Membangun Minat Memasak Anak

cooking_kids2*Gambar dari sini

Dengan latar belakang saya yang nggak bisa memasak, (baru bisa setelah pindah dari rumah ibu saya, dan itu pun tipe 5 minutes food :D) saya nggak menarget anak saya bisa memasak. Untungnya jaman anak masih kecil-kecil, Masterchef Junior belum musim, jadi saya tidak bermimpi mengajari anak memasak.

Tapi beda dengan saya yang baru bisa bikin nasi goreng di usia 30 tahun, nasi goreng pertama Darris dan Dellynn dibuat di usia 9 dan 8 tahun. Bukan nasi goreng fancy tentunya, tapi waktu saya cicipin, enak juga, kok!

Apa yang membuat perbedaan 20 tahun antara saya dengan anak-anak?

  • Masak bukan karena disuruh/ dipaksa

Saya ingat disuruh membantu Ibu mengupas dan memotong sayuran. Saya juga ingat disuruh membantu menggoreng tempe, tahu, atau perkedel. Tapi saya tidak pernah punya passion memasak ketika kecil. Nggak penasaran bereksperimen dengan macam-macam bumbu, bahan, dan perkakas. Mentok-mentok kreasinya mi instan dengan berbagai topping saja ..hahaha.

Saya juga tidak pernah terpaksa memasak, karena tiap hari masakan Ibu ada 2-3 macam, jadi kapanpun akan selalu ada lauk dan makanan. Sementara saya sekarang cenderung hanya memasak 1-2 jenis makanan, dan saya nggak akan masak yang lain sebelum masakan sebelumnya habis. Saya nggak suka sisa makanan hanya menumpuk di kulkas, tapi minta lauk baru.

Dengan kondisi ini (plus pembatasan mi instan hanya boleh seminggu sekali), anak saya akan terpaksa memasak kalau nggak mau lauk yang tersisa. Mulai dari telur dengan macam-macam model dan topping, sampai pasta atau nasi goreng (yang sebenarnya cuma modal bawang merah-putih, kecap, dan garam-gula; walau mungkin mereka akan menambah bumbu ini itu yang ada di dapur :D).

  • Saya membebaskan anak menguasai dapur.

Silakan memasak apapun, dengan syarat enak nggak enak harus dimakan..haha, nggak boleh mubazir. Plus selesai masak semua dibereskan dan dibersihkan.

Dapur saya juga lebih banyak sepinya ketimbang terpakainya. Sebaliknya dapur ibu seperti ada jam kerjanya. Pagi sampai siang full, sore kosong, malam dipakai lagi untuk memanaskan lauk. Kadang sore pun ibu akan sibuk membuat camilan. Jadi rasanya itu dapur ibu, bukan dapur saya. Nyamankah memasak di dapur orang? ;)

Tontonan dan wawasan kuliner juga berpengaruh.


Post Comment