Ajarkan Anak Berbagi Lewat Program Donasi

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan anak untuk bisa berbagi dan berempati. Yang pasti, kita sebagai orangtua tentu yang harus memberikan contoh lebih dulu. Biar bagaimana, anak itu kan mesin foto kopinya orangtua. Saya percaya, kalau sejak kecil kita mampu memberikan contoh yang baik, mereka pun akan bisa mengikutinya.

Saya pernah membaca di sebuah artikel parenting, ada penelitian yang menyebutkan kalau anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh attachment parenting atau berdasarkan ikatan batin orangtua dan anak, nantinya akan tumbuh menjadi anak yang mudah berbagi. Hal ini dikarenakan mereka sudah melihat kemurahan hati orangtuanya sehingga memutuskan untuk mengikutinya. Nah, orangtua mana sih yang nggak kepengen jadi role model yang baik untuk anak-anaknya?

Salah satu hal yang kerap saya lakukan adalah melibatkan Bumi dalam setiap kegiatan yang bisa mengajarkannya untuk berbagi. Bukan hanya berbagi mainan atau makanan dengan teman atau saudara sepupunya, tapi juga melibatkan Bumi untuk lebih peduli dengan lingkungan yang memang tidak seberuntung dirinya. Mengajaknya untuk memilih mainan atau baju layak pakai untuk korban bencana, misalnya. Atau, mengajak Bumi terlibat langsung dengan aksi gerakan sosial.

Belum lama ini saya mengajak Bumi untuk ikut gerakan program 1 Bantal 1 Harapan. Sebenarnya ini adalah aksi sosial yang digagas JYSK dan Rumah Harapan  yang didirikan Just Silly. Begitu tahu informasi ini dari forum Mommies Daily,  saya langsung mengagendakan untuk berakhir pekan ke  sana. Kapan lagi kalan jalan-jalan ke mall sekaligus mengajarkan anak untuk berbagi? Saya pun langsung mengajak Bumi mengumpulkan bantal untuk program ini.

jysk

“Bantal ini mau buat apa, Bu?”

“Mau kita bawa untuk acara nanti di JYSK Taman Anggrek.”

“Oooh, jadi mau disimpan di sana?”

“Bukan…. bantal ini nanti kita tukar dengan bantal baru, tapi kita harus membayar dengan uang dulu. Kemudian, hasilnya nanti akan didonasikan untuk teman-teman Bumi yang sakit dan tinggal di Rumah Harapan…”

Lucunya, begitu sampai di JYSK, Taman Anggrek, Bumi langsung tanya di mana anak-anak yang sakit. Begitu saya bilang, kalau mereka berada di Rumah Harapan dan nggak bisa datang karena masih sakit, Bumi pun lantas mengajak saya untuk ke Rumah Harapan. Ok, suatu waktu saya pasti akan mengajak Bumi main ke sana.

Yang jelas, selain bertemu dengan teman-teman blogger saya bisa bertemu dengan Just Silly dan Yuna Eka Kristina, Head of Corporate and Marketing Communication OT Group. Waktu itu Mbak Yuna menceritakan alasan tercetusnya ide gerakan 1 Bantal 1 Harapan.  Di mana tujuan aksi ini untuk membantu anak-anak sakit yang selama ini tinggal di Rumah Harapan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas. Jangankan anak-anak yang sakit, kita saja yang tubuhnya sehat walafiat harus mendapatkan tidur yang berkualitas kan?

Dengan menukarkan bantal lama ditambah Rp. 19.900, kita nggak cuma mendapatkan mendapatkan bantal baru berkualitas produk JYSK, namun sekaligus turut berkontribusi mendukung anak anak yang berada di Rumah Harapan. Berpartisipasi dan membantu memberikan harapan serta semangat hidup mereka.

Soalnya, bantal lama yang terkumpul ini nantinya akan dikonversikan ke dalam rupiah. Jumlah uang ini nantinya akan digunakan untuk mendapatkan barang produk JYSK. Jadi, nggak cuma bisa mendapatkan bantal baru saja, anak-anak yang tinggal di Rumah Harapan kelak akan mendapakan produk lain seperti tempat tidur, lemari, kursi atupun perlengkapan lain yang memang dibutuhkan.

jysk2*Saya bersama Lita, dan teman-teman komunitas Mommies Daily :)

Program yang berlangsung selama 3 hari, 30 Januari sampai 1 Februari 2015 terbukti mampu menarik masyarakat. Soalnya dari pagi saat saya datang hingga mau pulang, antrian yang ingin menukarkan bantal masih mengular. Saya sendiri berharap, mudah-mudahan program donasi yang sudah dilakukan JYSK dan Rumah Harapan bisa berlanjut. Setidaknya lewat program seperti ini bisa menjadi wadah yang tepat buat kita semua untuk menolong anak-anak yang kondisinya tidak seberuntung kita.

Saya sih, jadi membayangkan bagaimana raut wajah orang-orang yang bisa kita tolong yang bersinar karena merasa senang.  Perasaan bahagia yang mereka rasakan tentu secara otomatis akan menyalur ke diri kita. Iya, kan?


Post Comment