5 Dampak Negatif Melewatkan Sarapan

Terkadang jadwal harian yang menumpuk membuat si kecil atau kita yang dewasa tak sempat sarapan. Padahal, sarapan dapat memenuhi setidaknya 15% dari kebutuhan kalori anak berusia di atas 6 tahun. Bahkan ternyata 7 dari 10 orang dewasa belum mengetahui apa yang dimaksud dengan sarapan sehat – apakah Mommies termasuk 7 di antaranya?

sarapan1

 Gambar dari sini

 

Mommies Daily mendapatkan fakta di atas beberapa waktu lalu saat memenuhi undangan dari Nestle dalam rangka Pekan Sarapan Nasional 2015 – Nestle Indonesia Berbagi Pesan Untuk Kampanye Sarapan Sehat Anak Indonesia. Hadir sebagai salah satu pembicara adalah Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS. Beliau mengingatkan bahwa sarapan pagi yang sehat sesuai dengan Kementerian Kesehatan yang dirumuskan lewat Pedoman Gizi Seimbang, diartikan ke dalam empat hal berikut ini:

  1. Jenisnya harus ada makanan dan minuman. Makanan yang kering saja tidak cukup, minuman saja juga tidak cukup. Jenisnya harus makanan dan minuman, jadi tidak bisa kita katakan “Ayo makan pagi” karena bisa misleading. “Ayo sarapan sehat!” itu yang paling baik.
  2. Mencukupi kebutuhan gizi paling tidak seperempat dari kebutuhan harian. Bahasa gizinya, 15-30% dari kebutuhan harian kita, diperoleh di pagi hari.
  3. Aman, terbebas dari berbagai cemaran yang memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan.
  4. Sehat dalam arti waktunya sebelum kita belajar dan bekerja, yaitu sebelum pukul 09.00. Karena kalau dilakukan setelah pukul 10.00 berarti sudah termasuk snack (cemilan).

Sebetulnya alasan tidak sempat sarapan bisa diminimalisir jika seseorang atau sebuah keluarga berdisiplin dengan jadwal harian mereka. Sayangnya, beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan justru orang-orang yang tergolong ekonomi mampu dan berada di perkotaanlah yang jarang sarapan. Di sini orangtua tentu memegang peranan penting dalam mengawasi kegiatan anaknya. Beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang tidak sarapan misalnya karena telat bangun, yang bisa saja disebabkan karena pada malamnya harinya tidak disiplin – masih beraktivitas dengan HP atau asyik menonton televisi tanpa pengawasan dari orangtua, akibatnya tidur larut dan sulit untuk bangun pagi. Itulah salah satu permasalahan besar yang terjadi di kota besar semacam Jakarta. “Hasil dari beberapa penelitian juga menunjukkan nilai anak yang sarapan lebih baik dari anak yang tidak sarapan,” jelas Prof. Hardinsyah.

>>Selanjutnya: 5 dampak negatif melewatkan sarapan!