Menyiasati Pengeluaran Dana Menyambut Bayi Baru

Menanti kelahiran si kecil merupakan masa penuh euphoria yang sering membuat kita ‘lupa daratan’. Semua ingin dibeli, kemudian dana persiapan pun kerap kebobolan. Bagaimana menyiasatinya?

pic3

Beberapa tahun belakangan ini, saya tengah merencanakan untuk hamil (lagi).  Meskipun tidak terlalu ngoyo, tetap saja semuanya harus disiapkan secara matang. Tak hanya mental dan fisik saja,  biaya pun juga perlu persiapan, dong. Biar bagaimanapun, membesarkan anak kan perlu kekuatan finansial, hukumnya jadi wajib. Lagipula, bukankah menyiapkan segala hal termasuk finansial sedini mungkin merupakan bagian wujud cinta kasih dan tanggung jawab saya sebagai orangtua?

Ingatan saya masih begitu kental saat menyambut kelahiran Bumi (anak pertama). Seru rasanya, ketika saya membuat list perlengkapan bayi apa saja yang harus dibeli. Namanya juga ibu baru, ya, apa-apa maunya dibeli dan dianggap penting. Kalap nggak karuan, deh. Konsep needs vs wants jadi buyar seketika. Kenyataannya, setelah Bumi lahir, malah banyak sekali baby stuff yang ternyata tidak begitu penting. Salah satu pelajaran yang saya dapat, seharusnya saya investasi in good quality stuffs, supaya bisa awet dan dilungsurkan pada adiknya Bumi nanti.

Belajar dari pengalaman ini, saya ingin berbagi dengan Mommies yang tengah mempersiapkan kelahiran si kecil. Soalnya, tanpa sadar  pengeluaran untuk membeli perlengkapan anak terbilang besar. Kalau nggak disiasati, bisa-bisa malah mengganggu cash flow. Lagi pula, percaya deh kalau sebenarnya bayi itu masih belum perlu banyak punya barang.

Agar pengeluaran tidak terlalu berat, ada beberapa hal saya lakukan, di antaranya adalah

Membuat list

Kalau dulu saya membuat list barang yang saya INGINkan, sekarang saya benar-benar mencatat apa yang saya BUTUHkan. Kemudian catatan ini saya buat lebih detail dengan memasukkan jumlah barang yang diperlukan. Misalnya, dulu, untuk baju bayi saya membeli semua yang saya anggap lucu, sekarang saya hitung dulu kira-kira dalam satu hari butuh berapa kali ganti baju dikali 7 hari. Nah, sejumlah itulah jumlah baju yang saya akan beli.

Belanja dengan cara mencicil      

Saya masih ingat benar, ketika merinci apa saya barang yang ingin dibeli saya sempat terkaget-kaget begitu sadar betapa banyak yang dibutuhkan bayi kita. Sebut saja, mulai dari kebutuhan pakaian, popok, stroller, bouncer, alat-alat mandi, hingga pernak pernik lainnya.  Siasat saya? Cicil dulu membelinya supaya tidak terlalu berat. Saya fokus pada kebutuhan bayi untuk 3 bulan pertama. Sisanya saya beli setelah si kecil lahir. Selain itu untuk pakaian, beli ukuran di atas new born. Mengingat pertumbuhan bayi sangat cepat, kan?

Jangan sungkan

Maksud poin ini, saya tidak akan sungkan untuk mengatakan kebutuhan apa yang masih belum dibeli ketika ada saudara, kerabat atau sahabat yang bertanya, “Mau kado apa?”. Dengan cara ini justru bisa memudahkan mereka untuk membelikan hadiah untuk kita. Mereka juga akan jadi lebih senang jika mengetahui hadiah yang diberikan benar-benar bermanfaat dan tidak terbuang percuma. Saya sendiri sudah sering kali menerapkan hal ini ketika ada saudara atau sahabat yang baru saja melahirkan.

ASI

Saya yakin kalau semua Mommies sudah sangat paham kalau ASI merupakan hak bayi yang patut kita perjuangan. Selain memang nutrisinya sangat baik untuk perkembangan, bisa mengikat kedekatan Ibu dengan anak, memberikan ASI atau air susu ibu secara ekslusif juga juga sangat membantu keuangan rumah tangga. Kita sudah tidak perlu menyiapkan biaya untuk membeli susu formula. Lagipula dengan memberikan ASI secara eksklusif mampu mengurangi risiko  bayi kita terserang berbagai penyakit. Dengan begitu, jatah biaya berobat ke dokter bisa dialihkan untuk post yang lain.

Kalau empat point di atas menjadi kiat saya menyiasati pengeluaran ketika si kecil hadir, bagaimana cara Mommies yang lain? Share, dong, siapa tahu bermanfaat untuk saya kelak ataupun Mommies lainnya.


Post Comment