Perlengkapan Tempur di Commuter Line

Saya pengguna KRL sejak zaman kuliah di tahun 1997 yang berarti sudah lebih dari satu dekade. Sebagai pengguna, hubungan saya dengan KRL ini (atau sekarang dikenal sebagai KRL Commuter Line) sudah seperti love and hate relationship. Ada kalanya saya cinta KRL karena kepraktisannya dan harganya yang sangat terjangkau tanpa harus berhadapan dengan kemacetan, namun kadang pun saya membenci keterlambatannya, kerusakannya, atau kepadatannya. Kalau sedang “ngambek,” terpaksa saya pasti akan meminta suami mengantar saya ke kantor di daerah Jakarta Pusat dengan kendaraan pribadi dari rumah saya di BSD. Tapi tetap saja, akhirnya balik lagi ke KRL.

CL-perempuan*Gambar dari sini

 

Kebetulan, saya pernah merasakan KRL di masa tanpa fasilitas Air Conditioner dan gerbong KRL yang penuh sesak nggak bisa bergerak (dan berkeringat) di masa kuliah. Kalau menurut saya pribadi, seolah mengikuti perkembangan jalan hidup saya, KRL yang saya tumpangi pun menjadi lebih baik dengan fasilitas Air Conditioner (meskipun tergantung situasi ya, kadang suka tidak berfungsi). Hamil pertama pun saya masih setia dengan KRL dari Stasiun Bogor sampai Stasiun Tanah Abang, meskipun kadang tidak mendapatkan prioritas untuk duduk, bagi saya masih nyaman menggunakan KRL.

Banyak pengalaman yang saya rasakan di KRL, dari kehujanan, merasakan padat dan panas bagai di sauna sampai bertemu dengan copet. Dari pengalaman-pengalaman seru dalam KRL itu, saya telah mempersiapkan peralatan tempur saya ketika saya harus menggunakan KRL:

  1. Sepatu jalan yang nyaman selalu menjadi pilihan. Kebetulan saya tidak memilih sepatu olahraga karena terkesan besar sekali,  tapi saya memilih yang ringan namun enak dipakai untuk jalan. Di musim hujan saya memilih yang berbahan karet agar mudah kering.
  2. Tas yang saya gunakan adalah tas yang nyaman ditenteng, bisa tas selempang atau tas punggung. Yang saya utamakan adalah sisi keamanan dari tas tersebut, karena bagaimana pun yang namanya copet itu tidak terhindarkan di jam-jam padat.
  3. Isi tas saya cukup simple, tapi barang utama yang harus selalu ada selain dompet dan handphone antara lain:
    • Tas kosmetik kecil berisi perlengkapan kosmetik, band-aid, dan obat-obatan pribadi.
    • Pokectable parka dari Uniqlo, atau jaket hujan tipis yang bisa dilipat kecil dan dimasukkan dalam tas saya. Hal ini sangat berguna jika harus menggunakan banyak jasa angkutan umum untuk sampai ke tujuan di kala hujan. Sudah lama saya mencari model ini dan pas banget saya menemukannya di Uniqlo.
    • Payung kecil Water Front yang saya beli di Bandara Narita Tokyo. Waktu itu saya beli karena anjuran suami saya merek tersebut cukup terkenal karena tipis dan ringkas. Benar sekali, payung ini sudah bertahan hampir 5 tahun dan ringan sekali dibawa dalam tas. Payung bagi pengguna jasa angkutan umum adalah penting. Ya, ‘kan?
    • Pocket Bac Anti-Bacterial Hand Gel dengan gantungannya, tisu dan tisu basah, kalau ini biasanya saya gunakan kalau perlu membersihkan tangan atau habis berkeringat.
    • Power bank, untuk keadaan darurat misalnya KRL mogok di tengah jalur kereta, dapat membantu menghindari mati gaya.
    • Dompet kecil untuk uang receh untuk naik angkutan umum atau ojek.
    • Gantungan kartu, ini kebetulan nyontek dari pengguna kereta di Tokyo, saya melihat pengguna kereta di sana tidak repot mengeluarkan kartu dari dompet. Yang ini saya beli di OLS kebetulan keluaran dari Tokyo Disney Resort.
    • Tas belanja yang bisa dilipat, dapat dari Mommies Daily dan HK Disneyworld, untuk keadaan darurat harus membawa barang yang basah, malah pernah jadi alas saya duduk di kursi yang basah oleh hujan.

Mommies ada yang pengguna KRl juga? Apa saja, sih, perlengkapan perang kalian? Share, ya…


2 Comments - Write a Comment

  1. Tambahin ya… bawa tempat minum kalo bisa yang bisa digulung itu (entah apa namanya itu) hihi irit. Yang aku suka takjub itu suka ada kan penumpang krl bawa tasbih digital atau bawa buku kecil doa2 gitu. Tipe penumpang yg ngademin sekitar bgt sih ini

Post Comment