Motherhood Monday : Ria Sarwono, “Cotton Ink Bukan Jago Kandang”

Ria

Banyak yang bilang kalau membangun usaha bersama teman itu tidak mudah, banyak konfliknya. Mengalami hal ini?

Wah, kami banyak berantemnya. Berantem sampai diem-dieman juga pernah. Tapi, Carline mengajarkan saya kalau bisnis ya bisnis, berteman ya berteman. Harus benar-benar make it clear.  Hitung-hitungan harus jelas, kami berdua harus digaji. Tidak bisa dipungkiri money is matters.

Biasanya, masalah apa sih yang sering bikin kalian salah paham?

Kalau dulu saat, berantemnya karena capek. Apa-apa kan hanyak dikerjakan oleh kami berdua. Akhirnya kami saling mengingatkan saja, sih. Kalau lagi berantem kami sama-sama harus ingat, we have a big dream about this brand. Ya, mungkin di tengah pekerjaan yang begitu banyak, vision membesarkan brand kan agak susah. Buyar karena kami sudah capek, tapi juga harus mikirin bagaimana brand bisa long lasting , tapi ini yang jadi penyemangat kami, sih. Keluarga, teman-teman dekat yang ngedukung kami dari awal juga selalu kasih semangat.

Biasanya inspirasi desain baju Cotton Ink dari mana saja?

Awalnya dari saya dan Carline. Carline itu suka tanya, “Ri, loe mau pakai baju apa?” Gaya saya dan Carline berbeda, Carline lebih feminin sementara saya lebih casual dan boyish. Dari situ timbul ide. Tapi kami punya persamaan, suka pakai baju biasa yang bisa kami pakai setiap hari, nyaman dipakainya. Nggak perlu bingung, ini mau dipadu dengan aksesoris apa, ya? Kalau punya baju Cotton Ink di dalam lemari, the first thing in the morning yang mau dipakai, ya, Cotton Ink. It’s happen to me and Carline.  Pernah suatu waktu, Carline bilang ke saya, “Ri, kok baju yang loe pakai itu itu aja, sih?”. Ya, habis gimana, bajunya ini ada di bagian paling atas lemari, hahaha.” Tapi dari sana, kami sadar kalau kami butuh membuat koleksi baru lagi.

Setelah membuka toko di Kemang, ada target akan buka toko berapa banyak?

Belum ada, sih, ya. Mungkin karena basic-nya kami ini online store jadi kami sama sekali tidak memasang target.

Kasih alasan, dong, kenapa para perempuan harus memiliki produk Cotton Ink?

Cotton Ink ini  every day wear, yang perempuan bisa pakai setiap hari tanpa harus berpikir  panjang, mau pakai aksesoris apa, ya? Dipadu dengan apa, ya? Coba kalau punya satu baju Cotton Ink pasti hari-harinya akan sering pakai baju Cotton Ink.

Biasanya berapa jumlah produksi untuk satu koleksi baju Cotton Ink?

Kami ada beberapa model yang selalu kami bikin, misalnya signature items kami. Kalau pertama kali produksi, biasanya sih 80-100 baju. Tapi lihat di pasar juga, kalau ternyata demand-nya ok, biasanya akan  kami repeat.

Produk apa yang paling dimininati dan sering diproduksi ulang?

So far, sih, ada kemeja, namanya Devon shirt, kmi sudah bikin sampai 10 hingga 12 warna. Model ini sebernarnya sudah dari ada dari dua tahun lalu, tapi selalu kami repeat karena hingga saat ini masih banyak yang suka.  Kalau untuk produk baru, setiap minggu pasti akan bikin model baru. Jadi memang produksi terus menerus.

Kedepannnya Cotton Ink ini mau di bawa ke mana? Apa impian terbesar untuk Cotton Ink?

Cita-cita kami itu  masih jauh ke depan tapi kami sama-sama punya target dan angan-angan . Kalau Swedia punya H&M, Jepang punya Uniqlo, Indonesia itu punya Cotton Ink.

Kalau sudah ada target, biasanya ada step-step untuk mendapatknya. Untuk menuju global market sudah jelas, sekarang sudah sampai mana?

Kami sudah ada whole seller dan mulai ekspor ke Malaysia dan Singapura. Tapi memang masih dalam jumlah yang kecil. Kami tidak mau dibilang Cotton Ink hanya ‘jago kandang.’  Tapi untuk saat ini, sih, kami memang masih fokus untuk menjadikan Cotton Ink juara dulu deh di Indonesia.

—-

Wah, mendengar impian terbesar  Ria Sarwono dan Carline membuat saya merinding. Mudah-mudahan saja, lima hingga sepuluh tahun mendatang apa yang mereka cita-citakan bisa terwujud, ya.


5 Comments - Write a Comment

  1. hello
    i’m not a writer nor editor, just a regular working mother
    but i found so many typo’s in this article
    moreover, mixing/combining bahasa and english in one word is not appropriate.. me-maintain? what is that mean?
    and, the most highlighted “flaw” from this article is, in my opinion, no motherhood related whatsoever
    you are purely talking about 2 friends starting business together
    i don’t think this article is belong to MD.. it is more proper to be written in fashionese daily or elsewhere, IMHO

    1. adiesty

      Hallo Mbak,

      Terima kasih untuk masukan dan revisinya. Untuk menggabungkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris memang sepertinya kurang pas, ya, Tapi karena saya menulis artikel tersebut dengan format Q & A, jadi saya menulis kutipan jawabannya sesuai dengan apa yang dikatakan Mbak Ria. Kode etiknya memang nggak boleh mengubah apa yang dikatakan nara sumber.

      Saat ini MD ingin memperbanyak artikel soal MommiesPreneur, untuk itu kemarin obrolannya lebih ke arah bisnis yang dilakukan Mbak Ria bersama sahabatnya, Carline. Siapa tahu bisa menginspirasi Mommies yang lainnya.

      Oh, ya, fashionese daily sudah lama ganti nama jadi Female Daily, dan Female Daily juga akan menulis soal Cotton Ink ini juga, kok, tapi dengan sudut pandang yang berbeda :)

  2. Boleh ya menyuarakan pendapat walopun gue bukan seorang ibu, tapi ini sebagai FD-er dan penggemar CI.

    Yang dimaksud si Chenduolll tentang artikelnya sendiri mungkin pertanyaan yg lebih nyambung ke motherhood, tapi ya ngga terlepas dari segi bisnis itu sendiri? Like, perhaps asking if they’ll ever going to release a clothing line? or the challenges she faces being a working mother? I’d think these type of questions wouldn’t suit Female Daily as much as it would suit Mommies Daily.

    Also please check & double check typos & grammatical errors (baik yg bahasa inggris maupun yg bahasa indonesia) before you publish, especially now that your readership has gone up. There are really quite a few here and sorry it’s painful to read.

    Just a concerned reader here.

  3. Inspiring article! Tapi… sama dengan cHenduolll dan disti nih, saya merasa janggal. Ada bagusnya kalo memang mau tulis artikel soal MommiesPreneur, artikel bisa menunjukkan sisi mommy-nya di mana. I don’t even know if these two ladies are mommies or not.

    Dan benar sekali, kesalahan tata bahasa dalam kalimat-kalimat bahasa Inggris di artikel ini ganggu banget deh. I don’t mind mixing language, as long as they both are written in correct grammar.

    Satu lagi, mau kasih masukan buat Cotton Ink. Soalnya sudah pernah kasih masukan via email dan instagram kok no comment. Masukan ini mungkin bukan pendapat saya aja, tapi pendapat banyak fans Cotton Ink lain. Website sering bermasalah, terutama kalo sale. Mungkin juga karena traffic tinggi. Tapi seringkali item yang sale pas diklik untuk lihat detail dan purchase, malah dibilang salah link (kayanya kalo gini bukan karena high traffic ya). If you really want the online business to be your main business, it has to be excellent imo.

Post Comment