Dari Mama, Untuk Sanju Di Surga

boise_lifestyle_photographer0111*Gambar dari sini

Setelah 40 menit berusaha, kondisi Mama tidak membaik, kontraksi sudah nyaris tak bersela, Mama mulai menangis kesakitan, dan dokter memutuskan untuk memeriksa dilatasi. Hasilnya, terlambat, bukaan sudah sempurna, kamu harus segera dilahirkan. Hari itu, 18 September 2013, kamu, anak Mama, yang kami panggil Sanju, lahir dengan proses persalinan normal.

Tangisanmu meledak sesaat setelah kamu lahir, tangan dan kakimu bergerak-gerak melawan ketika digendong oleh dokter. Mama hanya melihatmu sedetik, ketika dokter kandungan menyerahkanmu ke dokter anak untuk dilarikan ke NICU. Kamu begitu mungil.. kecil.. 1,2kg, namun tangisan dan gerak tubuhmu memberi Mama dan Papa harapan besar. “Anakku prematur, kecil, namun lengkap dan sehat, dia akan bertahan, insyaallah”, begitulah suara dalam benak Mama. Papa terlihat sangat bahagia, berkali-kali Mama mendengarnya mengucap syukur. Dan Mama? saking bahagianya Mama sampai tak merasa sakit ketika dokter melakukan jahitan episotomi.

Malam itu Mama tak bisa tidur sama sekali. Mama teringat Sanju.. Mama ingin sekali menggendong dan segera menyusui Sanju, tapi Mama tahu, bahwa NICU adalah tempat terbaik bagi Sanju saat itu. kamu butuh perawatan ekstra dan pengawasan penuh. Mama menghabiskan malam dengan bersyukur dan berkhayal, jika kamu sudah stabil dan boleh dibawa-bawa, Mama ingin sekali membawamu ikut bersama Mama ke tempat-tempat pengajian Nak.

Esok paginya, 19 September, nenekmu pulang ke rumah setelah semalaman menginap dirumah sakit, beliau punya kewajiban lain dirumah, kakekmu masih butuh perawatan. Papa menerima telpon dari NICU, meminta Papa datang ke rumah sakit. Mama ketakutan setiap kali mendengar dering telpon, Mama takut telpon itu membawa kabar buruk. Namun wajah Papa tenang, maka Mama tenang. Tak lama kemudian Papa kembali dan mengatakan dokter memanggilnya untuk meminta persetujuan memasang alat bantu nafas yang lebih canggih padamu, karena kamu terlalu kecil, paru-parumu belum mampu bernafas walau sudah dibantu dengan alat nafas yang regular. Mama bertanya tentang keadaanmu, dan Papa bilang kamu sehat, tak henti-hentinya bergerak, matamu terbuka lebar dan melihat ke sana ke mari. Papa, dengan ditemani kakekmu yang satu lagi, bahkan sudah membeli beberapa peralatan mandi dan selimut (warna pink, karena itu warna kesukaan Mama, padahal tahu anaknya laki-laki.hehe) dan mengantarnya ke NICU. Papa tak diperbolehkan lama-lama bersamamu, karena kamu di bawah pengawasan dokter.

Menjelang siang, Papa menerima telpon lagi dari NICU. Mama tak berprasangka apa-apa, namun wajah Papa berbeda. Papa menerima telpon itu di luar kamar perawatan Mama. Papa menyampaikan bahwa kondisimu memburuk. Paru-parumu tetap tak mampu bekerja walau sudah dibantu alat, dokter meminta kami berdoa yang terbaik. Mama ketakutan setengah mati Nak. Mama mulai menangis. Papa juga. Kami berdoa dan memohon pada Allah untuk memberimu kesempatan hidup, kesempatan bagi Mama dan Papa untuk melihatmu tumbuh besar. Namun 30 menit kemudian dokter mengabarkan bahwa kamu sudah berpulang..

Dunia Mama seakan runtuh hari itu itu. hati Mama hancur, Mama berteriak-teriak tanpa sadar. Papamu berusaha menenangkan Mama, namun Mama sudah setengah sadar. Entah beberapa jam kemudian Mama baru sadar sepenuhnya, ketika Mama sayup-sayup mendengar Papa berkata akan pulang ke rumah untuk memakamkanmu. Papa menanyakan sesuatu, yang Mama jawab dengan gelengan, walau Mama tak paham apa pertanyaannya. Mama memohon pada dokter untuk pulang, namun dokter tak mengizinkan karena kondisi fisik Mama yang lemah dan mental yang tak stabil. Papamu pulang setelah menitipkan Mama pada kerabat.

Setelah 2 malam dirawat, Mama akhirnya bisa pulang. Kakekmu dari pihak Papa beserta beberapa anggota keluarga menjemput Mama dari rumah sakit. Setibanya dirumah, orang-orang masih ramai yang melayat. Semua menangis, meyalami Mama, menyemangati Mama. Mama berusaha tegar di depan orang lain. Mama tak ingin menangis di depan orang lain. Mama berusaha terlihat kuat. Saat itu, Mama bertanya pada Papa, mengapa sebelum dimakamkan, Sanju tak dibawa keruang perawatan dulu untuk bertemu Mama. Papa menjawab, itu pilihan Mama. Mama yang menolak ketika ditawarkan untuk melihat Sanju. Ah Nak, ternyata itu pertanyaan Papamu sebelum ia pulang. Mama setengah sadar waktu itu, sehingga menjawabnya dengan gelenganpun Mama tak ingat.

Hanya Papamu dan Allah yang tahu, betapa setiap malam Mama tak bisa tidur karena menangis. Saat itu Mama marah. Marah pada dokter di rumah sakit A yang mengatakan Mama hanya berlebihan. Marah pada bidan-bidan di rumah sakit B yang mengatakan semua normal-normal saja. Marah pada semua dokter kandungan yang pernah Mama datangi selama hamil namun tak ada ketika dibutuhkan. Mama marah pada diri sendiri yang masih saja melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik yang berat padahal sedang hamil. Mama marah pada diri sendiri yang selama hamil seringkali stres memikirkan pekerjaan dan kondisi kakekmu.

Setelah fase marah berakhir, Mama mengalami fase menyesal. menyesal karena merasa bersalah atas kematianmu. Menyesal karena merasa sudah menjadi ibu yang buruk. Mama menyesal dan menyalahkan diri Mama sendiri atas semua yang terjadi. Dan semua fase-fase itu Mama jalani sambil menangis. setiap malam. Mama berhenti menangis karena Papamu, sambil menangis, meminta Mama berhenti.

Firasat yang hadir sebelumnya..


36 Comments - Write a Comment

  1. Sukses menitikkan air mata di kubikalku..
    Sabar y mbk..Sanju pasti senyum bahagia melihat ortunya ikhlas dan baik-baik saja..
    Nasehat itu.. mengena sekali. Dan bikin sy berpikir, berarti Allah selalu punya tujuan baik dari setiap anak yg dilahirkan sehat dan selamat. Sama halnya seperti hidup kami yg awalnya cukup tdk teratur,saat punya anak menjadi lebih baik.. jauh lbh baik sebagai manusia. Mungkin karena anak kami diutus Allah untuk memperbaiki hidup kami.. dan itupun jalan yg dia pilih..

    Mbk.. semangat yaa. Semoga keluarga selalu sehat.. amin thanks for share. Salam kenal sy ira di surabaya :)

  2. adiesty

    Baru baca satu dua alinea, langsung mbrebes mili…

    Ikut berduka, ya, Mbak…. bisa ngerasain apa yang Mbak Intan rasa. Dulu, saat keponakan aku meninggal dunia saat usianya 6 bulan.
    Tapi seperti yang Mbak bilang… pasti Sanju sekarang sudah tenang di sisi Allah. InsyaAllah Sanju segera punya adik yang sehat dan bisa menemani Mbak Intan dan suami. Amiin

    *peluk*

  3. mba….saya nangis diruangan terbuka di kantor ini yang semuanya laki..dan mereka menatap heran kepada saya….nasihat dari sodara mba sangat menyentuh saya…Mengingat dulu saya juga punya masalah saat hamil…Allah memang baik mba, punya tujuan…insya Allah mba dan keluarga diberikan banyak adik setelah Sanju yah…be strong dan tetap berikhtiar ya dan selalu berkirim doa untuk Sanju agar Sanju juga memberikan doa juga untuk mba sekeluarga…untuk Sanju di surga,kamu punya ibu dan bapak yang sangat sayang sama kamu,berbanggalah ya sayang….hiksss, nangis lagiii…

  4. Subhanalloh, cerita yg mengajarkan banyak hal. Terima kasih sudah membaginya, Mbak :) Tiada kata yg bisa saya ucapkan selain tabah dan ikhlas, Alloh Maha Pengasih dan Penyayang, juga Maha Mengetahui.
    Semoga selalu diberkahi, dan Sanju menjadi penyambut mbak dan suami kelak di surga :)

  5. Dear Mommies, salam kenal juga dari saya di Banda Aceh.. terimakasih untuk semua doa dan dukungannya. Semoga kisah Sanju bisa jadi inspirasi buat semua mommies, agak tak mengabaikan keluhan sekecil apapun ketika sedang hamil, dan segera mencari 2nd opinion ketika dokter pertama dirasa nggak memberikan jawaban yang memuaskan..

    Alhamdulillah saat ini saya sedang mengandung adiknya Sanju, insyaallah minggu depan genap 36 minggu. Mohon doanya ya mommies..

    Salam cinta dari Banda Aceh :-)

  6. sanetya

    Thank you for sharing, Mbak Intan :)

    Mudah-mudahan segalanya dilancarkan oleh-Nya. Memang, ya, kondisi hamil itu tidak main-main … tidak bisa disepelekan atau dianggap enteng. Kadang orang suka lupa, tiap kehamilan berbeda (bahkan yang dialami oleh satu ibu) … nggak bisa disamakan satu dengan yang lain. Saya setuju sekali, kita harus peka dengan insting.

    1. Amiinn.. makasih doanya ya Sanetya.. :-). Yup betul. kemailan itu memang bukan penyakit, tp setiap kehamilan datang dengan keluhannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Semoga kali ini saya bisa menjaga kehamilan ini dengan jauuhh lebih baik. Aminn.. Alhamdulillah kehamilan kali ini saya mendapatkan dokter yang sangat-sangat telaten dan perhatian. Beliau memberikan waktu luang yang banyak untuk konsultasi dan tidak pernah menyepelekan keadaan. Mohon doanya ya.. :-)

  7. Hi mbak, aku mengalami cerita yang sama. Anak laki-laki ku, Adria, lahir prematur 23 minggu, bulan Juni ’14 kemarin. Alhamdulillah aku bisa peluk dia 3 jam sebelum akhirnya dia pergi. Pasti Sanju dan Adria lagi main bareng sekarang.

    Be strong ya, I know exactly how you feel :)

    1. Turut berduka cita ya Mbak Witanilao.. insyaallah anak-anak kita saat ini sudah ditempat yang lebih baik, selalu dalam lindungan Allah. Mereka yang akan senantiasa mendoakan kita selama kita juga tak lupa mendoakan mereka. Semoga adik-adiknya Adria dan Sanju akan lahir dengan selamat dan sehat, menemani ibadah-ibadah kita di dunia ya.. amiinnn..

  8. inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… I’m sorry for your lost mb Intan.. Allah SWT memang sudah menetapkan takdir utk setiap hambaNya… semoga selalu tawakal y mb… semoga mb Intan tetap kuat dan tegar dan semoga kehamilan ini dimudahkan dan dilancarkan.. dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan kepada mb Intan juga calon dedek bayi y…

  9. Hi Mbak,..turut berduka cita..saya menahan air mata di depan computer..semoga ketabahan dan penghiburan ditambahkan tiap harinya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa ya mba..dan semoga lekas diberikan adik baru lagi ya mba..
    terima kasih untuk sharingnya.
    Tuhan memberkati.

  10. Hai mba, baru baca kisahnya. Pedih emang kehilangan sesuatu di tengah kebahagiaan yg memuncak. Sama seperti saya tiga bulan lalu kehilangan bayi laki-laki saya, Azka yg meninggal di dalam kandungan usia 24w. Semua orang bilang ikhlas tp prakteknya sangat susah ya. Sekarang masih terus belajar ikhlas sambil berusaha menghilangkan trauma buat kasih Azka adik. Sanju dan Azka pasti sudah bahagia di surga…

  11. Bisa ngrasain apa yg mba intan rasakan.. yg pasti anak anak qt sdh bahagia di syurga ya mba..
    Selamat jg sdh diberikan amanah lg oleh Allah. Semoga lancar sampai dedeny lahir. Sehat dan selamat mama dan dedenya..
    *hugs*
    Salam kenal.. saya ratih dr Batang. Kalo bole sy minta emailnya mba. Spy qt bs sharing..

  12. Hai salam kenal mbak Intan.. Saya Vivin di Jogja.. Saya kehilangan anak saya yang berumur 7,5bulan.. Waktu hamil saya bahagia, tidak ada flek, tidak ada masalah apapun, tidak mual, dan tidak ngidam apapun, semua menyenangkan. Kondisi saya dan bayi sehat. Sampai akhirnya saat kontrol terakhir, Amora harus segera dikeluarkan karena ada deselerasi detak jantung yang berarti ada gangguan. Akhirnya Amora lahir caesar.. Ternyata suspect dokter Amora itu kelainan genetic trisomy 18. Seperti hancur hati saya ketika tau dan Amora sempat berhenti bernafas akhirnya segera dipindah ke NICU selama 2 minggu. Amora harus minum asi lewat selang. Setelah hampir sebulan Amora dinyatakan stabil dan kami boleh pulang. Sangat panjang segala suka dan duka yang kami alami. Terapi, echo jantung, ke dokter syaraf, dokter gastro, dan banyak dokter yang harus kami temui serta segala diagnosa2 yang sampai hari ini kalau saya ingat itu sangat menyakitkan hati saya. 7,5 bulan Amora bersama saya di dunia ini, akhirnya Amora menghembuskan nafas yg terakhir bulan november th 2014 lalu.. Saya masih fase marah atas apa yang terjadi dan menyalahkan diri saya sendiri. Saya tau betul apa yang saya rasakan. Tapi saya bersyukur sudah diberi seorang anak ajaib seperti Amora. Kenapa saya bilang anak ajaib? Karena waktu itu dokter bilang umur Amora tidak lebih dari 1 minggu. Tapi saya tidak peduli, buat saya Allah yang Maha Mengetahui. Oiya, Amora terakhir gagal nafas karena pneumonia. Perjuangan anak2 kita sungguh berharga dan luar biasa indah, kadang saya bisa menyadari itu. Tapi di satu sisi hati saya hancur dan sekarang saya masih berusaha dan berjuang untuk berbenah diri dan memperbaiki kondisi mental saya sendiri. Terima kasih sudah mau berbagi disini, saya jadi tidak merasa sendirian dan saya mendapatkan banyak pelajaran berharga yang patut saya syukuri. Anak2 kita akan selalu mempunyai tempat sendiri di hati kita…
    Terima kasih sekali lagi mbak Intan yang sudah berbagi kisah Sanju disini… :)

    1. Allah maha baik.. Ia menguji ummat sesuai dengan kemampuannya.. Mbak Vivin sangaaaatt kuat, sehingga Allah menguji Mbak Vivin dengan ujian yang segitu tinggi tingkatannya.. Insyaallah pahala berlimpah atas kesabaran mbak dan keluarga yaa..

      Gimana? Amora sudah ada adek lagi kah? :-)

  13. Dear Fellow moms..
    terimakasih banyak untuk semua komen, doa dan harapannya yaaa.. Fyi: Alhamdulillah Sanju sudah punya adek. Muhammad Al Azzam, lahir 31 Januari 2015 melalui c-section. Sekarang sudah 7 bulan lebih umurnya, dan lagi semangat2nya eksplorasi dengan mpasi.

    Semoga kita bisa terus komunikasi dan bertukar pengalaman serta informasi yaa..

    Silahkan email ke intan.maulida@gmail.com. Facebook: intan maulida. IG: @intanmaulidasandy

  14. Dear Mba Intan..
    turut berduka, yaa… aku jadi ikutan nangis.. untungnya di kantor lagi sepi.. Anakku kembar, laki-laki dan perempuan, tapi usia 7 hari anak laki-lakiku meninggal. Semua rasa yang mba Intan rasain juga aku rasa.. yang buat aku tetap bisa jalani hidup karena masih ada 1 anak yang butuh aku, butuh perhatian dan kasih sayang dari Ibunya. Rasa sedih paling sering muncul saat dia tidur, seharusnya ada 2 anak yang sedang tidur lelap di tempat tidur ini, aku ngebayangin seandainya mereka tetap tumbuh kembang berdua, main bareng, berebut mainan atau bahkan perhatian dari Ayah Ibunya.. waktu awal pulang dari RS, setiap ngelihat pelengkapan bayi yang sudah kami siapkan dgn warna biru-pink itu selallluuu bikin kami sedih.. Bahkan sampai sekarang stroller tandem yang sudah kami beli belum pernah dibuka sama sekali… hhhhhhhmmm… rasanya miriiiisssssss… Kalimat dari kerabat mba itu buat aku sedih sekaligus tenang, Dia memilih jalan kehidupannya untuk kembali kepadaNya. Mungkin abang Raia sedang asyik main dengan Abang Sanju di surga sana,,

  15. dear mbak Intan,
    saya sampe nangis baca tulisan ini. Teringat pengalaman saya, kehilangan bayi saya diusia kehamilan 8bln. 14thn yg lalu
    Pada saat itu saya sangat marah dan merasa tidak becus menjadi seorang ibu. Tidak bisa menjaga anak dalam kandungan.
    Tapi saya setuju dengan mbak Intan. Semua yg terjadi itu pasti dalam kehendak TUhan. Tidak ada satu hal pun yang berjalan tanpa diketahui oleh NYA. Dan bayi ku memilih untuk tinggal di surga dibandingkan bersama mama papanya.

    Saat ini aku sdh memiliki seorang putri berusia 2thn 5bln. Selang waktu 12 thn sejak kehilangan yang lalu membuat hidupku lebih matang. Lebih bisa mensyukuri keadaan.
    Semoga semua keadaan yg pernah kita alami membuat kita lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan.
    Salam ya mbak…

Post Comment