Family Friday : Ali Adrian, Pebalap Muda Yang Sayang Keluarga

Nggak tau kenapa, saya paling geregetan kalau ngeliat anak-anak atau remaja yang tergila-gila sama sosok pesohor yang cuma  bermodalkan penampilan fisik aja. Sedangkan prestasinya, nol besar. Ya… punya idola  memang nggak salah, sih, karena biar gimana sosok idola bisa bermanfaat untuk memberikan motivasi pada anak-anak kita. Tapi, kalau nggak ada nilai postitif yang patut dicontoh, gimana? Percuma juga kan?

Sebagai Ibu, saya sendiri berharap Bumi punya sosok idola yang bisa ia contoh. Seseorang yang bisa menjadi inspirator untuknya dalam segala hal. Baik yang berpengaruh bagi perilaku atau pun gaya hidup . Harapannya, paling tidak saya dan suami yang bisa menjadi idola utamanya Bumi *amiin.

Kalau ngomongin idola, di mata saya sosok yang bisa memberikan banyak inspirasi pada anak kita contohnya seperti Ali Adrian.  Pemuda 21 tahun ini merupakan pebalap motor yang ini tengah mempersiapkan diri untuk mencetak sejarah baru bagi Indonesia. Menjadi 5 besar di kejuaraan Moto2 kemudian masuk ke dalam kejuaraan dunia terbesar, Moto  GP. Wiiih. Hebat ya! Jadi, selain punya fisik yang oke, prestasi yang sudah berhasil ia dapatkan juga segudang. Pantaskan kalau dijadikan idola?

Adrian and Tito Rabat

Bahkan Ali Adrian juga dipilih oleh David Garcia, mantan pebalap MotoGP yang sukses mengantarkan Tito Rabat menjadi juara dunia Moto2 musim ini untuk menjadi ‘anak asuhnya’. Adrian kini memang tercatat menjadi satu-satunya rider Indonesia yang melakukan persiapan matang dibawah asuhan pemilik International Circuito de Almeria, Spanyol.

Sebenarnya saya sendiri juga baru mengenal sosok Ali Adrian. Itu pun lewat cerita suami saya yang memang bekerja sebagai jurnalis olahraga.  Kebetulan, beberapa waktu lalu saya dapat kesempatan untuk bertemu dan ngobrol dengan Ali Adrian. Dengan semangat, ia bercerita mengenai asal muasal ketertarikannya pada dunia balap motor.

3171-Ali Ardian (1)

Passion dari kecil suka balap motor, suka speed dan dan adrenalin. Saat umur 12 tahun, saya sampaikan ke orangtua kalau  mau serius di sini. Dan orangtua mendukung dengan catatan jadi yang terbaik, lakukan yang serius dan juga disampaikan konsekuensi yang saya hadapi”.

Ketertarikan Adrian pada kendaraan motor ini memang sudah dimulai sejak usianya 3,5 tahun. Bisa dimaklumi, sih, soalnya bakat ini diturunkan sang ayah, Erin Rusmiputro, yang hobi mengendarai motor cross. Alhasil, sejak usia 14 tahun ia pun sudah mulai mengikuti berbagai kejuaraan motor nasional.

Waktu itu saya sempat bertanya, pola asuh seperti apa sih yang diterapkan kedua orangtuanya sehingga ia bisa tumbuh menjadi sosok lelaki yang berani mengambil risiko dengan memilih profesi sebagai pebalap? Sambil tersenyum, anak kedua dari empat bersaudara ini bilang, “Orangtua saya nggak pernah mengajarkan saya untuk bermenye-menye. Harus berani mengambil segala risiko. Pesan orangtua saya,  selalu lakukan yang terbaik, kami mendoakan dan mendukung apa yang menjadi pilihan kamu”.

Selain itu, Adrian punya kunci sukses versi dirinya sendiri yang membuat saya terbengong-bengong karena diucapkan oleh anak usia 21 tahun. Secara ya, biasanya umur segitu lagi happy-happy saja yang dipikirin. Mau tau? Simak di halaman selanjutnya!


One Comment - Write a Comment

  1. Bener-bener pengen ngobrol sama Bu Ina Noor, hiks. segala sesuatu tentang balapan motor selalu mengingatkan pada adik saya yg juga obsesinya jadi pembalap. And he’s talented, karena ayah saya juga seseorang pecinta otomotif terutama motor cross dan balap motor lainnya. Tapi karena hal itu masih belum menjanjikan di Indonesia dan juga riskan, orang tua saya jadi agak ragu untuk mendukung. Anyone could help? *malahcurhat*

Post Comment