Mainan Lintas Usia

Mommies yang punya anak-anak berbeda kelompok usia pasti pernah galau saat membiarkan si adik yang baru usia batita main bareng si kakak, atau… yang sesungguhnya terjadi adalah harapan bahwa sambil main si kakak mengasuh adiknya ..hehehe.

Bukan khawatir si kakak mengusili adiknya *saat sibling rivalry sudah bisa diatasi*, tapi khawatir jangan-jangan mainan si kakak tertelan si adik atau masuk lubang hidung, atau telinga karena ada bagian yang kecil. Dibalik pun, belum tentu si kakak mau memainkan mainan adiknya… “Gak mau, ah, mainan bayi!”.

Tapi masih ada, kok, mainan yang aman dimainkan bersama, misalnya:

Boneka

Siapa, sih, yang nggak punya boneka binatang berbulu? Sepertinya mainan ini salah satu yang akan selalu ada di kotak mainan anak-anak, ya? Atau mungkin ibunya juga? :D.

Untuk bayi dan batita, boneka binatang yang terbuat dari bahan bermacam-macam bisa jadi sumber belajar mengenal tekstur dan jenis hewan. Ada yang berbulu pendek, ada yang panjang, ada yang terbuat dari kain halus, kain flanel, dan lainnya. Ada yang buntutnya panjang, ada yang pendek, ada yang kakinya empat ada yang kakinya banyak seperti boneka caterpillar punya Devan.

Untuk anak yang lebih besar, boneka apapun adalah imajinasi tak berbatas. Jadi teman, musuh, polisi, presiden, guru, siapapun yang dikenal anak. Bahkan untuk anak yang memiliki gangguan psikologis, boneka adalah salah satu media menggali permasalahan.

Cangkir-teko atau masak-masakan

cangkir

Gambar dari sini

Si kakak tentunya sudah mahir, ya, meniru Mommy membuat minuman atau memasak sesuatu dan menyajikan. Bisa main tamu-tamuan juga bareng adiknya dengan perangkat ini. Sambil main kakak juga belajar konsep pasangan atau relasi, misalnya antara sendok-garpu, cangkir-alas, dan teko dengan tutupnya.

Adik yang sudah masuk usia makan juga kadang lebih berselera kalau alat makannya pakai mainan ketimbang piringnya sendiri :D. Buat Mommies yang anaknya sedang GTM boleh, nih, kiatnya dicoba.

Masih ada dua mainan lagi, lho!


Post Comment