DBD:Lebih Berbahaya Pada Anak Dibanding Pada Orang Dewasa?

Banyak yang mengatakan bahwa virus dengue yang menyerang anak-anak lebih berbahaya ketimbang orang dewasa. Benarkah?

nyamuk-db

*Gambar dari sini

Beberapa waktu lalu, saya terhenyak mendapat kabar duka dari salah satu teman semasa SMP. Bagaimana tidak, kabar tersebut menyatakan kalau anak pertamanya yang berusia lima tahun meninggal dunia disebabkan penyakit DBD. Sebagai Ibu, nggak kebayang rasanya kalau ditinggal oleh buah hati.

Sebenarnya, saya sendiri sudah cukup sering mendengar kasus kematian pada anak yang disebabkan DBD. Dalam sebuah berita saya pernah membaca kalau angka kematian akibat dengue di Indonesia masih terbilang tinggi. Lebih menyedihkan, angka kematian terbanyak terjadi di kelompok anak-anak. Data dari World Health Organization (WHO) pada 2010 mencatat, insiden demam dengue meningkat selama 50 tahun terakhir.

Mengetahui kondisi dan fakta seperti ini jelas membuat semua kaum Ibu seperti saya khawatir. Iya kan? Apalagi kalau ingat DBD ini bisa menyerang siapa pun, dan kapan pun. Termasuk bagi mereka yang sudah pernah terkena DBD. Singkat kata, sudah pernah terserang demam berdarah bukan berarti kebal virus dengue.

Hal ini semakin membuat saya lebih waspada dengan melakukan beberapa tindakan pencegahan agar nyamuk aedes aegypti tidak berkembang biak. Saya nggak mau jika pengalaman beberapa tahun lalu ketika Bumi terkena DBD terulang kembali. Apalagi banyak yang mengatakan bahwa virus dengue yang menyerang anak lebih berbahaya ketimbang orang dewasa. Tapi benarkah? Apakah gejala antara anak dan orang dewasa berbeda?


2 Comments - Write a Comment

Post Comment