Dos & Don’ts Donor ASI

Ingin menjadi pemberi atau penerima Donor ASI? Boleh-boleh saja. Yuk, simak obrolan saya dengan dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC tentang apa saja yang perlu diperhatikan berkaitan dengan donor ASI dan betapa pentingnya melakukan proses Pasteurisasi untuk ASI donor.

Donor ASI

Gambar dari sini

Berawal dari maraknya pemberian Donor ASI di lini social media, saya jadi penasaran ingin mengulik lebih lanjut tentang Donor ASI.  Dan, beruntung saya sempat berbicara dengan dokter Asti. Menurut dokter yang praktik di Rumah Sakit Kemang Medical Centre, Jakarta Selatan ini, bayi yang membutuhkan donor ASI adalah bayi yang tidak cukup mendapatkan ASI dengan baik. Misalnya ibunya meninggal dunia atau suplai ASI si ibu berkurang karena berbagai alasan, salah satunya karena bayi mengalami tongue tie, yang menyebabkan bayi tidak bisa mengambil Asi ibunya dengan baik. Sehingga lama-lama produksi ASI ibunya akan berkurang drastis.

Syarat Ibu yang mendonorkan ASI

Dr. Asti mengingatkan perihal kategori ibu yang layak mendonorkan ASI dan si penerima ASI, poin paling penting adalah ibunya harus SEHAT. Mengenai kriteria detailnya, dr. Asti satu suara dengan AIMI ASI – seorang ibu tidak disarankan mendonorkan ASI jika ia:

  • Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir
  • Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
  • Minum alkohol secara rutin sebanyak 5 ml atau lebih dalam periode 24 jam
  • Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)
  • Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal
  • Pengguna produk tembakau
  • Memakai implan silikon pada payudara
  • Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12
  • Pemakai obat-obatan terlarang
  • Memiliki riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur)
  • Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/body piercing)

Maka, sebelum ingin mendonorkan ASI, disarankan memeriksakan dirinya dan hasil pemeriksaan harus terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna  dilakukan oleh setiap ibu hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.

(Sumber: AIMI ASI)

Sementara itu untuk jenis kelamin bayi dari ibu yang mendonorkan ASI-nya, dari segi media “Jenis kelamin bisa berbeda, tidak masalah karena tidak ada beda kualitas ASI ibu bila anaknya laki-laki atau perempuan. Namun, bila melihat dari sisi agama, keputusannya diserahkan kepada keluarga.” Kata dr. Asti.

Penerima Donor ASI

Selain ibu pendonor yang harus sehat, bayi ibu yang mendonorkan Asi-nya juga harus sehat, artinya berat badan bayi tersebut sesuai dengan growth chart. Menurut dr. Asti, kelebihan di negara lain adalah sudah tersedianya Bank ASI, yang berarti ibu pendonor sudah melalui screening. Maka ada baiknya bagi penerima donor ASI tanpa melalui Bank ASI mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

  • Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan
  • Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?
  • Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?
  • Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?
  • Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi?
  • Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?
  • Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?

(Sumber: AIMI ASI)

ASI donor wajib dipasteurisasi! Temukan jenis dan cara pasteurisasi di halaman selanjutnya.


One Comment - Write a Comment

Post Comment