Kiat Mengisi Libur Panjang di Rumah

Ini 6 kiat versi saya agar liburan tetap fun dan seru meskipun tidak ada rencana keluar kota atau negeri.

Dalam perjalanan menjadi ibu, selalu ada hal baru untuk dijalani. Mungkin karena anak saya cuma satu, jadi setiap perubahan seolah membuka babak baru dalam hidup. Contohnya sekarang, saat anak saya sudah jadi murid TK. Selama hampir dua tahun ia bersekolah, saya jadi tahu bahwa ada 2 kali libur panjang setiap tahunnya, yaitu saat akhir tahun ajaran dan akhir tahun Masehi. Setidaknya begitulah di sekolahnya sekarang. Kadang juga ada libur yang tidak panjang-panjang amat, tapi cukup lama, seperti saat menjelang sampai awal bulan Ramadhan yang durasinya sekitar 2 minggu.

Gambar dari sini
Gambar dari sini

Sebenarnya, sih, libur anak sekolah ini menguntungkan saya, karena saya tidak harus bangun pagi dan rempong menyiapkan keperluan anak. Tapi, ternyata juga menghadirkan tantangan baru. Rutinitas anak berubah total, dari yang tadinya bisa puas beraktivitas dan bersosialisasi di sekolah, kini jadi berpusat di sekitar rumah saja.

Saat libur dengan periode yang cukup panjang, biasannya libur kenaikan kelas yang jatuh di pertengahan tahun saya bisa mengikutkan Bumy dalam berbagai kelas aktivitas (istilah kerennya “summer class/camp” atau “holiday program”). Namun kalau liburan jatuhya saat akhir tahun  atau yang periodenya tidak terlau panjang, mencari holiday program sangat sulit. Tidak hanya pilihan aktivitasnya sedikit, tapi durasi kegiatannya pun tidak seintens kegiatan tengah tahun yang bisa full 1-2 minggu.

Anak saya memang sudah cukup besar, sudah 5 tahun. Tidak sedikit-sedikit butuh asistensi. Meskipun saya saya full-time ‘ngepos’ di rumah, ada saja yang perlu dikerjakan, dan tidak selalu bisa menemani Bumy beraktivitas. Maunya, sih, energi Bumy bisa tersalurkan lewat aktivitas alih-alih bengong di rumah, jadi saya punya waktu untuk beres-beres, dan by the end of the day, dia nggak senewen karena energi dan hasrat bersosialisasinya sudah tersalurkan. A win-win solution, bukan?

Sekarang, saya baru paham kenapa banyak orangtua yang mengeluh saat anaknya sedang libur panjang. Keluhan itu muncul mungkin akibat anak merasa bosan, kesepian, bahkan mungkin juga stres karena tidak ada kegiatan seru yang bisa dilakukan.

Dari situ, saya jadi sadar bahwa saya perlu ‘trik’ menghadapi kondisi liburan model ini. Apalagi kalau misalnya libur panjang tapi kami juga lagi tidak berencana keluar kota atau negeri misalnya, sepanjang libur panjang itu, maka tentu tidak ada salahnya menyiapkan diri. Apa saja, sih, yang bisa kita lakukan untuk bisa melalui libur panjang dengan sukses (baca: waras)?

Apa saja 6 kiat versi saya


Post Comment