Menjaga Otak Tetap Bekerja

Stay-At-Home-Mom*Gambar dari sini

Sebagai seorang ibu yang memutuskan untuk tidak bekerja, ada kekhawatiran yang lama kelamaan muncul. Bagaimana jika suatu hari nanti skill yang saya miliki hilang seiring dengan waktu? Bagaimana jika sewaktu anak saya SMA kelak, saya tidak lagi lancar berbahasa Inggris, atau sudah malas untuk mempelajari fitur gadget yang ia miliki? Or even worse, bagaimana jika kelak saya lebih ingat siapa saja yang pernah berpacaran dengan artis A daripada mengingat jenis tenses meskipun saya dulu berkali-kali mengajarkannya di kelas?

Jangan anggap saya berlebihan ya, Mommies. Mungkin mama saya atau ibu mertua fine-fine saja untuk lupa akan suatu hal that they mastered before, tapi saya tidak. Selain belum genap dua tahun menjadi stay-at-home mom, saya masih merasa bisa melakukan sesuatu dan berkarya, di manapun itu. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Melihat saudara yang terkena stroke dan menjadi terbatas geraknya, atau beberapa kerabat yang kehilangan suami di usia muda, sehingga para istri ini harus “turun gunung”, saya jadi berpikir lebih jauh. Tentu saja, tidak ada yang ingin hal buruk terjadi pada kita atau suami. Saya hanya merasa, it can happen to all of us.

Jadi, untuk kebaikan saya sendiri, saya memilih untuk terus “bekerja” alias menjaga otak saya agar tetap bekerja. Saya akui, di rumah seharian bisa menjadi anugerah, bisa juga musibah. Kalau kita bisa memanfaatkan waktu, itu anugerah. Namun kalau kita hanya mengalir saja, bisa jadi kita sudah menyia-nyiakan banyak kesempatan yang sebetulnya bisa kita peroleh.

Awalnya saya sempat bingung, saya mau apa ya? Saya tahu mengurus anak sudah cukup menghabiskan waktu, apalagi ketika mereka masih bayi. We hardly have time to just enjoy our meal. As they grow older, we have more time for ourselves. Pada saat itulah saya mulai mencari hal-hal yang saya bisa dan saya suka lakukan. Saya ingin kembali mengajar, rasanya belum memungkinkan. Meskipun itu hanya kursus 1-2 jam, anak saya tetap harus ada yang menjaga kan? Jadi, hal tersebut saya coret dari daftar untuk sementara.

Secara tidak sengaja, suami membaca tulisan saya dan memberi pujian. Buat saya, hal tersebut menjadi motivasi yang luar biasa, karena suami saya jarang sekali memberi komentar, apalagi pujian, haha..Saya pun jadi semangat menulis, sampai cukup percaya diri untuk submit article di Mommies Daily dan akhirnya dimuat! It’s a turning point for me, really. Saya pun jadi merasa hidup kembali dan semakin semangat menulis.

Masa-masa mellow bin galau itu pun berakhir (dan semoga tidak datang lagi). Setelah saya pikir, ternyata yang saya cari adalah eksistensi diri. Manusiawi sekali ya, haha.. Selama di rumah saja, saya merasa kehilangan sesuatu. Saya merasa punya energi, tetapi bingung mau disalurkan kemana. Akhirnya ketika saya mendapatkan pengakuan, saya merasa mampu, dan saya merasa kembali menemukan semangat untuk berkarya. Saya pun menjadi lebih happy, anak dan suami juga lebih happy karena sang ibu jadi enggak gampang ngomel, hehe..

Kalau Mommies masih merasa bingung, di halaman selanjutnya ada beberapa contoh aktivitas yang mungkin bisa membuat kita menemukan our long lost passion.


One Comment - Write a Comment

Post Comment