Motherhood Monday: Style@Work – Pentingnya Penampilan Dalam Bekerja

Beauty over brains: Good looks can be more important to career success than academic achievement.

Kutipan di atas saya ambil dari hasil sebuah riset yang dilakukan oleh Leuphana University of Lüneburg di Northern Germany. Riset ini semakin membuktikan, bahwa, suka atau tidak, penampilan memiliki peran yang tidak kalah penting bagi karier kita.

Saya sendiri masih ingat dengan salah satu pesan Mama yang mengatakan kalau perempuan tidak cuma harus pintar menjaga diri tapi juga penampilannya. Biar bagaimanapun, ‘kemasan’ luar memang memberikan kesan tersendiri dan membentuk image diri. Bahkan sampai sekarang, Mama saya orang yang paling cerewet kalau melihat saya berangkat kerja dengan penampilan seadanya. “Kok, muka polos amat, sih, Dis? Kasih lipstick, dong. Baju yang kamu pakai nggak terlalu santai, tuh?”, hahahaha.

Tapi karena kecerewetan Mama, saya pun jadi mengoreksi diri sendiri. Meskipun bekerja di media, sebuah institusi yang dikenal lebih fleksibel dan tidak kaku, penampilan tetap harus diperhatikan. Tidak harus formil, paling tidak smart casual.

Bicara tentang pentingnya memerhatikan penampilan, minggu lalu Female Daily Network kedatangan tamu dari Style@Work.  Bagi yang belum tahu, Style@Work merupakan bisnis yang dijalankan oeh Dhian E. Febrianasari dan Erika Ardianto untuk memberikan edukasi bagi para perempuan pekerja agar bisa berpenampilan dengan lebih baik.

IMG_7030

Dari mulut mereka saya jadi paham, bahwa dalam menentukan penampilan seperti apa yang kita inginkan untuk bekerja, banyak faktor yang perlu kita perhatikan. Apa saja? Mulai dari memerhatikan job description yang kita miliki, siapa saja orang-orang yang akan kita hadapi hingga aktivitas yang akan kita jalani. Dengan begitu, image diri pun bisa terbentuk dengan baik.

Mbak Dhian sendiri merupakan sosok yang berpengalaman di bidang makeup dan skincare. Sempat bekerja sebagai Beauty Trainer, Public Relation Trainer, Beauty Consultant Capability Manager di SK-II, Olay, L’Oreal Indonesia dan saat ini masih menjabat sebagai National Education Manager Make Up For Ever. Sementara Mbak Erika adalah sosok perempuan yang dekat dengan dunia fashion. Berpengalaman sebagai Fashion dan Beauty Editor di berbagai majalah perempuan terkemuka di Indonesia, pernah menjadi PR Consultant dan saat ini memiliki label pakaian sendiri, Bold Session.

Penasaran dengan cerita Mbak Dhian dan Erika mengenai bisnisnya Style@Work serta bagiamana keduanya membagi waktu untuk suami dan anak-anaknya? Simak, yuk, kutipan obrolan saya bersama mereka.

Ceritain, dong, bagaimana awalnya, kok, bisa berkolaborasi membuat Style@Work ini?

Dhian: Sebenarnya kami awalnya jalan sendiri-sendiri. Erika dengan fashion-nya, saya di bidang makeup dan beauty. Tapi karena kami sudah berteman lama dan suka berbagi ilmu bareng di beberapa perusahaan, dari sana baru, deh, kepikiran, kenapa kita nggak bikin bareng. Ide awalnya ini kita memang sama-sama ingin mengedukasi perempuan bekerja caranya supaya bisa terlihat lebih baik.  Apa adanya tanpa terlihat berlebihan dan tetap profesional.

Jasa apa saja yang Style@Work tawarkan?

Dhia : Sebenarnya tergantung kebutuhannya mau seperti apa, ada yang hanya ingin fashion saja, ada yang inginnya makeup saja. Karena kami memang ingin mengedukasi, jadi lebih banyak tips, trik dan workshop. Misalnya, Erika lebih banyak workshop bagaimana memadupadankan outfit untuk ke kantor, kalau saya workshop tentang makeup dan skincare.

Erika: Biasanya kami sesuaikan dengan kebutuhan manajemen perusahaan. Ada perusahaan yang menganggap penampilan karyawannya kurang proper atau ada yang sama sekali tidak menggunakan makeup.

Keluhan yang paling banyak kalian dengar dar perusahaan, apa saja Mbak?

Dhian: Kalau soal beauty, biasanya tentang karyawan yang dandannya berlebihan seperti mau ke pesta. Tapi ada juga yang sama sekali tidak mau berdandan. Jadi banyak perusahaan yang minta bantuan bagaimana karyawan mereka bisa berdandan yang simple, mudah dilakukan tanpa terlihat berlebihan.

Erika: Kalau dari fashion, biasanya karyawan yang tampilannya terlalu cuek.

Setelah berkeluarga dan punya anak, tidak sedikit perempuan yang memutuskan untuk tidak berkerja. Kalau kalian, ada alasan tersendiri mengapa kenapa tetap memilih untuk tetap bekerja?

Dhia : Bagi saya it’s not about money, kalau bisa melihat orang happy ketika bisa dandan  dan merasa merasa cantik, saya jadi ikut senang. Aura nantinya juga akan ikut happy kan? Baik ke keluarga atau  orang lain. Kalau memang ada yang lebih senang di rumah, menjaga anak saja, pusing karena malas ketemu, itu pilihannya. Kalau saya  sendiri,  kalau  cuma di rumah saja, malah jadi pusing.

Erika : Kalau saya juga bukan tipe perempuan yang bisa diam saja di rumah. Buat saya, ketika kita bekerja, bertemu dengan klien, saya dipaksa untuk terus menigkatkan kualitas diri saya. Buat saya hal seperti ini memang sangat perlu. Apalagi kalau menghadapi anak-anak zaman sekarang yang pertanyaannya sudah sering bikin pusing.   Buat saya, bekerja juga bisa jadi moment me time.

Selain bertujuan untuk memberi edukasi, kalau dari segi bisnis, apakah bisnis Style@Work yang kalian bangun ini cukup menjanjikan?

Dhia : Kalau menurut saya, sih, iya. Prospeknya cukup jelas. Sadar atau tidak, ternyata banyak perusahaan yang membutuhkan jasa kami. Banyak perusahaan yang baru ngeh, kok, karyawan saya bajunya setiap hari seperti outfit hari Jumat, ya? Menurut saya bisnis itu cukup potensial, sih. Banyak perusahaan ingin karyawan mereka tampil lebih menyenangkan. Tanpa sadar, kita memang akan lebih senang jika berbincang dan bekerja dengan orang yang  penampilannya juga baik. Tapi bisnis kami ini memang membutuhkan pendekatan personal.

Erika : Cukup menjanjikan, kok, soalnya sampai sekarang masih banyak orang yang kurang bisa menempatkan diri saat pergi ke kantor. Contohnya, ada, lho, karyawan konsisten kalau pergi ke kantor maunya pakai kemeja dengan motif  Teddy Bear.

Mengingat bahwa kalian sudah punya anak, bagaimana cara mendidik si kecil khususnya soal penampilan?

Dhian: Jadi role model buat anak-anak. Anak saya yang perempuan  suka banget dandan, masalahnya dia suka males mandi, hahaha. Jadi saya sering kasih tahu, bagaimana besarnya mau jadi orang yang berkecimpung di dunia beauty kalau mandi saja tidak mau. Jadi dari kecil saya sudah menamamkan ke anak, kalau perempuan itu tidak bisa hanya cantik dari luar tapi inner beauty-nya juga perlu menjadi perhatian. Saya mengajarkan ke anak-anak bahwa mereka harus menjadi pribadi  yang menarik dan menyenangkan. Tapi memang cara pendekatan harus pelan-pelan. Ketika ngobrol, jadikan anak sebagai partner saya.

Untuk sehari-harinya, saya juga sudah menyiapkan anak-anak untuk bisa fleksibel dalam hidup dan tentunya bertanggung jawab. Misalnya, ketika anak minta makan dengan menu ikan, setelah dibuat, ya, harus makan. Nggak ada, deh, ceritanya saya membuatkan makanan lagi demi anak mau makan. Makan, ya, apa adanya saja. Soalnya, ada kan orangtua yang bela-belain masak sesuai keinginan anak, supaya dia mau makan. Kecuali, saat anak sedang sakit, ya.

Erika: Anak saya memang sudah bisa memilih, bereksplorasi memilih baju sendiri. Saya hanya bisa menghargai pilihannya. Tapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan anak seusianya, saya akan kasih masukan. Kalau segi parenting lainnya, sama saja, sih. Tapi yang pasti saya ingin mengajarkan anak untuk bertanggung jawab dengan pilihannya. Tidak berbeda jauh dengan Dhian. Saya juga mengajarkan untuk tidak bersikap semena-mena terhadap siapa pun. Kalau mau minta sesuatu harus pakai kata tolong, kalau salah, ya harus minta maaf. Harus belajar take and give dengan orang lain.

Seru banget, ya, cerita dan pengalaman dari Mbak Dhian dan Erika ini. Yang jelas, saya mendapat insight penting yang bisa saya aplikasikan sehari-hari. Terutama soal bagaimana harus berpenampilan.


Post Comment