Usia Pria dan Kualitas Sperma

Ditulis oleh: Nayu Novita

Meski terus diproduksi hingga akhir hayat, kualitas sperma seorang pria ternyata tidak selalu sama pada setiap tahapan usia.

Sebagai kaum perempuan, tidak jarang saya kerap mendengar saran kalau perempuan itu menikah jangan terlalu tua, melahirkan anak harus perhatikan usia, karena kualitas sel telur jika semakin tua semakin menurun. Kemudian, terlintas dalam benak saya, kalau usia perempuan berpengaruh terhadap kualitas sel telur, apa kabarnya dengan sperma yang dihasilkan kaum pria? (Yaaa kan). Kalau memang ada pengaruhnya, kok, saya jarang mendengar pria ‘dituntut’ untuk menikah sebelum usia tertentu?

veerspermillustration (1)

*Gambar dari sini

Memang sih, berbeda dengan wanita yang punya masa “kadaluarsa” dalam hal kemampuan reproduksi—ditandai dengan berhentinya proses pelepasan sel telur pasca menopause, tubuh seorang pria masih tetap mampu memproduksi sperma hingga akhir hayatnya. Alhasil, seorang pria juga senantiasa memiliki peluang untuk menghasilkan keturunan di sepanjang usia kehidupannya.

Makanya, saya tak heran ketika membaca berita tentang Ramajit Raghav, seorang pria asal India yang menjadi ayah pada usia 94 tahun. Hebatnya lagi, dua tahun kemudian Ramajit dan istrinya Shakuntala Devi kembali dikaruniai seorang bayi laki-laki yang sehat. Wow! Biar kulit sudah keriput dan uban merajalela, kembali lagi kepada pertanyaan awal, benarkah kualitas sperma seorang pria bisa senantiasa prima dari waktu ke waktu?

Sperma terbaik dalam rentang usia subur

Jawabannya, menurut dr. Anita Gunawan, MS, Sp.And—pakar andrologi dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, ternyata tidaklah demikian. Ada sejumlah hal yang bisa memengaruhi kualitas sperma dalam tubuh seseorang, misalnya faktor usia dan gaya hidup. “Itu sebabnya, kualitas sperma dalam tubuh seseorang tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Tapi secara garis besar, kualitas sperma terbaik bisa didapatkan pada rentang usia subur, yaitu antara 25-40 tahun,” jelas dr. Anita.

Kualitas sperma ini, bisa diukur dengan menggunakan tes spermiogram (tes analisis sperma). Menurut standar dari badan kesehatan dunia WHO, ada tiga parameter yang bisa digunakan untuk mengukur kualitas sperma, yaitu:

  1. Jumlah (konsentrasi)
  2. kecepatan (motilitas)
  3. Bentuk (morfologi).

“Selama orang tersebut memiliki kondisi kesehatan tubuh dan kesehatan seksual yang prima, maka gambaran spermiogram tidak menunjukkan perbedaan pada kualitas sperma pria berusia 20, 30, dan 40 tahun,” kata dr. Anita.

Kualitas menurun pasca usia subur

Setelah melampaui rentang usia subur, barulah terjadi sejumlah perubahan pada kualitas sperma. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di University of Otago, Selandia Baru, pada tahun 2014 lalu, kualitas sperma akan menurun seiring pertambahan usia. Selain volume sperma berkurang, kecepatan sperma juga mengalami penurunan. Akibatnya, sperma lebih sulit mencapai sel telur untuk melangsungkan proses pembuahan.

Penelitian juga menunjukkan adanya penurunan kualitas dari segi bentuk (morfologi) sperma. Perubahan dari segi bentuk ini penting diperhatikan karena mengindikasikan konten genetik yang terkandung di dalam sperma. Adanya penyimpangan bentuk sperma yang signifikan bisa menyulitkan terjadinya pembuahan ataupun menimbulkan masalah kelainan kromosom yang salah satunya mampu meningkatkan risiko Sindroma Down pada janin hasil pembuahan.

Kebiasaan buruk turunkan kualitas sperma

Satu hal yang tak boleh dilupakan, faktor usia bukanlah satu-satunya hal yang mampu memengaruhi kualitas sperma. Pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan justru punya andil lebih besar dalam menentukan kualitas sperma. Pola makan tidak sehat—misalnya, terlalu banyak asupan lemak dan gula, bisa meningkatkan risiko seseorang menyandang obesitas dan diabetes. Kedua jenis gangguan kesehatan ini mampu mengakibatkan penurunan kualitas sperma.

Bukan hanya itu, menurut dr. Anita, jenis penyakit berat—seperti TBC, tipus, dan hepatitis, juga kebiasaan buruk seperti merokok, penyalahgunaan obat-obatan, serta kecanduan alkohol, juga bisa mengakibatkan penurunan kualitas sperma. Rokok terutama amat perlu dihindari karena racun yang terkandung dalam nikotin dapat merusak kepala sperma. Akibatnya, sperma akan mengalami kesulitan untuk dapat menembus dinding sel telur.

Koreksi dengan gaya hidup sehat

Kabar baiknya, kualitas sperma yang mulai menurun bisa dikoreksi dengan mulai menerapkan gaya hidup sehat serta melakukan sejumlah kebiasaan baik. Jika mampu melakukannya, bukan tak mungkin kualitas sperma pria yang berada di ambang akhir batas usia subur malah lebih unggul dibandingkan mereka yang masih berada di pertengahan rentang usia subur, lho!

116223-magic-marker-icon-sports-hobbies-people-man-runner

*Gambar dari sini

Apa saja kebiasaan-kebiasaan baik yang perlu diadopsi untuk memperbaiki kualitas sperma? Tak lain dengan mengonsumsi jenis-jenis makanan yang mengandung nutrisi seimbang, memperbanyak konsumsi makanan yang kaya kandungan antioksidan (asam folat, vitamin C, zinc, vitamin E, dan lain-lain), serta melakukan olahraga secara teratur untuk memelihara berat badan ideal.

Kebiasaan berendam di dalam air panas ataupun mengenakan celana yang ketat juga perlu dikurangi untuk menghindari terjadinya peningkatan suhu pada testis. Pasalnya, peningkatan suhu pada testis bisa berisiko menurunkan jumlah sperma. “Bukan hanya itu, kondisi kesehatan seksual juga perlu dipelihara. Artinya, jangan sembarang berganti-ganti pasangan dan lakukanlah hubungan intim secara rutin agar siklus produksi sperma terpelihara dengan baik,” tutup dr. Anita.

Jadi, ayo para mommies, ajak pasangannya untuk tetap mempertahankan gaya hidup sehat agar kualitas sperma tetap terjaga :).


Post Comment