Atur-Atur Keuangan untuk Freelancer

Jangan takut keuangan akan Senin-Kamis hanya karena menjadi freelancer. Asal paham aturan mainnya, freelancer bisa, kok, memiliki kondisi keuangan yang aman dan nyaman.

Sudah dua tahun saya menukar profesi, dari seorang pekerja purna waktu menjadi ibu rumah tangga sekaligus pekerja lepas. Bidang yang saya geluti pun tidak ada hubungannya sama sekali dengan yang sebelumnya. Kalau tadinya lebih banyak berinteraksi dengan angka dan kode program, sekarang saya mengisi kesibukan dengan bercerita dan menerjemahkan kata-kata (selain mengurus anak dan berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga, tentunya).

freelance-work
Gambar dari sini

Tidak cuma rutinitas, tantangan maupun kepuasan kerja yang berbeda, pastinya juga ada kesenjangan dari segi finansial. Menjadi karyawati kompensasinya sudah jelas: mendapat penghasilan rutin dan berbagai macam manfaat lainnya. Sementara saat menjadi freelancer, penghasilan tergantung pada seberapa banyak job atau project yang saya tangani. Meskipun dalam keuangan rumah tangga saya bukan pencari nafkah utama, bagaimanapun, tetap saja saya menemui tantangan dalam mengelola keuangan dengan status yang berubah ini. Beberapa tantangan yang sering saya alami adalah:

  • Saya jadi merasa lebih bertanggung jawab dalam mengelola arus kas rumah tangga.
    Tadinya, penghasilan saya bisa menjadi “kran” tambahan, dan saya pun bisa dengan leluasa memanfaatkannya karena merasa itu ‘uang sendiri.’ Kini, meskipun tidak bermewah-mewah, bagi saya menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah privilege. The way I see it, suami banting tulang supaya saya bisa fokus mengurus anak (at least begitulah idealisme yang tertera di visi-misi “Why I Wanted to be a Stay-at-Home-Mom” saya beberapa tahun lalu, hihihi). Apalagi, as cliche as it sounds, biaya hidup juga kerap merangkak naik. Tentu saya perlu lebih cerdas mengutak-atik alokasi income dan expense.
  • Tantangan kedua adalah belajar mengelola pendapatan pribadi yang kini tidak rutin lagi. Meskipun hanya bekerja lepas, tapi niat utama saya menjalankannya tetap untuk membantu keluarga. Kalaupun tidak bisa berkontribusi sebanyak sebelumnya, paling tidak saya nggak menambah pengeluaran.

Setelah tahu tantangannya, sekarang mari kita cari tahu hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan di halaman berikut.