10 Kiat Mengajarkan Anak Lancar Bicara

Selama dua tahun pertama dalam masa pertumbuhannya, anak kami pernah mengalami hambatan dalam berbicara. Sejak awal ia mulai bisa ngomong hingga usianya mencapai dua tahun, Kakang, panggilan kami untuk Fadhlan, baru bisa melontarkan kata-kata seperti mama, papa, dan bawa. Selebihnya, hanyalah pelafalan huruf vokal layaknya aaaaa, iiiuuuuuu, dan sejenisnya yang ia ucapkan dalam nada yang panjang. Jujur saja, kondisi ini sempat bikin saya kelimpungan dan sedikit stress. Apalagi, Kakang juga selalu mengucapkan kata ‘bawa’ dalam setiap kesempatan. Baik saat menanyakan atau menunjuk pada sesuatu hal yang ingin ia ketahui. Pusing sendiri ‘kan saat kita harus menerjemahkan apa maunya Kakang. Kalau diperhatikan, untuk anak seusianya, Kakang kurang cerewet.

K

 

Saya pun sempat ingin membawa Kakang ke klinik tumbuh kembang anak karena penasaran dan ingin tahu lebih detail mengenai keadaan anak saya. Meski jauh di lubuk hati, saya merasa bahwa Kakang tidak ada masalah, melihat caranya melafalkan huruf karena ia gampang meniru huruf-huruf yang saya kenalkan saat sedang bermain sambil belajar. Beruntung, tante dari pihak suami seorang lulusan psikologi. Jadi setiap kali kami pulang ke Bandung, saya sempatkan untuk berkonsultasi secara gratis dengan tante dan minta diberi petunjuk untuk mengatasi keadaan Kakang.

Menurut tante, apa yang dialami Kakang saat itu adalah hal yang normal, mengingat ia baru mengenal cara berbicara. Ditambah lagi, ia masih berusia kurang dari dua tahun. Penjelasan tante membuat saya lega. Satu pesan dari tante untuk saya dan suami, harus optimis saat mengajak Kakang berbicara serta ucapkan setiap kata yang keluar dari mulut kami secara perlahan dengan lafal yang jelas.

Saran dari tante menjadi pedoman bagi kami. Setiap kali berbicara dengan Kakang ataupun saat saya dan suami ngobrol berdua di hadapan kakang, kami berupaya melafalkan setiap kata dengan jelas dan perlahan. Intonasi yang digunakan juga tenang sehingga Kakang dapat memahami apa yang sedang dibicarakan oleh orangtuanya. Memang, sih, terkadang kami lupa pedoman ini. Untungnya, saya dan suami saling mengingatkan agar kembali melaksanakan saran tante untuk tetap mempertahankan bagaimana cara berbicara yang jelas.

Apa yang kami lakukan akhirnya berbuah manis. Yang saya ingat, Kakang mulai bisa menempatkan kata apa, kenapa, papa di mana, papa ke mana, sesuai dengan situasi yang ia maksud hingga akhirnya ia mampu menambahkan menjadi tiga kata dalam satu kalimat dan mulai bisa merangkai kalimat panjang. Bahkan, Kakang akhirnya mampu bercerita sesuai dengan keadaan yang ia alami atau lihat. Kemajuan yang sangat terasa ialah dia bisa merangkum apa yang saya ceritakan padanya dan ia ceritakan kembali menggunakan bahasanya sendiri. Hati ini mulai lega melihat perkembangan bicara Kakang yang mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Selanjutnya: Kiat saya mengajarkan Kakang berbicara.


Post Comment