Bermain Secara Konkret Bersama Anak

Wait, what? Memangnya ada permainan yang tidak konkret?

NPA2

Menurut seorang psikolog anak, Saskhya Aulia Prima, M.Psi, karena sekarang memang hidup manusia tidak bisa terlepas dari gadget, kehidupan anak-anak sejak usia nol tahun juga sudah diintervensi oleh gadget. Kadang, karena melihat anaknya asyik bermain sendiri dengan gadget di kedua tangannya, orang tua lupa, bahwa anak-anak ini perlu bermain sungguhan. Menurut hasil penelitian, 1 dari 3 anak di kota besar sudah menggunakan gadget sebagai sarana bermainnya. Anak-anak menggunakan gadget untuk bermain games, menonton, mencari informasi, dan lainnya.

“Sebetulnya, gadget tidak selamanya buruk untuk anak-anak, apalagi di era teknologi seperti ini. Namun, perlu ada siasat dalam penggunaan gadget untuk anak, agar tidak menganggu tumbuh kembangnya,” ujar Saskhya saat menyampaikan materinya di acara New Parent Academy (NPA) Short Class, hari Sabtu, 28 Februari 2015 lalu.

Saskhya menyampaikan bahwa yang paling penting adalah memberikan batasan waktu sesuai usia, memberikan contoh membatasi waktu menggunakan gadget (jadi orang dewasa di rumah sebaiknya tidak selalu memegang gadget 24 jam, memberi contoh untuk membaca koran, membersihkan halaman, bisa jadi pilihan yang baik), dan tidak lupa untuk memperkenalkan benda konkret sebelum menggunakan gadget.

NPA3

Materi ini disambung dengan contoh aktivitas konkret yang memang sebaiknya banyak dilakukan di rumah. Mutia dari Menthilis mengingatkan soal arti quality time bersama anak. Jadi, quality time ini artinya menyediakan waktu untuk bersama dalam arti riil bersama anak. Dan patut diingat, memandikan anak, menyuapi makanan, ataupun memakaikan pakaian bukanlah quality time.

Contoh quality time itu misalnya menemani anak membaca, tanpa gadget di tangan. Jadi, kehadiran diri Anda benar terasa tanpa intervensi perhatian ke hal lain. Mungkin awalnya terasa membosankan, namun jika sudah rutin dilakukan, maka rasa tersebut bisa berubah jadi menyenangkan. Boleh, deh, upload foto keberhasilan anak main hari itu, tapi ya, kalau sudah selesai bermain bersama anak. Mutia bilang, quality time bersama anak itu minimal dilakukan 3 kali sehari, durasinya paling sedikit 10 menit. Pengaturannya bisa dengan sarapan pagi bersama seluruh anggota keluarga tanpa ada yang pegang HP, tablet, koran, dan TV yang menyala. Siang hari, jika ibu bekerja, luangkan waktu untuk menelpon. Tidak perlu 10 menit, tapi hadirkan rasa keberadaan Mommies. Malam atau sore hari, bisa bermain sejenak.

NPA4

Walaupun cuma 3 kali 10 menit sehari, tapi manfaat quality time ini bagus sekali, di antaranya:

  • Membangun rasa percaya antara anak dan orang tua
  • Ajang berbagi, memahami, dan membantu
  • Melatih kebersamaan
  • Membuat kenangan

Nah, kalau soal stimulasi melalui arts & crafts, menurut Menthilis, berguna untuk:

  • Pengalaman mengenal berbagai tekstur dan bahan
  • Mengasah logika dengan tahapan merakit
  • Membangun rasa percaya diri dan bangga karena bisa menghasilkan sesuatu
  • Problem solving

NPA5

Acara yang berlangsung sejak pukul 9 pagi di Lazuardi Global Islamic School, Cinere, ini juga menghadirkan Stella Sutjiadi, seorang Mommygram (Ada selebgram, ada juga mommygram, dong!) yang sangat aktif dan rajin dalam memfasilitasi anaknya untuk bermain sekaligus menstimulus tumbuh kembangnya.

Di NPA Short Class ini, Stella cerita biasanya ide membuat mainannya datang setiap melihat perkembangan Daffa, putrinya. Misalnya, Stella menyadari kalau Daffa sempat sulit sekali untuk diajak melempar. Tapi dirinya ingat kalau Daffa suka memberi makan ikan. Jadi, Stella membuat lubang seperti mulut ikan yang menganga, dan Daffa diajak melempar bola ke dalam mulutnya. Berhasil, deh, untuk menstimulasi Daffa untuk melempar.

NPA6

Stella juga mengingatkan bahwa bermain bersama anak ini penting untuk masa depannya. Mungkin kalau sekarang, ya rasanya selewat begitu saja. Namun menurut banyak penelitian, anak-anak akan mulai recall kegiatan bersama orang tuanya ketika memasuki usia 15-16 tahun. Selain tumbuh kembang yang terstimulasi, kenangan ini tentunya akan menjadi hal indah saat si anak beranjak dewasa.

Sebagai akhir dari NPA Short Class, setelah membuat Puppet Theater bersama Menthilis, peserta diajak membuat wayang dari bahan karton bekas susu atau kotak pizza oleh Stella. Kalau Stella, memang dasarnya memiliki tangan dingin untuk menggambar, jadi kartonnya digambar sendiri sesuai kebutuhan. Kalau Mommies merasa kurang dalam hal menggambar, bisa print gambarnya, tempel di karton, baru digunting. Wayang ini bisa jadi salah satu media untuk mengenalkan anak pada sesuatu. Misalnya nama hewan, berbagai profesi, hingga nama set gigi. Lalu lebih lanjut, bisa digunakan untuk transfer pengetahuan, misalnya “Kenapa harus gosok gigi?” dengan wayang gigi yang sudah dibuat.

Lihat, nih, yang semangat bukan hanya ibu, tapi juga para ayah! Bang Aip, contohnya, berhasil membuat wayang sesuai petunjuk dan menyelesaikannya lebih dulu dari para ibu-ibu, haha.

NPA1

Di akhir acara, MC sempat bertanya ke Stella, apa Daffa ada screen time atau selalu bermain secara konkret? Jawabannya “Dulu punya screen time, 1 jam sehari. Tapi seiring waktu, Daffa mulai melupakan gadget ini dan tidak pernah minta lagi.” Lalu, kalau ibunya bagaimana? “Screen time saya saat Daffa tidur.”

Insighful, ya? Setelah hadir di NPA Short Class kedua di Jakarta setelah yang pertama diadakan di Bandung ini, semakin membuat saya sadar, bahwa sebetulnya ada banyak sekali yang bisa dilakukan untuk menstimulasi tumbuh kembang anak dan betapa pentingnya untuk menyisihkan waktu berkualitas bersama anak agar ia tidak merasa diabaikan.

Menurut kabar dari founder NPA, Dewa dan Andhika, short class ini akan diadakan lagi dalam waktu dekat. Jadi, kalau Anda tidak sempat ikut yang kemarin, masih ada kesempatan, nih. Kita tunggu pengumumannya saja. Thank you, NPA!