Menikmati Fase ‘Rewel’ Saat Hamil

Ketika hamil anak pertama, saya tidak merasakan kepayahan sama sekali. Tidak ada mual, tidak ada muntah, tidak ada yang namanya eneg pada makanan tertentu (malah bablas makan ingin ini dan itu), tidak ada pusing, tidak ada perasaan yang bercampur aduk. Saya baik-baik saja dam semua yang saya rasakan secara lahir dan batin masih sama seperti saya belum hamil. Ehm, kecuali berat badan yang meningkat sebanyak 27 kilogram.

Padahal, saat hamil anak pertama itu, saya selalu berjauhan dengan suami. Saya harus rela bertemu suami hanya beberapa kali dalam setahun dan ikhlas menunggu hingga 3-4 bulan. Puncaknya adalah menjelang kelahiran kakang, saya harus merelakan suami berdinas ke luar negeri selama sebulan. Jujur saja, dalam hati saya menangis sejadi-jadinya meski saat melepas kepergian suami saya iringi dengan lambaian tangan dan senyum. Bagaimana tidak sedih dan takut, setelah menghitung hari, saya yakin suami kembali ke tanah air setelah anak kami lahir ke dunia. Maka siapa yang akan menemani saya saat proses kelahiran anak kami yang pertama. Berbagai macam pikiran (kebanyakan pikiran jelek sih) berseliweran di kepala saya. Untunglah, suami saya bisa pulang satu hari sebelum saya melahirkan anak pertama saya. Nyaris sekali, ya!

Saat ini, saya sedang hamil anak kedua. Jika sebelumnya saya  bercerita tidak mengalami hal-hal yang ajaib saat hamil anak pertama, maka untuk kehamilan kedua ini saya bisa bilang “Beda banget dengan hamil Kakang (anak pertama) dulu, ya!”. Kehamilan anak kedua ini benar-benar menguras energi, pikiran dan perasaan saya. Jika hamil yang dulu saya bisa makan tanpa pilah pilih, maka sekarang saya jadi gampang eneg. Eneg dengan nasi, eneg dengan kuah santan, eneg dengan daging sapi atau ayam, dan eneg dengan susu.

Kehamilan kedua ini juga mampu mengaduk-aduk emosi saya. Saya jadi gampang tersinggung dan gampang nangis. Suami saya sampai serba salah dibuatnya. Satu lagi yang paling penting, saya mengalami mual dan muntah saat pagi dan sore hari. Rasanya jangan ditanya. Sungguh-sungguh membuat saya kepayahan! Beruntunglah si Kakang yang kini menginjak usia empat tahun, sangat mengerti kondisi ibunya. Tak jarang, jari-jari mungilnya memijat dahi dan ujung kaki saya.

Herannya, suami saya justru terlambat mengerti kondisi saya kali ini. Iya, suami saya sempat heran dan mengira saya terlalu manja dengan kondisi saya sekarang, karena kondisi kehamilan kali ini berbeda jauh dengan kondisi kehamilan saya yang dulu. Ditambah lagi, baru kali ini suami menyaksikan secara langsung perubahan kehamilan saya sejak minggu pertama hingga sekarang. Karena kehamilan sebelumnya, suami hanya mengetahui kondisi saya dari sms ataupun telepon. Jadilah, bukan hanya saya saja yang mengalami naik-turun emosi, suamipun turut merasakan emosinya yang bercampur aduk. Ditambah lagi, karena keadaan saya yang lemah setelah muntah-muntah di pagi hari, maka suami ikut bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga di pagi hari sebelum pergi kerja ke kantor. Masa-masa awal kehamilan anak kedua ini sempat membuat kami berdua stres.

Untunglah, ibu mertua mau mendengarkan keluh kesah menantunya dan memberikan penjelasan kepada kami berdua bahwa setiap kehamilan itu tidaklah sama. Ibu mertua sempat bercerita, saat hamil anak pertama yaitu suami saya, ibu mertua masih sanggup melakoni perjalanan darat dengan bis dari Bandung ke Solo tanpa menginap alias pulang pergi. Berbeda jauh saat menjalani kehamilan anak kedua yang mengharuskan ibu mertua selalu bolak-balik rumah sakit untuk bedrest total.

“Jadi,inilah saatnya kalian berdua bekerjasama. Kalau Maya sedang lemah, maka Yadi (nama suami saya) harus mau membantu Maya ya. Jangan jadi ribut karena keadaan Maya yang sedang hamil. Malah seharusnya kalian bersyukur diberikan kesempatan mendapatkan anak kedua setelah menunggu hampir empat tahun kan”. Mendengar ucapan ibu mertua, saya jadi terdiam. Serasa ditampar berkali-kali saat ibu mertua menasihati kami berdua.

Harus diakui, kami berdua melupakan hal penting bahwa kami sedang menanti-nanti kehadiran anak kedua ini. Setelah sekian lama kami rencanakan, baru tahun ini permohonan kami dikabulkan. Dan bukan hanya kami yang sedang menunggu kehadiran si kecil, namun ada kakang juga yang penasaran anggota keluarga baru ini. Bahkan, orang tua kami pun menunggu keberadaan si kecil.

Apa sih, yang harus dilakukan sebenarnya? Lihat di halaman selanjutnya ya!


Post Comment