Traveling Bersama Anak

Travel

SheikaRauf・07 May 2015

detail-thumb

Liburan bersama anak kata beberapa teman saya cukup ribet. Tapi menurut saya sih, nggak, tuh. Malah sebaliknya, fun banget. Asalkan persiapannya matang.

Mendengar kata liburan, pikiran saya sudah melayang ke pantai, gunung sambil menghirup udara segar, dilonggarkan dari segenap rutinitas. Saya termasuk orang yang tidak bisa melihat long weekend nganggur, atau melewatkan cuti bersama maupun jatah cuti kantor untuk traveling.

Kebiasaan ketika saya masih single seperti itu masih terus saya lakukan hingga anak saya sekarang hampir berusia 7 tahun. Mungkin waktu anak saya bayi, ia termasuk baby traveller. Bayangkan saja, sejak umurnya belum genap 1 bulan, dia sudah saya ajak jalan-jalan ke museum ! Ribet ? Kalau soal ribet yang saya pikirkan, maka saya tidak akan pernah mengajak anak saya jalan-jalan dan kisah pengalaman traveling saya akan berhenti sampai di situ. Ini dia point yang perlu diperhatikan setiap kali saya traveling bersama Zola.

Travel-10

 

*Gambar dari sini

#1

Poin penentu keberhasilan traveling bersama bayi dan balita adalah pasangan kita. Semakin pasangan kooperatif, semakin seru kisah perjalanan sekeluarga, bahkan tanpa pengasuh sekalipun.

#2

Less is more. Memang tak bisa dihindari, traveling bersama bayi atau balita perlu barang bawaan ekstra. Tapi tidak selalu harus seperti rombongan sirkus, kok, kecuali kalau Anda memang berlibur ke tempat yang mungkin sulit membeli diaper.

#3

Kenali lokasi tempat berlibur. Saat anak saya  masih bayi, saya biasanya hanya membawa diaper untuk tiga hari dan mencari tahu pasar lokal atau supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan. Sementara untuk balita, saya selalu membiasakan dia mengonsumsi makanan yang kami makan sekaligus mencicipi makanan setempat.

#4

Memaksimalkan jasa pelayanan yang akan memudahkan liburan kami. Misalnya, sebisa mungkin, saya menggunakan jasa laundry, bisa lewat laundry hotel atau laundry kiloan yang menjamur itu. Kalau traveling ke negara maju lebih asyik lagi karena mesin cuci dengan koin mudah ditemukan di tiap sudut jalan. Baju pun bisa dipakai lagi, tidak perlu membawa pakaian terlalu banyak.

#5

Cari penginapan berbentuk apartemen atau condotel. Sekarang sudah banyak sekali penyewaan apartemen melalui beberapa situs, seperti airbnb atau couchsurfing. Dengan menyewa apartemen atau condotel, suasana bisa dibuat seperti di rumah, sekaligus memanfaatkan fasilitas yang tersedia dengan harga lebih murah. Namun, hati-hati memilih, lihat dan pelajari semua testimoni orang-orang yang pernah menggunakan jasa ini.

#6

Siapkan itinerary dan aktivitas yang jelas. Traveling bersama bayi justru lebih mudah karena ia tinggal mengikuti ke mana kita pergi dan saat lelah dia bisa beristirahat di pelukan saya atau di stroller. Namun, itinerary dan list kegiatan dibutuhkan ketika traveling bersama balita. Sebelum saya pergi, saya pasti sudah browsing tentang lokasi yang akan kami kunjungi dan mencari tahu apa yang asyik untuk anak saya – dan juga orangtuanya – dan mencatatnya. Tidak perlu membuat jadwal ambisius, harus disesuaikan dengan kondisi anak.

#7

Siapkan mainan dan permainan seru selama di perjalanan. Jangan bayangkan bisa duduk santai sambil melihat pemandangan di perjalanan. Anak saya pasti menuntut perhatian untuk diajak bermain. Biasanya saya membawa beberapa buku, kertas, spidol, pinsil warna dan lego. Selebihnya, kami bermain ABC lima dasar, permainan tangan dan jari dan bernyanyi sepanjang perjalanan. Jika menggunakan kereta atau pesawat, biasanya anak saya senang sekali diajak berjalan-jalan sepanjang lorong.

#8

Jangan ubah rutinitas. Saya hindari mengubah rutinitas, terutama untuk jam tidur dan jam makan. Biasanya toleransi jam tidur anak saya tidur paling lambat pukul 8 malam dan bangun pukul 6 pagi. Ketika sedang liburan, batas toleransi mundur satu jam. Tidak lebih! Yang berubah adalah kegiatan saat ia bangun. Ini untuk menghindari ia berubah cranky dan sulit beradaptasi kembali ketika liburan usai.

Teman saya yang lain sesama mommies juga punya keseruan tersendiri ketika berlibur bersama anaknya. Seperti Aya, ibu dari Abhi (6 tahun). Karena Abhi mengidap ADHD maka Aya selalu memastikan membawa camilan non gluten. Jangan lupa membawa benda kesayangan dan memastikan mood-nya tetap stabil. Dan, karena Abhi harus dibuat tetap aktif jangan sampai bosan, biasanya di setiap perjalanan Aya selalu mengajak Abhi untuk berenang.

Kalau mommies yang lain bagaimana? Berbagi tips dong supaya saya memiliki ‘amunisi’  yang banyak saat berlibur bersama Zola di long weekend minggu depan.