Kenapa Anak Butuh Ayahnya?

“Great, and even good-enough dads, appear to make a real difference in their children’s lives.” –            W. Bradford Wilcox.

Kehadiran Ayah dalam pengasuhan anak ternyata tidak hanya bermanfaat untuk tumbuh kembang si kecil saat ini, namun juga kelak ketika ia dewasa.

Father-and-Son

*Gambar dari sini

Suatu hari, bocah laki-laki saya yang berusia 5 tahun nyeletuk, “Mama dulu kenapa suka sama papa?”
Tentu saja saya dibuat tergagap oleh todongan pertanyaan yang tak terduga itu. Tapi belum sempat saya menjawab, dia sudah menjawab pertanyaannya sendiri dengan, “Pasti karena papa ganteng, ya.”
Kontan saya terbahak-bahak. Saya tanya balik padanya, “Memang papa ganteng?”
Dia pun menjawab lagi dengan penuh keyakinan, “Iyalah! Papa ganteng banget orangnya!”

Just for the record, my husband doesn’t look like Henry Cavill (the latest Superman) or Chicco Jericho. He’s just a regular guy; tipikal orang Indonesia kebanyakan, bukan yang bisa tiba-tiba diberi tawaran jadi pemain sinetron saat sedang jalan-jalan di mall. Hahaha…

Tapi yang menggelitik, di mata anak saya, suami saya tak hanya dianggap ganteng, namun si kecil juga berpikir kalau:

Papa tahu segalanya.
Kenapa pesawat bisa terbang? Bintang dan planet terbuat dari apa? Listrik itu dari mana? Hal-hal berbau ilmu pengetahuan alam seperti ini memang bukan keahlian saya. Begitupun soal otomotif, olahraga dan kebanyakan hal lain yang menjadi kegemaran (anak) laki-laki. Maka, papanyalah tempat anak saya ‘mengadu.’ Mereka bisa berdiskusi panjang-lebar tentang hal-hal yang mereka berdua minati. Saya memang punya lebih banyak waktu bersama anak sehari-harinya, but I have to admit that my kid looks happiest when he’s playing with his dad.

Papa adalah sahabatnya.
Ssst… Pa, yang tadi jangan bilang-bilang mama, ya.” Beberapa kali saya dengar anak saya ngomong begini, well secara dia ngomongnya di depan saya juga. Pasti karena ia pikir mamanya hobi mengatur, cerewet, bahkan tukang ngomel. Sementara sama papa, hampir apapun boleh. Ibarat kata,  Papa is the good cop dan mamanya… ya kebagian jadi the bad cop. Semakin besar, anak saya juga jadi punya hobi yang mirip dengan papanya. Paling jelas adalah seputar aviasi yang memang passion si ayah (meskipun profesinya bukan pilot, haha). Sekarang anak saya jadi kenal mana pesawat Boeing, mana yang Airbus. Dia tahu bagian-bagian pesawat karena tak pernah bosan mendengar ‘dongeng’ papanya tentang itu. Mungkin ini salah satu cara bonding antara mereka, ya.

- Papa adalah role model-nya.
My son has become my husband’s biggest fan. Seiring dengan waktu, saya melihat kalau di mata anak, apapun yang dilakukan papanya adalah hal-hal yang bukan saja “hebat,” tapi juga “benar.” Papa di matanya adalah sosok pelindung yang tak kenal lelah. Papa juga sosok pemberani. “Papa bisa manjat sampai ke genteng, kenapa mama cuma ambil selimut aja minta tolong papa?” (Kebetulan stok selimut kami ditaruh di bagian teratas lemari baju yang dibuat menjulang sampai ke plafon).
Atau “Mama capek, ya? Sini Bumy pijitin. Bumy mau kayak papa, suka menolong.” Bagian ini, nih, yang senantiasa membuat mata mamanya berbinar-binar, hehehe.

Dari situ saya sadar, kalau ternyata, interaksi anak dengan ayahnya tidak sekadar tentang main-main dan bercanda, tapi juga menjadi sarana untuk mentransfer nilai-nilai kehidupan. Seperti pernah saya tuangkan di artikel ‘wawacinta’ dengan suami beberapa waktu lalu, ia adalah sosok ayah yang banyak terlibat langsung dalam pengasuhan. Namun, keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan anak saat ini  bukan lagi hal langka. Kini semakin banyak ayah yang turut aktif dalam mengasuh anak. Mommies Daily bahkan pernah mengangkat isu tentang “Stay at Home Dads” di artikel ini – beberapa ayah yang dengan bangga menyandang predikat tersebut dan membagi pengalamannya.

Tapi, bagaimana jika suami masih belum banyak terlibat dalam pengasuhan anak? Bagaimana cara kita mengajak agar suami mau lebih aktif terlibat dalam pengasuhan?

Cek halaman berikut untuk mengetahui pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan si kecil dan apa dampaknya jika ayah tidak aktif terlibat.


Post Comment