Motherhood Monday: Stella Sutjiadi, “Bermain Jadi Perekat Orang Tua dan Anak”

Nah, kalau bahan-bahannya gimana?

Kalau bahan biasanya saya maksimalin dari apa yang terutama barang-barang bekas. Kalau dirasa kurang, baru ditambah dengan bahan yang sudah saya beli dan memang sudah saya stok di rumah. Tiap pergi jalan-jalan sama Daffa, saya suka sambil lirik-lirik, sih, apa yang kira-kira bisa dijadiin bahan mainan. Pas ketemu sesuatu, ya langsung dibeli. Jadi nanti waktu mau bikin sesuatu tinggal ambil dari kotak-kotak persediaan bahan.

Jadi penasaran, deh, Stella memang sudah suka bikin prakarya dari kecil, ya?

Iya, kebetulan begitu, hehe. Saya suka sekali menggambar. Waktu kecil, saya pernah coba bikin rumah polypocket sendiri dari kotak plester. Well, nggak selesai, sih, hahaha! Ini gara-gara lihat polypocket sepupu, terus kepingin, tapi nggak akan dibeliin juga sama mama.

Sebetulnya dulu setelah berhenti kerja dan sebelum Daffa lahir, saya sempat punya online shop berdua sama adik ipar. Kami menjual crafty stuff hasil karya berdua. Tapi sejak Daffa usia 4 bulanan, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dulu dan fokus untuk Daffa sampai sekarang.

So how was becoming a mother changed the way you create?

Jelas sekali berubah! Semua berubah arah menjadi untuk Daffa. Dulu saya masih suka terima pesanan sarung bantal atau apron set untuk anak. Tapi, ya itu tadi, sejak Daffa 4 bulan, saya stop semua. Jadinya setiap hari hanya bikin karya untuk dipakai beraktivitas dengan Daffa.

ss3

Oke, jadi sekarang berkarya untuk Daffa, ya! Kalau mengatur waktu untuk membuat objek mainan ini bagaimana, Stel?

Biasanya saya buat ketika Daffa tidur, atau ketika Daffa sedang screen time, saya cicil membuat mainannya sambil menemani Daffa nonton. Walau susah, sih, karena biasanya Daffa minta ditemenin nontonnya, nggak boleh nyambi!

Daffa ikut bantu bikin-bikin nggak?

Daffa ini punya kecenderungan cepat sekali bosan. Jadi saya berusaha menghindari momen membosankan bagi Daffa karena bisa menghilangkan mood baik untuk bermain akibat terlalu lama menunggu proses pembuatan mainannya. Jadi kalau urusan mengajak Daffa membuat mainannya, saya lihat dulu tingkat kesulitannya. Kalau memang terlalu sulit, saya yang buat semuanya. Jadi Daffa bisa langsung fokus pada permainannya. Kalau tidak terlalu sulit, saya akan ajak Daffa ambil bagian misalnya menghias atau menyambung beberapa bagian yang sudah jadi.

Tentunya saya berharap sekali, Daffa bisa ikut ambil bagian dalam setiap pembuatan mainannya.

Seru, ya! Lalu Stel, kalau jadwal untuk setiap permainan bagaimana?

Well, seorang teman pernah cerita bahwa sebenarnya jadwal bisa membantu anak menjadi lebih teratur. Dengan adanya jadwal, lama kelamaan anak jadi terbiasa dengan ritme hidupnya. Tapi untuk Daffa sendiri, nih, sebetulnya saya sudah lama ingin menerapkan teknik jadwal ini, hanya belum bisa teralisasi hingga sekarang.

Bentuk jadwalnya yang ingin saya buat, persis seperti contoh tadi. Senin: sensori, Selasa: art&craft, Rabu: motorik halus, Kamis: motorik kasar, Jumat: musik, Sabtu & Minggu: bebas.

Terutama jika nanti Daffa jadi home schooling. Sepertinya jadwal ini wajib saya buat. Tapi untuk sementara waktu ini, kegiatan bersama Daffa masih bersifat spontan. Jadi ikutin aja, Daffa mau kegiatan apa. Biasanya saya mengusahakan minimal satu sampai tiga kegiatan, dengan topik yang berbeda-beda. Jadi bisa dalam satu hari Daffa melatih motorik halus, kasar, dan koordinasi mata serta daya ingat.

Wait, home-school?

Iya, nih. Dengan alasan personal berdua suami. Tapi dengan rencana ini, harapan kami, Daffa bisa fokus mengembangkan minat dan bakatnya dari usia muda. Sehingga nantinya Daffa bisa menentukan profesinya dan bisa menjalankan pilihannya dengan baik.

Nah, nanti kalau rencana ini berjalan lancar, maunya sih Daffa bisa homeschooling sampai jenjang SMA. Jika nanti ternyata Daffa memilih profesi yang menuntut adanya ijazah, maka ia bisa meneruskan ke universitas formal.

Tapi ini baru niat dan rencana kami hingga saat ini. Tidak menutup kemungkinan jika seiring waktu kami menemukan berbagai alasan yang lebih baik untuk memasukkan Daffa ke sekolah formal, why not?

Kalau alat-alatnya apa saja, Stel? Kan bisa jadi contekan, nih!

Hmm, kalau untuk dipakai bersama anak, alat-alatnya ada gunting kecil yang bukan plastik tapi ujungnya tumpul, lem stick, selotip bening, selotip kertas, spidol kecil, marker untuk white board, pensil, penggaris, dan berbagai bahan untuk. Alat-alatnya disimpan dalam box sendiri, seperti ini:

unnamed (4)

 

Bagaimana kalau si kecil menolak bermain? Simak penjelasan Stella di halaman berikutnya.


One Comment - Write a Comment

  1. Stella is such a big inspiration!
    Bukan hanya soal DIY mainan atau cara bermain kreatif untuk anak, tapi juga soal visi-nya tentang pengasuhan dan pendidikan Daffa. Sama satu lagi, komitmen untuk konsisten dari hari ke hari ngelakuin itu. Itu butuh kerja keras dan kegigihan seorang ibu. Salut banget!

    Satu lagi artikel keren dari @Sazqueen. Love!

Post Comment