“Keras” Dalam Rumah Tangga Itu Penting

Tunggu dulu, yang saya maksud dengan keras dalam rumah tangga itu penting bukan kekerasan dalam rumah tangga, ya, Mommies. Tapi keras dalam arti yang berbeda.

Jadi begini, kemarin saya baru saja diundang ke peluncuran sebuah situs baru, www.tinggalminta.com. Situs ini merupakan bentuk kampanye edukasi Pfizer Indonesia dalam rangka memutuskan lingkaran setan terjadinya disfungsi ereksi. Ternyata, masalah disfungsi ereksi ini memang nggak hanya mengganggu hubungan suami istri saja, karena jika dibiarkan berlarut-larut bisa menyebabkan kualitas hidup seseorang jadi menurun. Repot, ‘kan?

his-and-hers_things-you-never-knew-orgasms

Dalam hal ini, Zoya Amirin, seorang Psikolog Seksual, mengungkapkan kalau keseimbangan hidup kita bisa terganggu 60%-70% lantaran kehidupan seksual dengan pasangan tidak berjalan dengan baik. “Makanya banyak orang-orang yang bilang kalau ada yang datang ke kantor mood-nya nggak baik, sering marah-marah, hal ini dikarenakan belum dapat ‘jatah’ dari pasangannya. Karena memang keseimbangan hidup bisa terganggu. Sementara jika ada masalah lain di luar masalah hubungan seksual, keseimbangan hidup hanya terganggu 30%-40%.”

Kalau selama ini banyak persepsi yang mengatakan kalau disfungsi ereksi itu sama dengan ejakulasi dini, ternyata pandangan ini salah. Dokter spesialis Andrologi, dr. Heru. H. Oentoeng, M.Repro,Sp.And, FIAS, FECSM mengatakan disfungsi ereksi atau DE adalah ketidakmampuan penis untuk berereksi secara optimal. Parameternya ini bisa dilihat dari mampu atau tidaknya seorang pria mencapai, mempertahankan, dan memuaskan pasangannya.

Disfungsi ereksi merujuk ke kekerasan maksimal penis, walaupun tidak terlalu keras tetap disebut disfungsi ereksi yakni disfungsi ereksi ringan. Sedangkan kondisi disfungsi ereksi berat bisa dilihat jika terjadinya kegagalannya di atas 50 persen dan terjadi lebih dari 6 bulan.

“Sayangnya, kondisi DE ini sering tidak diperhatikan oleh penderitanya dan baru didiagnosa setelah berkonsultasi ke dokter masalah kesehatan yang dialaiminya. Sebagian pria tidak sadar jika mengalami DE, sebab sebagian besar pria di Indonesia mengalami DE ringan atau tingkat ke tiga di mana penis bisa berfungsi namun tidak mampu bekerja optimal,” jelas dokter yang praktik di RS. Siloam ini.

Data survei Descision Fuel yang dilakukan Pfizer pada tahun 2013 lalu juga membuktikan bahwa 59% responden pria di Indonesia kurang nyaman atau bahkan malu untuk berkonsultasi dengan dokter. Hal ini makin membuktikan kalau memang masih banyak masyarakat yang malu memeriksakan dirinya karena menganggap DE adalah masalah tabu.

>> Apa penyebabnya? Baca di halaman selanjutnya, ya.


Post Comment