Selamat Hari Buruh Untuk Saya

Iya, saya menganggap diri saya juga bagian dari buruh karena hingga saat ini saya masih bekerja untuk orang lain. Hehehe…

Kalau saya cek arti kata Buruh di Wikipedia atau KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Dan, ya memang itu yang saya lakukan. Doakan saja semoga besok-besok saya bisa berganti status menjadi mompreneur (Amiiiin).

Hari ini, bertepatan dengan Hari Buruh, saya sedikit ingin membahas mengenai hak untuk Working Mother versi saya. Ingat ya, ini menurut saya lho, keinginan seorang pekerja perempuan yang juga seorang ibu. Dan, ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan. Bagaimana kalau kita memulainya dari Hak dulu? Hak Cuti Tahunan, THR dsb tidak akan saya bahas di sini, karena saya mau fokus  pada hak yang bisa membuat perempuan atau ibu bekerja merasa lebih nyaman.

mother-balancing-lfe-andbaby

*Gambar dari sini
  1. Hak Cuti Haid

Senangnya, untuk urusan hak yang satu ini, sekarang rasa-rasanya sih semua perusahaan sudah memberikannya ya. Kenapa menurut saya ini penting? Well, tidak semua perempuan diberkati bisa merasakan haid tanpa rasa sakit. Saya sendiri termasuk golongan perempuan yang kalau haid masih bisa survive untuk bekerja. Tapi, ada beberapa teman saya yang di hari pertama haid mereka akan merasakan sakit yang luar biasa sampai wajahnya pucat pasi atau bahkan pingsan. Jadi, bukan karena kami sok manja terus menuntut diberikan cuti haid, tapi memang ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan kami untuk tetap bekerja.

  1. Hak Cuti Melahirkan

Kalau ini saya yakin semua perusahaan pasti sudah melakukannya. Tapi yang menjadi concern saya di sini adalah mengenai lamanya waktu cuti melahirkan diberikan. Sampai saat ini, sepengetahuan saya, Indonesia masih memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan. Mengenai kapan mau mulai diambilnya, apakah mendekati waktu persalinan (dengan harapan bisa lebih lama bersama si kecil), atau mau jauh-jauh hari sebelum persalinan, biasanya  tergantung dari kebijakan perusahaan. Tapi, saya pribadi kok merasa waktu 3 bulan itu kurang ya. Harapan saya? 6 bulan. Mengapa?

Ini berkaitan dengan kebutuhan bayi akan pemberian ASI Ekslusif sih. Tetap memberikan ASI ekslusif sembari bekerja memangnya sulit? Ya tidak juga. Tapi kan akan lebih indah kalau ibu baru bisa fokus selama 6 bulan merawat si kecil sambil memberikan ASI ekslusif tanpa harus merasa khawatir apakah stok ASI di rumah cukup? Atau di mana saya harus memerah ASI ketika sudah bekerja?

  1. Hak Atas Ruang Menyusui/ Memerah ASI

Nah, poin ketiga ini masih ada hubungannya dengan poin nomor dua. Kalau misalnya cuti melahirkan memang hanya bisa 3 bulan saja, bagaimana kalau kantor-kantor sekarang mulai memikirkan untuk menyediakan ruang menyusui atau ruang memerah ASI yang layak untuk para ibu.

Sudahlah ibu baru ini harus ‘meninggalkan’ bayinya di rumah , masa iya harus diribetin juga dengan mencari lokasi yang nyaman untuk memerah ASI? Pernah saya mendapati seorang teman kerja saya dulu harus memerah ASI di kamar mandi. Kasihan kan? Tidak perlu ruangan yang luas dan mewah, cukup yang sederhana namun terjaga privasinya. Sesederhana itu kok.

Bagaimana dengan Anda? Sudah merasa hak Anda sebagai perempuan atau ibu bekerja terpenuhi? Share yuk…

 

 


3 Comments - Write a Comment

  1. saya gak setuju dgn cuti melahirkan 6 bulan. krn kantor jg kan gak punya hak utk menentukan jumlah anak seseorang..
    gimana kalo ada karyawati yg melahirkan tiap tahun, atau 1,5 atau 2 tahun sekali, dan ini banyak lho.. dia akan punya waktu kerja lebih sedikit drpd waktu cutinya..
    dan akhirnya tugas2nya bisa digantikan oleh para laki2..
    well,, ini pendapat saya pribadi.. maaf bagi yg keberatan..

Post Comment