Smart Parenting, Menjadi Konsultan Bagi Anak

Masih yang tersisa dari heboh buku si psikolog, tapi kali ini bukan tentang isi bukunya, melainkan metode parenting yang diperkenalkan psikolog tersebut. Kebetulan ada beberapa poin yang sejalan dengan pola yang saya anut. Tapi seperti biasa, tidak semua saya telan mentah-mentah. Pasti ada penyesuaian lagi karena setiap keluarga berbeda. Jadi, bukan saya menyesuaikan pola parenting dengan saran psikolog (siapapun itu), tapi lebih ke pola mereka yang sesuai dengan saya, syukur-syukur dengan penerapan yang lebih ok, saya adopsi.

Salah satu yang cocok dengan pola saya adalah tentang kemandirian dan posisi orangtua dalam keseharian anak. Semua ilmu parenting yang saya tahu salah satu targetnya adalah kemandirian anak. Bagi saya, poin tersebut saya kaitkan dengan konsekuensi atau risiko. Tadinya, saya kira semua orangtua mau anaknya mandiri, lho, tapi percaya, nggak, kalau banyak juga yang masih menyabot kemandirian anaknya demi ‘tidak tega?’

Helping_child

Saya memang mama yang tega.

Anak main dan berantakan, rapikan dulu sebelum pindah aktivitas, termasuk makan. Saya tega membiarkan makan tertunda sebelum mainan rapi.

Dellynn (8 tahun) kalau ngantuk masih suka rewel berusaha skip bebersih, sikat gigi, dan salat Isya. Saya tega membiarkan dia tertidur di sofa sampai pagi sebelum semua dilakukan.

Devan (5.10 tahun) tugasnya tiap pagi memasukkan bekal yang sudah saya siapkan ke tas. Saat bekalnya tertinggal saya tega membiarkan sampai dia pulang lagi. Saya juga tega membiarkan dia terlambat kalau lambat pakai kaos kaki dan sepatu. Pakai kaos kaki berantakan pun nggak saya betulkan.

Darris (10 tahun) dan Dellynn suka lelet dan nggak menghitung waktu saat bersiap ke sekolah. Saya tega membiarkan mereka terlambat karena wajib sarapan pagi dulu meski jam sudah mepet.

Dellynn, Devan, dan Dendra (2.10) kalau makan lauknya habis duluan. Saya tega membiarkan mereka makan sisa nasinya saja tanpa lauk. Kalau saya beri tambahan lauk, itu berarti mengambil jatah lauk orang lain. Harus belajar mencukupkan apa yang sudah diberi.

Konsekuensi akan membuat mereka merasakan tidak enaknya akibat dari perilaku.

Tidur di sofa = panas, sempit, nggak ada guling = lain kali nggak pakai rewel kalau harus sikat gigi, dll.

Bekal ketinggalan = lapar = kalau nggak mau kelaparan lagi, lain kali lebih teliti mengecek apa bekal sudah masuk tas.

Kalau nggak mau terlambat, efektifkan waktu persiapan sekolah, atau bangun lebih pagi.

Lauk habis duluan = makan nasi thok, dst.

Saya tidak akan mengambil alih tugas yang harus dilakukan anak. Saya tidak memasukkan bekal, tidak mengirim bekal ke sekolah kalau tertinggal, tidak memakaikan kaos kaki dan sepatu biar cepat, tidak menyuapi sarapan biar cepat habis, tidak menambah lauk kalau habis. Saya harus dianggap tidak ada, supaya mereka bisa mengatasi masalah sendiri. Saya bukan ‘bumper’ yang bertugas seperti pembantu.

Ketimbang menanamkan bahwa saya (dan ayahnya) akan selalu ada untuk membantu anak-anak, saya lebih menekankan bahwa kami nggak akan selalu ada. Kenyataannya memang kami nggak bisa selalu ada. Di sekolah, saat main ke rumah teman, saat orangtua perlu pergi entah ke mana tanpa anak, kelak mungkin anak sekolah atau kuliah di luar kota atau bahkan di luar negeri (aamiinn!), dst. Kami juga menekankan anak-anak untuk saling rukun, membantu dan kerjasama, karena kelak saat kami tidak ada, siblings still hang around.

Walau kami nggak mau turun tangan mengerjakan apa yang jadi tugas mereka, mereka tetap welcome menanyakan saran apapun. Kami lebih berperan sebagai konsultan, membantu menimbang risiko, positif-negatif, pelaksanaannya tetap di tangan mereka. Darris cenderung mengikuti saran kami, sementara Dellynn lebih memilih caranya sendiri. It’s fine, walau tiap keputusan have their own consequencesBut that way, they learn to consider and decide.

That was how we run things here. Bagaimana dengan Mommies? Ada kiat yang bisa dibagi on how things go at your place?


6 Comments - Write a Comment

  1. Baca ini serasa dapet pembenaran atas yg saya lakukan sama anak-anak, hehe.. setuju banget :)
    Meski kadang takut jg sih dipandang orang2 sekitar sbg Emak Tega, tapi ya mau bagemana lagi..saya lbh takut nantinya anak-anak jadi kebiasaan dilayani orang tua. Dan lbh takut lagi kalau nanti setelah dewasa kebiasaannya berlanjut jadi nyusahin orang tua, duuh..jangan sampe deh.

    1. Iyaa..mom saya kayaknya udah kenyang dipandang mama tega haha.

      saya juga lebih takut anak2 kebiasaan dilayani dan makin gede makin nyusahin. mending nyusahin ortu, lha kalau diluaran jadi nyusahin ortu lain/ortu teman?

      misal fieldtrip outbound atau berenang, sudahnya perlu mandi dan ganti baju sementara orangtua nggak ikut *di sekolah anak saya cuma 1-2 ortu yg ikut/kelas*. klo anak blm bisa mandi dan pakai baju sendiri kan jadinya nyusahin ortu pengawas, tuh.

  2. Duuh, bener juga yaa.. Tadinya belum kepikiran sedetail itu berhubung anak2 belum sekolah karena msh baby dan toddler. Wah ini jadi gambaran banget buat nanti kedepannya.
    Kayaknya memang hrs terus berupaya membangkitkan kemandirian anak, sekaligus membangkitkan semangat diri sendiri biar kuat tiap dianggap Emak Tega nih :D

Post Comment