A Little Chat Might Save A Life

alone-boy-goodbye-hand-hurt-Favim.com-423426

Berita minggu lalu mengenai seorang remaja yang diduga bunuh diri, mengembalikan ingatan saya ke 20 tahun lalu. Walau mungkin sikon dan latar belakang nggak sama, tapi keinginan dan rencananya sama. Sungguh saya yang sekarang sudah jadi orangtua, nggak ingin melempar kesalahan pada orangtua. Tapi sayangnya, dari yang saya (dan beberapa teman yang pernah di situasi yang sama) alami, memang salah satu kunci ada di relasi dengan orangtua.

Bagi saya, orang yang akhirnya ‘sukses’ bunuh diri itu either orang yang berpikiran sangat pendek, impulsif, begitu terpicu masalah langsung bum!, atau orang yang sangat ‘berani’. Sesungguhnya salah satu faktor yang membuat saya dan teman-teman saya masih hidup (dan bahagia!) sekarang ini adalah karena kami terlalu cemen untuk melaksanakannya.

Keputusan itu nggak gampang. Setidaknya buat saya. Beberapa teman malah sudah menelan butiran obat seadanya di rumah, yang lain meminum obat serangga. Yang satu ndilalah nggak ada efek obatnya, mungkin dia lupa makan dulu sebelumnya jadi obatnya nggak bereaksi *senyumgetir*. Teman yang satunya, mungkin kontraknya masih panjang jadi walau beberapa kali keluar masuk RS pompa lambung tapi sampai hari ini masih selamat.

Saya sendiri takut sakit, jadi saya timbang metode mana yang paling minimal sakitnya dan cepat selesai. Mana yang prosentase kesuksesan tinggi tapi cara atau alatnya nggah susah dicari. Katakanlah paling gampang pakai pistol, akses ke pistolnya yang gak gampang. Alat atau obat macam-macam juga simpennya di rumah gak gampang.

Kenapa saya memaparkan hal ini? Hal ini mencerminkan bahwa ada riset yang dilakukan sebelum kejadian, minimal baca beberapa sumber. Tentang metode, cara, alat, after effect, kegagalan, dsb. Kecil kemungkinan cuma dari satu jilid manga seperti kabar yang beredar. Kalau korban punya akses internet, besar kemungkinan banyak history bacaan tentang bunuh diri di komputer atau gadgetnya. Itu kalau tidak pakai private tab atau rutin delete history, ya. Untuk user yang sangat berhati-hati bisa jadi hanya meninggalkan sedikit sekali jejak dan tanda.

Selanjutnya: Apa pemicunya?


6 Comments - Write a Comment

  1. Mak Kir, aku mengamini semua yang ditulis. Pas rame pemberitaan itu dan menyudutkan manga pun aku nggak bisa paham kenapa perlu mengkambinghitamkan sesuatu untuk suatu kejadian yang sebetulnya muncul dari dalam?

    tapi setuju, perasaan ingin mati itu justru muncul karena ada banyak perasaan insecure di dalamnya. satu lagi, memahami anak dan remaja sama: buat mereka setiap masalah adalah masalah besar, sementara kita (ortu dan orang dewasa lain) cenderung mengecilkan arti masalah tersebut. akhirnya, yaaa anak merasa nggak diperhatikan or worst nggak didengarkan sama sekali.

    TFS, Mak Kir! :)

Post Comment