Motherhood Monday, Amalia Sari; “Jangan Bangga Jadi Orangtua Gaptek”

Beberapa waktu lalu Mommies Daily sempat berpartisipasi mengisi acara Sosial Media Week dengan membuat talkshow parenting di Media Sosial. Sebelum acara dimulai saya ngobrol dengan nara sumbernya, Amalia Sari Utomo. Ibu dari Raia ini adalah seorang Creative Director Juara Agency. Jadi kalau ngomongin masalah digital parenting, pas banget deh!

lia

Jika banyak orangtua yang sering ketakutan kalau anaknya aktif di sosial media, perempuan yang lebih sering disapa Lia ini jutru melihat banyak keuntungan dari sosial media. Hal ini dikarenakan sosial media merupakan jendela pertama pergaulan, bahkan ke masa depan. “Jadi semestinya social media ini sih nggak ada minusnya,” begitu katanya.

Selain ngebahas soal parenting dan media sosial, Lia juga banyak cerita bagaimana dirinya tertantang mengasuh anaknya yang sudah masuk ke dalam usia puber. Apalagi jika mengingat dirinya sebagai single parent. Penasaran nggak, sih, dengan cerita serunya? Berikut kutipan wawancara saya waktu itu..

Hallo Mbak Lia, lagi sibuk apa saja, nih sekarang?

Kegiatannya masih seperti biasa. Aku kan kerja di Juara Idea Agency, jadi sekarang sibuknya itu pitching dengan client baru, kerjain tugas lama, bantu anak-anak di kantor. Di rumah, sibuk dengan anak, sekarang ini  aku juga tiba-tiba disuruh jadi anggota KPOG gitu di sekolah anak aku.

Wah, masih sempat aktif di sekolah juga?

Ya disempat-sempatin, sih. Kalau ke sekolah kan biasanya kegiatan dilakukan pagi hari jam 7. Sementara kerja di agency biasanya datang siang, pulang malam. Jadi kalau ke sekolah lumayanlah bisa ngatur waktunya. Lagipula anak aku sepertinya senang banget kalau aku punya waktu buat datang ke sekolah, jadi ya sempat-sempatin aja.

Selain bikin anak senang, ada alasan lain nggak kenapa Mbak mau aktif di sekolah?

Alasan pertama memang karena anak, ya. Kalau kita aktif dan sering ke sekolah pasti anak-anak senang, alasan yang  lainnya, biar bagaimana pun orangtua dan pihak sekolah hubungannya harus erat. Kadang sekolah juga butuh masukan dari orangtua. Selama ini sekolah lebih fokus pada akademis anak-anak, sementara di dunia ini kan anak-anak nggak perlu nilai akademis saja yang bagus. Contohnya seperti ini, deh, sharing soal digital atau karir. Kita juga perlu tahu mereka mau jadi apa nantinya. Untuk kegiatan non akademis seperti ini sekolah memang perlu diingatkan. Kita sebagai orangtua juga perlu memberikan kritikan membangun sebagai masukan.

Mengingat anak Mbak Lia, Raia, sudah ABG, pasti sudah familiar dengan media sosial, dong ya. Awalnya, ada kesepakatan yang dibuat nggak antara Mbak dan Raia ketika mulai aktif di sosial media?

Kalau anak aku kebetulan akun sosial media yang resmi dibukakan hanya Instagram. Kenapa, karena menurut aku Instagram ini masih ada sisi kreativitasnya. Akun ini juga masih bisa di lock, jadi masih bisa terkontrol. Tapi, tanpa sadar biasanya anak-anak itu sudah masuk ke sosial media itu ketika mereka melihat video di You Tube. Dan selama ini banyak orangtua yang nggak sadar kalau You Tube itu merupakan social media, ada komentar, sharing, dan saling follow. Tapi selama ini banyak yang nggak ngeh. Tapi kalau social media yang benar-benar aku izinkan untuk dia buka adalah Instagram.

Selanjutnya, keuntungan anak memiliki akun  sosial media.


Post Comment