Antara Temper Tantrum, ADD, dan ADHD

Sebulan belakangan ini, saya cukup kebingungan dengan prilaku Menik (3 tahun 4 bulan) yang berubah. Anak yang sangat jarang tantrum ini, tiba-tiba bisa teriak histeris ketika marah. Semua barang yang di depan matanya akan dibuang, lanjut dengan teriakan super kencang yang pasti sangat menarik perhatian orang.

Pertama kali mengamuk dan berteriak kencang sekali adalah ketika Menik minta foto di sebuah studio. Kenapa anak 3 tahun bisa minta foto studio? Karena melihat sederetan kostum putri-putri Disney yang disewakan. Setelah dijelaskan bahwa baju tersebut tidak dijual dan hanya boleh dipakai kalau mau foto. Tentunya saya beritahu juga, kalau setelah foto, baju harus dikembalikan. Ternyata Menik bilang “Mau, bu! Menik mau foto pake baju Snow White, ya!” Ini hasil fotonya:

IMG-20150127-WA0008

Bagus ya? Nah, harus tahu dulu drama setelah pemotretan selesai.

“Menik, yuk ganti baju dulu!”

“Ndak, Menik mau pakai baju ini terus!”

“Yah, nggak bisa, Nik! Kan ini bajunya Jonas. Harus dikembalikan. Nanti kalau ada yang mau foto pakai baju ini gimana?”

*kepala Menik menoleh dan mengintip ke tempat penyewaan kostum*

“Ndak ada, tuh!”

“Iya bukan sekarang.. nanti..”

“Kalau kakaknya mau pakai baju ini, suruh beli aja, bu. Yang ini dipake Menik, gitu..”

“Ya nggak bisa, ini bukan punya Menik. Yuk, ganti dulu!”

“NDAAAKKKK!!!”

Ini teriak, ya, dengan volume naik 200% kali. KENCANG SEKALI! Sampai suasananya Jonas yang ramai, hening sebentar, dan semua mata menuju ke Menik. Selanjutnya karena merasa salah tingkah diperhatikan oleh banyak sekali orang, Menik mulai nangis, teriak, dan tidak bisa dikendalikan.

Cepat-cepat saya gendong, dan bawa masuk ke ruang ganti. Sambil memeluk Menik berusaha menenangkan, namun hasilnya nihil, pemirsa. Ngamuk jalan terus, nangis semakin keras, dan tentunya bisik-bisik ibu-ibu lainnya mulai terdengar. Terpaksa saya buka baju Menik, menggantinya (untung waktu itu pakai dress, jadi bisa langsung masukin tanpa drama harus makein celana dan kaos) dan menggendong Menik ke mobil. On the way ke mobil, kerudung saya ditarik, muka saya hampir dicakar. Duhh! Sampai di mobil, saya persilahkan Menik marah dan menangis, tapi saya juga kasih tau, perilaku ini tidak akan membuatnya dapat baju Snow White. Karena baju itu tidak dijual dan memang tidak boleh dibawa pulang. Dalam perjalanan pulang, Menik tertidur.

Saat itu saya hanya menyimpulkan “Oh, anaknya ngantuk, makanya ngamuk sampai kayak gitu!” Eh, nggak tahunya, salah analisa, dong! Karena rupanya setelah kejadian ini, emosi Menik jadi mudah sekali tersulut. Sedikit-sedikit marah, terutama jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi. Duh, ya Allah, mohon petunjuk-Mu! Ini anak dididik untuk tidak memaksa kehendak dan dirasa berhasil, kok, sekarang begini? *nangis*

Apa yang saya lakukan? Lihat di halaman selanjutnya!


10 Comments - Write a Comment

  1. Makasih banyak mbak buat artikelnya….. Jadi inget dulu waktu Abe (9) masih usia 2-3 tahun, sering banget ngalami temper tantrum…. Karena ga ngerti penyebabnya…saya jadi ikut emosi juga… Efeknya sekarang kalo dia lagi marah, dia ga bisa-atau ga ngerti cara ngungkapin perasaannya. Walaupun skrg Abe udah besar, ga ada salahnya buat saya mencoba terapi ini…. Cemungudh!!

    1. Sama-sama, semoga berguna, ya. Bener banget, ternyata mengelola emosi ini harus dilakukan dan dipelajari, loh. Sebagian anak ada yg dengan sendirinya tau cara mengelola emosi, tapi sebagian enggak. Mungkin kalau udah usia 9 tahun, bisa lebih mudah diajak ngobrol kali ya? Semoga berhasil ;)

  2. Syukurlah udah ketauan kenapa dan dapat penanganan ya, Ki.. Mungkin ini kurang nyambung, tapi baruu aja tadi pagi gue dan suami ngobrol-ngobrol di jalan soal masalah perilaku anak-anak seperti thumbsucking, atau tiba-tiba suka ngompol, dsb. Yang gue soroti tuh kenapa yaa banyak ortu yang menanggapi masalah-masalah perilaku itu dengan kata-kata “Ah, dulu bapaknya juga begitu.” atau “Ah, palingan ini fase aja,kok.” Padahal kalau menilik ilmu psikologi (disclaimer: not that I’m an expert), segala perilaku pasti ada sebab-musababnya, ‘kan. Meski bukan berarti harus parno juga, sih, hehe. Tapi dari mencari tahu itu, kita jadi punya cara menangani masalah tadi.

    Anywaays, soal ibu bekerja di rumah alias WAHM, gue pernah baca artikel di sebuah majalah parenting ternama (hehe) soal riset tentang hubungan antara “jenis” titel yang dipegang ibu (WM, SAHM, or WAHM) sama efek abandonment yang dirasain anak. Hasilnya, jreng jeng, ternyata yang paling merasa diabaikan adalah anak dari WAHM. Kaget dan heran juga, pas tau. Penyebabnya, si anak merasa kalau ibunya memilih mengabaikan dia padahal secara fisik ada di dekatnya. Maybe that’s what makes it worse. “Tantangan” besar yak buat kita para WAHM… fiuh.

    1. Bener, Riska! Gue juga dianggap lebay pas konsul ke Klinik. Tapi kan semua ilmu ada gunanya, dan ada porsinya. Gue nggak mempelajari prilaku anak, iya gue ibunya, punya intuisi, tapi gak berarti gue tau segalanya. Gitu aja, sih, huhu.. Daripada salah, mending nanya sama yg sekolah hahaha. dan bener banget, mengabaikan tanda-tanda itu nanti bisa mempengaruhi kepribadian si anak sampai dewasa. Aduh, serem..

      Soal WAHM, gue juga sedih banget pas tau.. Tantangan begini amat, ya? haha

  3. Ki.. thanks for sharing…
    Gw nih kalo Rais lg marah2 suka jd ikut kebawa emosi juga… im afraid im doin it in a wrong way. Apalagi pas awal2 baru lahiran adeknya omg… sgala jadi drama. Rais sih klo marah bukan treak2.. tpi biasanya dia mukul/nendang sesuatu..tnp ngomong apa2 (jd kdg2 gw ga ngerti dia tuh marah sm apa sih), musti dicb deh supaya dia bs mengkomunikasikan dengan baik amarahnya…

Post Comment