Family Friday : Pandji, Kegiatan Sosial & Anak

Pernah kebayang nggak bagaimana perasaaan orangtua yang mengetahui kondisi anaknya yang terkena penyakit kanker? Hancur. Mungkin kata ini yang paling tepat untuk merefleksikan apa yang mereka rasakan, ya.

Jangankan kanker, ketika saya dan keluarga besar mendapati kenyataan kalau keponakan saya Nissa ternyata mengalami kelainan darah, thallasemia, hati kami rasanya seperti diremas-remas. Sedihnya bukan kepalang. Tapi demi Nissa, kami harus tetap kuat dan mencari berbagai upaya untuk membuatnya tetap sehat.

Dari sanalah saya semakin yakin, sebelum kita bisa menolong anak ataupun keponakan yang sedang sakit, diri kitalah yang lebih dulu harus bangkit dan kuat. Dalam hal ini, tentu dukungan moril dari keluarga ataupun lingkungan terdekat sangat diperlukan.

Pandji1

Hal ini jugalah yang diungkapkan Pandji Pragiwaksono ketika kami sedang berbincang seputar Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (YPKAI). Waktu itu Pandji bilang, “Sebenarnya banyak yang sering dilupakan orang-orang, yaitu orang yang harus kita bantu lebih dulu itu orangtuanya. Kenapa? Karena untuk berhadapan di depan anak yang sedang sakit mereka harus berpura-pura untuk tetap tegar dan kuat. Padahal, sebagai orangtua persaannya tentu hancur.”

Belum lama ini saya memang punya kesempatan untuk bertemu dengan salah satu penggagas berdirinya yayasan yang didirikan April 2007 silam. Waktu itu Pandji juga bercerita kalau sebenarnya mencari relawan tidaklah mudah. Menurutnya, syarat utama buat orang yang mendampingi anak-anak yang sakit kanker itu harus mampu untuk tidak menangis dan memasang muka sedih.

”Sebenarnya, siapapun boleh menjadi relawan. Tapi sebelumnya mereka harus ditraining dulu. Yang pasti mereka harus sehat, mentalnya harus kuat. Karena kondisi anak-anak tersebut cukup memprihatinkan dan anak yang terkena kemoterapi itu mood swingnya parah, mudah marah dan mudah menangis. Jangan sampai ketika bertemu dengan anak yang sakit, relawannya malah nangis. Anak-anak ini kan butuhnya dukungan,” paparnya.

Setiap kali kenal dan ngobrol dengan orang yang punya jiwa sosial yang begitu tinggi seperti Pandji, saya selalu dibikin takjub dan bisa memetik banyak pelajaran hidup. Waktu itu Pandji bercerita kalau YPKAI memfokus pada tiga hal, yaitu layanan psikososial terapi yang pada dasarnya memperlakukan anak-anak sebagai anak-anak bukan hanya sebagai pasien, layanan dana untuk pengobatan, dan layanan pendidikan. Layanan dana disalurkan melalui rumah sakit. Layanan psiko terapi dan pendidikan juga dilakukan di rumah sakit.

Pria jebolan Institute Tekhnologi Bandung (ITB) 1997 ini mengatakan hingga sekarang ini tim inti yang tergabung sebagai relawan di Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia berjumlah 15 orang. Sementara untuk jumlah anak penderita kanker yang sudah dibantu  sekitar 650 anak, dengan rentang usia 6 bulan – 18 tahun. Di mana jenis kanker yang paling banyak diderita adalah leukemia, retina blastoma dan neuroblastoma.

Ternyata penyakit kanker memang tidak mudah dikatakan sembuh. Perlu waktu yang cukup lama untuk memastikan kalau penderita memang sudah benar-benar pulih. Seperti yang dijelaskan Panji, ”Yang membuat rumit adalah bila sel kankernya hilang belum tentu dikatakan sembuh. Jadi harus menunggu 5 tahunan bila sel kankernya tidak muncul lagi, maka dikatakan sembuh”.

Untuk bisa konsisten menjalani kegiatan sosial tentu bukan perkara yang mudah. Waktu itu saya pun sempat bertanya pada Panji, hal apa yang bisa membuatnya terus bertahan? Baca penuturannya di laman berikut, ya.


Post Comment