan diberitahu jika ia adalah anak adopsi, jawabannya beragam. Ada yang dengan tegas menolak memberitahu dengan alasan itu adalah masa lalu si anak. Ada yang mengatakan bahwa nanti saat si anak sudah ‘siap’. Pertanyaan saya kemudian, sebagai orangtua, bagaimana caranya kita bisa yakin kalau anak akan siap menerima sebuah fakta yang tidak terlalu nyaman ini? Bagaimana cara kita meminta seorang anak untuk bisa baik-baik saja ketika kita secara halus menunjukkan bahwa apa yang selama ini ia yakini (bahwa saya adalah anak dari bapak dan ibu A) ternyata tidak sepenuhnya benar.

IFRI121704_adoption

*Gambar dari sini

Saya menghargai setiap keputusan yang dipilih oleh setiap orangtua, karena pasti ada alasan tersendiri bagi mereka. Tapi kalau untuk saya pribadi,  lebih baik si anak diberitahu kenyataan yang sesungguhnya. Memang ada yang salah dengan status anak adopsi? Nggak kan. Belum lagi jika kita sudah berusaha untuk menjaga rahasia ini sambil menunggu waktu yang ‘tepat’ kemudian ada orang lain yang keceplosan mengungkapkan hal ini (ini yang dialami oleh salah satu kenalan saya). Terbayang nggak betapa shock si anak mendengar ini dari mulut orang lain.

Kalau menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi cara terbaik adalah dengan tidak merahasiakan adopsi ini termasuk dari anak itu sendiri. Jika dirahasiakan, lalu anak tahu dari orang lain atau dari Anda sendiri, tentu akan sangat menyakitkan bagi anak. Ia akan merasa dibohongi, seluruh dunia yang selama ini diyakininya ternyata hanya kebohongan belaka. Anak juga akan mempertanyakan kenapa orangtua kandungnya tidak mau merawatnya sehingga muncul perasaan bahwa kehadirannya memang ditolak/tidak diinginkan.

Maka cara terbaik adalah sejak awal anak dikondisikan atau dibiasakan dengan status adopsinya. Jadikan istilah adopsi sebagai istilah biasa, positif dan bukan merupakan aib atau rahasia. Kondisikan dari awal bahwa anak memiliki dua orangtua yang sangat menyayanginya, yaitu orangtua kandung yang ingin si anak memiliki kehidupan lebih baik tapi tidak mampu dan orangtua angkat yang sangat sayang serta ingin memenuhi semua kebutuhannya karena kehadirannya merupakan anugerah tak ternilai.

Hubungan ideal seharusnya antara orangtua angkat, anak angkat dan orangtua kandung baik-baik saja, sesekali boleh mengunjungi atau saling bertemu. Tergantung perjanjian masing-masing. Seperti membesarkan seorang anak bersama. Setelah anak besar, bahkan anak boleh menentukan pembagian waktunya seperti apa. Misalkan, weekdays dia bersama orangtua angkat dan weekend bersama orangtua kandung. Berbeda jika orangtua kandung tidak mau ditemui lagi. Maka pembagian seperti ini tidak perlu, namun anak tetap harus diinformasikan dari awal.

Satu hal lagi yang perlu disiapkan oleh orangtua angkat adalah, jika orangtua kandung memang tidak menginginkan si anak dari awal, maka anak ini sudah pasti akan membawa luka batin. Dan, tak jarang anak akan tumbuh menjadi anak yang demanding, mencari perhatian karena ia ingin menguji apakah orang-orang di sekitarnya benar-benar sayang pada dirinya.

Mbak Vera memberi contoh beberapa pasangan yang melakukan adopsi yang memilih bicara jujur sejak awal. Mereka mengambil dan mengoleksi foto sejak mereka memulai proses adopsi (mulai dari perkenalan sampai anak dibawa pulang secara resmi). Foto-foto tersebut disimpan dalam album yang sesekali diperlihatkan pada anak dan diceritakan semuanya. Dengan demikian anak merasa nyaman dengan statusnya dan tetap merasa disayang oleh orangtuanya baik kandung maupun angkat.

Intinya adalah, saat kita mengambil keputusan untuk mengadopsi dan membesarkan anak adopsi, belajarlah untuk melihat dari sudut pandang seorang anak. Tidak selalu dari sudut pandang kita sebagai orangtua.

Satu kalimat yang sangat mengena di hati saya adalah, meskipun anak adopsi tidak lahir dari rahim kita, namun dia lahir dan tumbuh di hati kita.


Post Comment