Motherhood Monday : Ria Sarwono, “Cotton Ink Bukan Jago Kandang”

“Saya berharap, ‘perjalanan’ saya tidak  hanya menginspirasi untuk saat ini saja tapi juga dapat memberi inspirasi  untuk generasi berikutnya. The most important is we can inspired our nation. Itulah mimpi terbesar saya. Kalau Swedia punya H&M, Jepang punya Uniqlo, Indonesia itu punya Cotton Ink,”  ujar Ria Sarwono, salah satu pendiri Cotton Ink.

Banyak cara untuk membuktikan kalau kita mencintai tanah air. Salah satunya, tenScreen Optionstu dengan memilih dan menggunakan produk dalam negeri. Sering kali saya juga mendengar kalau pemerintah menyerukan kampanye untuk selalu mencintai produk lokal. Tapi sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap remeh produk dalam negeri. Miris, ya?

Saya sendiri termasuk pecinta produk lokal. Salah satunya adalah Cotton Ink – brand ready-to-wear Indonesia yang tidak bisa dianggap sebelah mata karena menawarkan beragam produk fashion berkualitas. Desain busananya yang sangat simpel namun versatille, menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang jatuh cinta pada brand ini.

riasarwono

Setelah 7 tahun memasarkan produknya secara online, saat ini Cotton Ink telah memiliki toko offline di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Beruntung, saat pembukaan toko ini saya sempat hadir dan berbincang dengan Ria Sarwono, salah satu sosok di balik lahirnya brand Cotton Ink. Di obrolan santai ini, ia  banyak bercerita mengenai mimpinya untuk Cotton Ink. Mimpinya sebagai Brand & Marketing Director serta mimpi sahabatnya, Carline yang bertugas sebagai Creative Director ingin menjadikan Cotton Ink sebagai salah satu brand ready-to-wear terdepan di Indonesia.

Cerita, dong, ide awal kenapa akhirnya Cotton Ink mau membuka store sendiri?

Sebenarnya kami selalu mendengarkan masukan dari customer kami. Dari Instagram banyak permintaan agar kami membuka toko offline. Dulu, kami sempat buka di eX, tapi itu bukan official store dan saat itu bisa dibilang kami masih trial and error. Karena kalau dibandingkan dengan penjualan online, toko offline memang kurang efisien, baik dari segi biaya, waktu, SDM dan segala macamnya. Kami memang ada whole seller, tapi kami mulai merasa sepertinya brand kami kurang bisa ‘tampil’ dengan baik kalau hanya mengandalkan penjualan semacam  ini. Dengan memiliki toko offline, pembeli tentu lebih bisa merasakan apa yang ingin kami berikan ke mereka. Lebih personallah, mungkin. So, we were here, dengan Cotton Ink store dan di atas juga ada creative space, di samping buat customer juga untuk  tim kami, kami ingin memberikan tempat untuk bekerja yang lebih kreatif. Creative bussiness needs creative people and needs creative space.

Setelah membuka store, penjualan online juga tetap dikembangkan, dong?

Iya pasti tetap jalan, karena pada dasarnya kami ini memang online store. Jadi segala macam offline activities, offline events, semua dilakukan untuk mendukung aktivitas online. Kami nggak bisalah menutup mata  karena our generation, our customer sekarang ini memang toko mereka ya ada di handphone. Jadi, kami menawarkan content yang bagus untuk dipasarkan dan bagaimana caranya ada space yang bisa menunjang itu semua. Memang kalau dari penjualan, antara online dan offline pasti jauh beda. Tapi content yang kami punya tentu jadi jauh lebih berkualitas karena sekarang sudah ada store-nya. Jadi the way kam nge-treat customer dengan cara seperti ini. Kalau ada orang yang datang dari luar daerah, kan bisa datang, dia bisa pegang, bisa nyobain bajunya. Jadi feel-nya akan beda.

Cotton Ink kan sudah berdiri selama 7 tahun, bagaimana caranya me-maintenance pangsa pasar?

Itu soal timing saja, sih, ya. We are started earlier. Kam mulai 7 tahun lalu ketika online shop belum banyak, Indonesian local produk juga belum banyak, terutama pakaian ready to wear. Mungkin juga karena waktu kami memulai sudah cukup lama. Kalau ditanya bagaimana kita memaintain, ya, itu jawabannya. Because we started earlier dibanding yang lainnya.

Membangun usaha bisa dibilang lebih mudah dibanding mempertahankannya. Bagaimana cara Cotton Ink tetap bisa bertahan selama 7 tahun ini?

Menurut saya, visi dan misi brand dari awal harus jelas. Saat kami mulai kami juga tidak ada manual book sama sekali. Kami berdua sama-sama belajar. Kami juga tidak ada basic di dunia bisnis, bukan business graduates. Kami entrepreneur, karena Carline memang fashion desainer, jadi memang sudah nature-nya mendesain baju. Kalau saya graphic designer, tapi setelah selesai kuliah saya tidak berminat bekerja di tempat orang. Jadi, kami sebenarnya berbekal semangat saja, sih. Saya ingat ada yang bilang, setinggi-tingginya jabatan Anda di kantor, Anda tetaplah karyawan. Tapi sekecil-kecilnya bisnis yang dibangun, Anda adalah boss.

Selanjutnya, Ria bercerita suka duka membangun bisnis bersama sahabatnya, Carline Darjanto.


5 Comments - Write a Comment

  1. hello
    i’m not a writer nor editor, just a regular working mother
    but i found so many typo’s in this article
    moreover, mixing/combining bahasa and english in one word is not appropriate.. me-maintain? what is that mean?
    and, the most highlighted “flaw” from this article is, in my opinion, no motherhood related whatsoever
    you are purely talking about 2 friends starting business together
    i don’t think this article is belong to MD.. it is more proper to be written in fashionese daily or elsewhere, IMHO

    1. Hallo Mbak,

      Terima kasih untuk masukan dan revisinya. Untuk menggabungkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris memang sepertinya kurang pas, ya, Tapi karena saya menulis artikel tersebut dengan format Q & A, jadi saya menulis kutipan jawabannya sesuai dengan apa yang dikatakan Mbak Ria. Kode etiknya memang nggak boleh mengubah apa yang dikatakan nara sumber.

      Saat ini MD ingin memperbanyak artikel soal MommiesPreneur, untuk itu kemarin obrolannya lebih ke arah bisnis yang dilakukan Mbak Ria bersama sahabatnya, Carline. Siapa tahu bisa menginspirasi Mommies yang lainnya.

      Oh, ya, fashionese daily sudah lama ganti nama jadi Female Daily, dan Female Daily juga akan menulis soal Cotton Ink ini juga, kok, tapi dengan sudut pandang yang berbeda :)

  2. Boleh ya menyuarakan pendapat walopun gue bukan seorang ibu, tapi ini sebagai FD-er dan penggemar CI.

    Yang dimaksud si Chenduolll tentang artikelnya sendiri mungkin pertanyaan yg lebih nyambung ke motherhood, tapi ya ngga terlepas dari segi bisnis itu sendiri? Like, perhaps asking if they’ll ever going to release a clothing line? or the challenges she faces being a working mother? I’d think these type of questions wouldn’t suit Female Daily as much as it would suit Mommies Daily.

    Also please check & double check typos & grammatical errors (baik yg bahasa inggris maupun yg bahasa indonesia) before you publish, especially now that your readership has gone up. There are really quite a few here and sorry it’s painful to read.

    Just a concerned reader here.

  3. Inspiring article! Tapi… sama dengan cHenduolll dan disti nih, saya merasa janggal. Ada bagusnya kalo memang mau tulis artikel soal MommiesPreneur, artikel bisa menunjukkan sisi mommy-nya di mana. I don’t even know if these two ladies are mommies or not.

    Dan benar sekali, kesalahan tata bahasa dalam kalimat-kalimat bahasa Inggris di artikel ini ganggu banget deh. I don’t mind mixing language, as long as they both are written in correct grammar.

    Satu lagi, mau kasih masukan buat Cotton Ink. Soalnya sudah pernah kasih masukan via email dan instagram kok no comment. Masukan ini mungkin bukan pendapat saya aja, tapi pendapat banyak fans Cotton Ink lain. Website sering bermasalah, terutama kalo sale. Mungkin juga karena traffic tinggi. Tapi seringkali item yang sale pas diklik untuk lihat detail dan purchase, malah dibilang salah link (kayanya kalo gini bukan karena high traffic ya). If you really want the online business to be your main business, it has to be excellent imo.

Post Comment