Beradaptasi Dengan Suami Yang Pendiam

couple

Ini adalah tahun ke enam pernikahan saya dan suami. Suka-duka serta naik-turunnya hubungan, kami sudah rasakan selama ini. Belum lagi beradaptasi dengan kebiasaan suami yang kadang bikin saya “what???”. Namun, dari semua hal yang sudah kami lewati, yang paling spesial bagi saya adalah bisa membuat suami berbicara terus terang mengenai perasaan dan pikirannya kepada saya secara gamblang.

Iya, suami saya ada tipe pria pendiam dan malas berdebat. Menyampaikan kritik ataupun saran saja tidak pernah dilakukannya pada saya. Suami saya akan malas berbicara jika hatinya sedang kalut, sedang marah, sedang sedih dan sedang banyak pikiran. Dan aksi diam suami ini bisa berjalan selama berhari-hari. Ototmatis, sikap suami yang seperti ini bisa membuat saya uring-uringan ketika menghadapi aksi diamnya. Tak jarang, meski bukan saya penyebab rasa marah atau kesalnya, suami mampu diam saat berada di dekat saya. Berbeda jauh dengan saya yang bisa mengekspresikan perasaan saya. Tidak hanya melalui lisan, namun semua orang yang berada di sekitar saya bisa menyadari apa yang saya rasakan melalui mimik wajah ini. Baiklah, bisa disimpulkan, saya ini gampang terbaca oleh siapapun dan suami saya terkesan begitu misterius.

Butuh waktu lama bagi saya untuk memahami suami secara non-fisik. Saya akui, beradaptasi dengan seseorang yang pendiam (terlalu menutupi perasaannya) membuat saya sempat stres dan kesalnya sampai ke ubun-ubun. Bahkan, pernah saya ngomel-ngomel karena suami mendadak jadi diam seribu bahasa. Diajak ngomong susah, ditanya cuma menggeleng dan menganggukkan kepala. Omelan saya pun keluar tanpa bisa saya filter. Dan setelah berbicara dari hati ke hati di hari itu juga, suami mengakui bahwa dia hanya sedang kelelahan akibat pekerjaan di kantor. Dueng, mendadak saya jadi malu sendiri karena awalnya sudah berpikir “Ada yang salah dengan hubungan kita kah?”.

Setelah si kecil hadir di tengah-tengah kami berdua, perlahan saya mulai mendalami karakter suami. Berasa sedang menjadi detektif deh. Strategi obrolan pun saya ubah. Tidak lagi sekedar bertanya “Tadi ngapain aja, kerjaannya gimana, udah makan belum, makan apa…” dan seterusnya. Kali ini saya memulai dengan mengajak suami berbicara tentang kegiatan yang saya alami seharian. Mulai dari kegiatan pagi bersama si bayi hingga saat akan menutup mata. Sesekali, saya selingi dengan menanyakan keadaan suami seharian itu.

Berhasilkan cara saya? Lihat di halaman selanjutnya :)


5 Comments - Write a Comment

  1. Kalau di kasus saya, “Men are from Mars, Women from Venus” ini lumayan membantu proses mengenali pasangan, dan diri sendiri juga, sih… Meskipun bacanya belum sampai selesai, hehehe. Di situ dijelasin kenapa laki-laki lebih memilih masuk ke “gua” kalau lagi ada yang dipikirin. Sementara pere malah pengennya talk and talk and talk it through.

    Oh iya satu lagi, buku “The Female Brain” sama “The Male Brain.” Saya belum pernah baca buku yang belakangan, tapi mengenali cara kerja otak sendiri juga menarik.

    TFS, Mamul.. Rukun dan langgeng selalu, ya!

    1. Aamiin… Makasi doanya ya. Nah iya mbak, saya udah baca buku itu berkali-kali (karena punya bukunya sejak sebelum nikah, hihihi…) tapi ya begitu… Ternyata ngga semuanya bisa diterapkan semuanya dalam pernikahan kami, hihihi… Akhirnya kreatif berpikir gimana caranya supaya suami bisa diajak bicara dari hati ke hati tanpa merasa dipaksa, mbak vanshe

  2. malah seneng punya suami pendiem, nggak berisik dan malah cowo banget. daripada cowo cerewet bikin puyeng hehe..

    kebetulan aku jg relatif introvert, suka ketenangan, ngga suka ribut2, rumah gak berisik, jadinya bersyukur klo pasangannya diem hihi..

Post Comment