Motherhood Monday: Nonita Respati – Desainer dan Pengusaha yang Tidak Pelit Ilmu & Ingin Semua Orang Maju

Dalam hidup perempuan yang tinggi semampai ini, batik tak sekadar lembaran kain warisan budaya dari tanah Jawa. Batik sudah menjadi bagian hidupnya sejak ia kecil, dan mengantarnya menjadi salah satu desainer muda Indonesia yang patut diperhitungkan di kancah dunia fashion Nusantara.

IMG_8566

Mommies pasti sudah tak asing lagi dengan batik, warisan budaya Indonesia yang sempat diklaim sebagai milik Malaysia. Hingga akhirnya dengan segala upaya dan perjuangan, batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO. Tapi bagi Nonita Respati (37), kehadiran batik memiliki makna yang lebih dalam, maklum saja karena ia tumbuh di lingkungan budaya Jawa yang sangat kental. Belum lagi keluarga besarnya sempat memiliki pabrik batik di Solo, ditambah Almarhum Ibu dan Eyangnya adalah seorang kolektor batik.

Masih hangat dalam ingatannya, betapa ia terperangah melihat koleksi batik sang ibu yang tersimpan apik di beberapa lemari. Dan sampailah pada suatu hari, Ibunda tercinta harus berpulang dan mewariskan koleksi batiknya kepada Nonita dan empat saudara lainnya. Dari sini cikal bakal kecintaan Nonita dengan batik, dan berlanjut menjadi seorang desainer sekaligus pemilik butik Purana Batik. Baginya semua pencapaiannya sekarang akan terasa lebih lengkap jika ia tak pelit membagi ilmu dan dapat berkontribusi bagi mereka yang tidak mampu agar dapat hidup layak melalui usahanya ini. Tak hanya batik, Nonita juga sedang merintis bisnis di sektor bahan bakar minyak yang sempat mati suri sepeninggalan orangtuanya. Mau tahu lebih lebih lengkap bagaimana kisah Nonita membesarkan Purana Batik, dan perjuangannya menghidupkan kembali usaha keluarga tersebut, berikut petikan wawancara Mommies Daily bersama Nonita Respati.

Boleh tolong diceritakan, awal mula Anda jatuh cinta dengan batik? Dan akhirnya terlibat serius mengelola Purana Batik?

Awal mulanya jatuh cinta sama batik, karena saya dari kecil tinggal di lingkungan yang sangat Jawa. Ibuku Jawa dari Keraton Yogyakarta, dan Bapak dari keraton Mangkunegaran Solo, Eyang saya kolektor batik dan kami dulu sempat punya pabrik batik. Hanya saja tidak bisa berlanjut karena banjir besar Solo, semua alat rusak, itu tahun 70-an. Semua alatnya hilang, workshopnya juga harus dibangun lagi dari awal. Pada saat itu Eyang putri memutuskan untuk mengalihkah usahanya ke BBM. Nah, jadinya terlupakan sementara si batik ini. Hanya saja ketika beranjak besar, tempat pencelupan, bak-baknya, yang besar itu masih ada beberapa, dan cap-cap batik. Cuma ya terbelengkai begitu saja. Kemudian sehari-hari aku juga terbiasa menyaksikan perawatan batik-batik koleksi Ibu dan Eyang, jadi setiap seminggu sekali diwiru kembali oleh seseorang yang sengaja datang. Habis diwiru, lalu dipres menggunakan alat wiru yang sudah kuno supaya wiruannya paten.

Di rumah kami ada pendopo lengkap dengan seperangkat alat gamelannya, alat-alat gamelan ini dipake oleh bule-bule Eropa, Jepang dan Amerika untuk belajar gamelan. Kami juga ada sanggar karawitan, tapi sebenarnya bukan milik kami sepenuhnya, kami hanya menyediakan tempat untuk ibu-ibu latihan. Jadi kalau bicara dari indera visual, pendengaran, peraba dan sebagainya – Saya itu lekat banget dengan budaya jawa – termasuk batik itu sendiri.

Sampai akhirnya, turning point-nya ketika ibu sakit dan meninggal, semua koleksi batik kunonya diwariskan ke anaknya-anaknya. Nah, sebelum ibu membagikan batik-batiknya itu, saya sudah pernah mencoba terlebih dahulu. Jadi ada beberapa yang saya suka, dan akhirnya saya minta saja – daripada teronggok di lemari pikir saya. Setelah ibu memberikannya, batik antik itu saya jahit menjadi baju – karena aku belum mengerti pada saat itu. Ketika ibu bertanya, mengapa dijahit menjadi baju – pikiran saya adalah: What’s the point of having something that u can not wear everyday? Akhirnya ibu menyerah, tapi beliau tetap mengoreksi baju yang saya jahit.

Pada saat ibu mulai sakit-sakitan itu, saya mulai merintis Purana Batik, dan tak lama ibu meninggal. Saya semakin fokus karena ingin membawa brand ini menjadi brand yang diminati dan diperhitungkan. Awal menjalani Purana ini saya mendapatkan banyak bantuan dari teman-teman almarhum Ibu yang juga pengrajin batik. Tangan mereka sangat terbuka, misalnya saya diizinkan memakai alat cap yang jarang digunakan.

Saya tidak ingin menjual batik yang sudah ada di pasaran. Mulai dari situ saya memantapkan diri bahwa Purana akan menjadi sebuah brand yang kainnya kami produksi sendiri. Jadi kami memproduksi sendiri motif maupun warna. Kami juga sudah punya workshop batik yang dikelola sendiri di Jogja, meskipun tidak terlalu besar. Di sana mitra kami adalah anak-anak yatim piatu, meskipun jumlah karyawan di sana belum terlalu banyak, tapi ada sistem outsource jika sedang banyak pesanan. Mareka akan mengajak teman-teman mereka untuk bekerja di workshop kami, untuk membantu tahap menyanting. Tapi untuk proses pewarnaan, pencoletan dan proses batik tetap workshop kami yang pegang.

Arti kata “Purana”?

Artinya adalah sejarah kuno, intinya entah kenapa saya suka sekali dengan nama Purana ini, karena terdengar sangat feminin – seperti nama anak perempuan. Dan saya tergila-gila dengan bahasa Sansekerta. Contohnya saja saya aplikasikan pada nama anak-anak saya. Nama pertama mereka nama Islam, nama tengah nama Sansekerta, dan nama terakhir adalah nama bapaknya. Saya selalu menganggap bahasa Sansekerta itu indah. Dan kebetulan nama terakhir saya adalah Purnamaningdyah.

Nonita bicara tentang ciri kahas Purana Batik dan sumberi ide mendesain koleksinya yang tergolong unik


Post Comment