Motherhood Monday: Meta Hanindita – Seorang Dokter yang Juga Penyiar Radio dan Blogger

Bagaimana jika seorang dokter spesialis anak aktif ngeblog dan siaran? Dua profesi sampingan yang rasanya jarang dilakukan oleh seorang dokter yang notabene sangat sibuk dengan jadwal praktiknya. Namun, MetaHanindita, SpA, announcer sekaligus penulis membuktikan mampu menjalankan profesi utama dan sampingan dengan selaras.

Meta

Adalah Meta Hanindita perempuan kelahiran Bandung 31 tahun lalu – berhasil menyelaraskan antara profesi utama dan hobinya menjadi satu kesatuan yang bisa mendatangkan banyak manfaat. Simak obrolan kami dengan Meta berikut ini, seputar profesi utama, hobi dan kiat mengatur quality time-nya bersama keluarga.

Anda dikenal sebagai dokter anak yang juga berkecimpung di dunia broadcasting dan aktif ngeblog. Apa dunia broadcasting dan ngeblog dilakukan untuk refreshing atau “me time”?

Iya, betul banget! Saat stress, saya merasa siaran atau menulis bisa menjadi kegiatan yang kembali membuat saya ‘waras’, membuat saya siap menjalani segala rutinitas.

Kegiatan ngeblog ini, biasanya Anda lakukan kapan? Setiap hari atau di akhir pekan saja?

Sebenarya sejak kecil saya sudah suka menulis. Begitu ada media blog pertama kali, saya mulai rajin menulis di blog. Itu sekitar tahun 2003-an ya kalau nggak salah. Saya nggak pernah membuat jadwal. Kadang bisa setiap hari, kadang bisa 2 minggu sekali. Kadang saya menulis saat mengantar Nayara (4 tahun) les, kadang malam hari saat anak dan suami sudah tidur. Kalau sempat saja.

Sejak kecil sebetulnya cita-cita Anda sudah menjadi dokter anak?

Iya, betul. Sejak kecil cita-cita saya memang menjadi dokter anak. Saya sempat mempunyai cita-cita “tambahan” seperti guru atau jurnalis, tapi utamanya tetap menjadi dokter spesialis anak. Saya suka anak-anak dan menurut saya kesehatan anak yang notabene adalah generasi penerus bangsa sangat penting.

Cerita dong awalnya Anda jatuh cinta pada dunia broadcasting dan menulis buku atau ngeblog ini?

Dari kecil –kata keluarga dan teman-teman-, saya memang cerewet. Ngomong terus nggak ada berhentinya, hahaha. Kata mama saya dulu, “Kamu cocok banget jadi penyiar radio”. Apalagi dari kecil saya juga suka sekali mendengarkan radio. Tapi karena suara saya cempreng, saya “sadar diri” nggak pernah mendaftarkan diri untuk lowongan penyiar. Setelah kuliah, teman kost saya minta diantarkan mengikuti audisi untuk menjadi penyiar. Namun pada hari –H, dia malah tak datang – ternyata karena ketiduran dan teleponnya di-silent, lalu panitia audisi meminta saya untuk ikut. Iseng-iseng saya ikuti audisinya, eh keterima dan malah keterusan. Dari situlah saya mulai jatuh cinta dengan dunia broadcasting. Berawal dari penyiar, saya berkesempatan juga jadi presenter televisi, MC, pembicara sampai pengajar di sekolah broadcasting. Jadi penulis buku pun, awalnya kebetulan lho! Saya suka sekali membaca buku-buku karya Zara Zettira. Lalu saya iseng-iseng mengirimkan pesan untuknya di Facebook. Rupanya Mbak Zara membuka link blog saya yang ada di FB lalu menawarkan bantuan untuk “membuatkan” buku. Saya happy banget!

Sebagai dokter anak, Anda tipe ibu yang bawel nggak sih untuk urusan gizi si kecil?

Bisa dibilang begitu. Saya memerhatikan benar asupan nutrisi untuk Nayara  sejak lahir. Saya rutin memasukkan status gizinya di growth chart. Syukurlah dia nggak pernah bermasalah soal makan. Apapun yang dimasak di rumah, pasti dilahap habis, termasuk buah dan sayuran. Sebenarnya bukan soal gizi saja, mulai dari tidur, gadget, apapun aturan di rumah semua saya buat secara detail.  Di zaman sekarang info mengenai apapun termasuk kesehatan anak gampang sekali diakses di internet, tapi banyak juga yang kebenarannya belum jelas. Karena itu, sebelum membuat “aturan”, saya mencari terlebih dahulu jurnal penelitiannya yang benar seperti apa. Agak lebay sih kesannya,hahaha. Tapi saya lebih memilih science atau evidence based yang jelas terbukti secara ilmiah dibandingkan pendapat, pengalaman atau sekedar “katanya”.

Kalau Nayara sakit, Anda tipe ibu yang panik nggak?

Haha nggak sih. Mungkin karena saya terbiasa menghadapi pasien anak-anak setiap saat.  Yang lebih panik biasanya suami saya. Kalau saya lagi bertugas saat anak sakit, dia bisa menelpon saya 5 menit sekali karena bingung saking paniknya.

Di halaman selanjutnya Meta bicara tentang kegiatan siarannya, menulis dan gaya pola asuhnya.


Post Comment