Dari Mama, Untuk Sanju Di Surga

IMG_9447

Kami memang berharap kamu lahir sehat dan selamat, tak peduli apapun jenis kelaminmu. Paman-pamanmu juga tak kalah semangatnya. Yang satu tak sabar ingin mendaftarkanmu di Klub Tarung Drajat, dan satu lagi ingin mendaftarkanmu ke Klub Liverpool. The grandparents? Semua berebut ingin membelikanmu peralatan bayi.

Namun di tengah kebahagiaan itu, Allah menguji kita, kakekmu jatuh sakit dan beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Mama, Papa dan nenekmu mondar-mandir bergantian menjaga kakekmu di rumah sakit. Awalnya semua baik-baik saja, sampai Mama mengalami pendarahan.. Ya Allah nak, Mama takuuuttt sekali. Mama takut sekali terjadi apa-apa pada kamu. Menuruti perintah dokter, Mama pun beristirahat di rumah, bahkan Mama dilarang ke rumah sakit menjenguk kakek karena Mama harus bedrest. Alhamdulillah, setelah beberapa kali dirawat, kakekmu bisa pulang ke rumah, walau kondisinya masih lemah. Mama pun berkurang stresnya.

Nak,

Memasuki usiamu 22 minggu, rumah kita mulai rame, ada banyak sekali acara adat yang diselenggarakan untuk menyambutmu. Mulai dari 7 bulanan yang mengundang nyaris semua handai taulan dan tetangga, sampai acara 7 bulan khusus keluarga besar, dan acara 7 bulanan khusus keluarga inti. Semua kita jalankan dengan hati bahagia, begituuu banyak orang yang mensyukuri kehadiranmu Nak.. Mama dan Papa apalagi, kami seperti terbang ke langit saking bahagianya.

Tak terasa, kamupun bertambah besar. Usiamu sudah 27 minggu. Mama menyimpan semua poto USG-mu. Pertumbuhanmu bagus, organ-organmu lengkap, jaringan otakmu normal, dan kamu aktif sekali. Ini adalah masa-masa paling membahagiakan bagi Mama dan Papa. Kami membacakan ayat-ayat Al Quran sebelum tidur, agar kamu tidur nyenyak. Kami juga mulai membahas pola pengasuhanmu nanti. Namun yang paling membahagiakan adalah kamu punya respon yang sangat baik. Setiap Papa mengelus perut Mama, kamu menendang-nendang dengan kuat, begitu juga setiap kali Mama memanggil namamu, kamu bergerak lincah. Mama bahagiaaa sekali setiap merasakan gerakanmu. Sangat-sangat bahagia.

Ketika usia kandungan Mama 27 minggu, Mama mengalami gatal-gatal di sekitar perut. Beberapa orang mengatakan bahwa itu sangat wajar, karena perut yang membesar menyebabkan kulit mulai pecah dan membentuk selulit, selulit itulah yang mengakibatkan gatal. Semakin hari, gatalnya semakin parah. Bercak merah bentol-bentol seperti digigit semut mulai muncul di perut Mama. Kebetulan itu sudah waktunya kamu cek di dokter, maka Mama dan Papa pun pergi ke dokter kandungan yang kata teman-teman Mama alat USG-nya lebih bagus dari dokter yang biasa Mama kunjungi. Sekalian ingin melihat kondisimu dan berkonsultasi tentang hal-hal lainnya.

Setelah di USG dan diperiksa seperti biasa, dokter menanyakan apa keluhan Mama. Mama menyampaikan keluhan tentang kulit perut mama yang gatal-gatal. Seperti orang-orang lain juga, dokter mengatakan itu semua wajar. Mama tanya lagi, kalau sudah gatal menjurus pedih, dan muncul bercak kemerahan sampai bentol-bentol apa masih wajar? Dokter tetap mengatakan itu wajar, pakai minyak zaitun saja yang banyak, katanya. Keesokan harinya, gatal pedih dan bentol-bentol merah itu mulai menjalar ke paha dan lengan. Mama pun mulai curiga, ini pasti bukan gatal biasa. Maka Mama mengajak Papa ke dokter kulit. Mama malas ke ke dokter kandungan lagi, karena Mama tak suka diperlakukan seolah-olah hanya bisa mengeluh. Dokter kulit memeriksa kulit Mama, dan memberikan krim oles yang aman bagi kehamilan, untuk meredakan gatal. Krim itu lumayan membantu, tidak menyembuhkan, namun Mama jadi bisa tidur karena gatalnya berkurang.

Belum sembuh keluhan di kulit, memasuki 28 minggu kurang 3 hari, Mama merasakan sakit perut yang tak biasa. sakit yang menusuk, di perut kanan bawah. Karena masih sakit ringan, Mama membiarkan saja, namun besoknya sakit itu semakin terasa. Mama khawatir itu usus buntu, maka Mama dan Papa pergi ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter berkata itu tak masalah, orang hamil biasa sakit ini dan itu katanya, dan Mama tak boleh mengeluh. Walaupun Mama agak tersinggung diperlakukan seolah-olah Mama pura-pura sakit, namun Mama pun agak tenang karena dokter bilang kamu baik-baik saja dan dari rumah sakit Mama langsung ke kantor.

Malamnya, Mama kesakitan. Sakit perut itu semakin menyebar. Awalnya ringan, namun semakin lama semakin sakit. Saat itu Mama berpikir mungkin kontraksi palsu. namun Mama tak bisa tidur, karena kontraksinya mulai teratur, 25 menit sekali. Nak, Mama banyaak sekali membaca artikel sejak awal kehamilan, dan saat itu Mama tahu, bahwa kontraksi yang Mama rasakan, bukanlah kontraksi palsu. Pagi itu juga, Papa dan Mama berusaha menghubungi hampir semua dokter kandungan di Banda Aceh, tapi mereka semua sedang ikut simposium di Medan. Papa kemudian membawa Mama ke salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota ini untuk diperiksa. Kontraksi semakin intens disertai flek. Mama panik.

Setibanya di rumah sakit, para bidan yang menangani Mama hanya memeriksa denyut jantungmu dengan alat yang didekatkan ke perut Mama, kemudian berkata bahwa kamu baik-baik saja. Mama hanya berlebihan, sakit seperti ini biasa bagi orang hamil, dsb dsb. Mama mengatakan bahwa Mama mengalami flek dan kontraksi teratur, namun hanya ditanggapi dengan “Ibu cuma kecapekan, biasa itu, pasti semalam habis begitu-begituan yaa”. Sumpah Nak, Mama marah sekali mendengar itu. Mama memang bukan dokter, tapi Mama adalah pemilik badan ini dan Mama bukan seorang pengeluh, Mama tahu kondisinya tidak seringan itu, Mama tahu ada yang tak beres, namun Mama tak bisa berkata apa-apa karena menahan sakit. Setelah para bidan menelpon dokter kandungan yang biasa menangani Mama (mereka yang menelpon dan bicara pada dokter, bukan Mama yang menyampaikan keluhan Mama sendiri pada dokter), Mama diberikan obat anti kontraksi dan disuruh pulang untuk bedrest. Mama berkeras ingin dirawat, namun para bidan itu meyakinkan Mama bahwa hal seperti ini biasa terjadi.

Pulang ke rumah, Mama mencoba istirahat, namun tak bisa karena Mama sangat kesakitan, kontraksi mulai berjarak 15 menit sekali, dan flek sudah berubah menjadi darah. Mama dan Papa mencoba tetap positif, dengan minum obat anti kontraksi yang diberikan tadi. Namun kontraksi semakin intens, akhirnya Mama memohon untuk dibawa lagi kerumah sakit. Papa berusaha mencarikan dokter kandungan, karena Mama tak percaya lagi pada bidan apapun. Akhirnya Papa menemukan seorang dokter yang bisa segera memeriksa Mama.

Setelah diperiksa keadaan umum dan USG, ternyata firasat Mama benar Nak, yang Mama rasakan sejak kemarin adalah tanda akan melahirkan. “Tak mungkin kontraksi muncul tiba-tiba langsung intens, apalagi anak pertama. Ini pasti sudah berlangsung paling tidak 2 hari”, kata dokter. Hasil tes menunjukkan leukosit yang agak tinggi, tanda bahwa Mama mengalami infeksi. Mama curiga infeksi itu berasal dari infeksi kulit, yang kemudian entah bagaimana akhirnya menyebabkan kontraksi. Dokter mencoba segala cara untuk menghentikan kontraksi. Injeksi pematang paru, anti kontraksi, antibiotik, dan segala macam jarum dimasukkan kedalam tubuh Mama. Sakit ditusuk-tusuk jarum sudah tak terasa lagi karena Mama bersedia melakukan apapun, apapun Nak, yang penting kamu baik-baik saja.

Kelahiranmu yang datang lebih cepat…


36 Comments - Write a Comment

  1. Sukses menitikkan air mata di kubikalku..
    Sabar y mbk..Sanju pasti senyum bahagia melihat ortunya ikhlas dan baik-baik saja..
    Nasehat itu.. mengena sekali. Dan bikin sy berpikir, berarti Allah selalu punya tujuan baik dari setiap anak yg dilahirkan sehat dan selamat. Sama halnya seperti hidup kami yg awalnya cukup tdk teratur,saat punya anak menjadi lebih baik.. jauh lbh baik sebagai manusia. Mungkin karena anak kami diutus Allah untuk memperbaiki hidup kami.. dan itupun jalan yg dia pilih..

    Mbk.. semangat yaa. Semoga keluarga selalu sehat.. amin thanks for share. Salam kenal sy ira di surabaya :)

  2. adiesty

    Baru baca satu dua alinea, langsung mbrebes mili…

    Ikut berduka, ya, Mbak…. bisa ngerasain apa yang Mbak Intan rasa. Dulu, saat keponakan aku meninggal dunia saat usianya 6 bulan.
    Tapi seperti yang Mbak bilang… pasti Sanju sekarang sudah tenang di sisi Allah. InsyaAllah Sanju segera punya adik yang sehat dan bisa menemani Mbak Intan dan suami. Amiin

    *peluk*

  3. mba….saya nangis diruangan terbuka di kantor ini yang semuanya laki..dan mereka menatap heran kepada saya….nasihat dari sodara mba sangat menyentuh saya…Mengingat dulu saya juga punya masalah saat hamil…Allah memang baik mba, punya tujuan…insya Allah mba dan keluarga diberikan banyak adik setelah Sanju yah…be strong dan tetap berikhtiar ya dan selalu berkirim doa untuk Sanju agar Sanju juga memberikan doa juga untuk mba sekeluarga…untuk Sanju di surga,kamu punya ibu dan bapak yang sangat sayang sama kamu,berbanggalah ya sayang….hiksss, nangis lagiii…

  4. Subhanalloh, cerita yg mengajarkan banyak hal. Terima kasih sudah membaginya, Mbak :) Tiada kata yg bisa saya ucapkan selain tabah dan ikhlas, Alloh Maha Pengasih dan Penyayang, juga Maha Mengetahui.
    Semoga selalu diberkahi, dan Sanju menjadi penyambut mbak dan suami kelak di surga :)

  5. Dear Mommies, salam kenal juga dari saya di Banda Aceh.. terimakasih untuk semua doa dan dukungannya. Semoga kisah Sanju bisa jadi inspirasi buat semua mommies, agak tak mengabaikan keluhan sekecil apapun ketika sedang hamil, dan segera mencari 2nd opinion ketika dokter pertama dirasa nggak memberikan jawaban yang memuaskan..

    Alhamdulillah saat ini saya sedang mengandung adiknya Sanju, insyaallah minggu depan genap 36 minggu. Mohon doanya ya mommies..

    Salam cinta dari Banda Aceh :-)

  6. sanetya

    Thank you for sharing, Mbak Intan :)

    Mudah-mudahan segalanya dilancarkan oleh-Nya. Memang, ya, kondisi hamil itu tidak main-main … tidak bisa disepelekan atau dianggap enteng. Kadang orang suka lupa, tiap kehamilan berbeda (bahkan yang dialami oleh satu ibu) … nggak bisa disamakan satu dengan yang lain. Saya setuju sekali, kita harus peka dengan insting.

    1. Amiinn.. makasih doanya ya Sanetya.. :-). Yup betul. kemailan itu memang bukan penyakit, tp setiap kehamilan datang dengan keluhannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Semoga kali ini saya bisa menjaga kehamilan ini dengan jauuhh lebih baik. Aminn.. Alhamdulillah kehamilan kali ini saya mendapatkan dokter yang sangat-sangat telaten dan perhatian. Beliau memberikan waktu luang yang banyak untuk konsultasi dan tidak pernah menyepelekan keadaan. Mohon doanya ya.. :-)

  7. Hi mbak, aku mengalami cerita yang sama. Anak laki-laki ku, Adria, lahir prematur 23 minggu, bulan Juni ’14 kemarin. Alhamdulillah aku bisa peluk dia 3 jam sebelum akhirnya dia pergi. Pasti Sanju dan Adria lagi main bareng sekarang.

    Be strong ya, I know exactly how you feel :)

    1. Turut berduka cita ya Mbak Witanilao.. insyaallah anak-anak kita saat ini sudah ditempat yang lebih baik, selalu dalam lindungan Allah. Mereka yang akan senantiasa mendoakan kita selama kita juga tak lupa mendoakan mereka. Semoga adik-adiknya Adria dan Sanju akan lahir dengan selamat dan sehat, menemani ibadah-ibadah kita di dunia ya.. amiinnn..

  8. inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… I’m sorry for your lost mb Intan.. Allah SWT memang sudah menetapkan takdir utk setiap hambaNya… semoga selalu tawakal y mb… semoga mb Intan tetap kuat dan tegar dan semoga kehamilan ini dimudahkan dan dilancarkan.. dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan kepada mb Intan juga calon dedek bayi y…

  9. Hi Mbak,..turut berduka cita..saya menahan air mata di depan computer..semoga ketabahan dan penghiburan ditambahkan tiap harinya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa ya mba..dan semoga lekas diberikan adik baru lagi ya mba..
    terima kasih untuk sharingnya.
    Tuhan memberkati.

  10. Hai mba, baru baca kisahnya. Pedih emang kehilangan sesuatu di tengah kebahagiaan yg memuncak. Sama seperti saya tiga bulan lalu kehilangan bayi laki-laki saya, Azka yg meninggal di dalam kandungan usia 24w. Semua orang bilang ikhlas tp prakteknya sangat susah ya. Sekarang masih terus belajar ikhlas sambil berusaha menghilangkan trauma buat kasih Azka adik. Sanju dan Azka pasti sudah bahagia di surga…

  11. Bisa ngrasain apa yg mba intan rasakan.. yg pasti anak anak qt sdh bahagia di syurga ya mba..
    Selamat jg sdh diberikan amanah lg oleh Allah. Semoga lancar sampai dedeny lahir. Sehat dan selamat mama dan dedenya..
    *hugs*
    Salam kenal.. saya ratih dr Batang. Kalo bole sy minta emailnya mba. Spy qt bs sharing..

  12. Hai salam kenal mbak Intan.. Saya Vivin di Jogja.. Saya kehilangan anak saya yang berumur 7,5bulan.. Waktu hamil saya bahagia, tidak ada flek, tidak ada masalah apapun, tidak mual, dan tidak ngidam apapun, semua menyenangkan. Kondisi saya dan bayi sehat. Sampai akhirnya saat kontrol terakhir, Amora harus segera dikeluarkan karena ada deselerasi detak jantung yang berarti ada gangguan. Akhirnya Amora lahir caesar.. Ternyata suspect dokter Amora itu kelainan genetic trisomy 18. Seperti hancur hati saya ketika tau dan Amora sempat berhenti bernafas akhirnya segera dipindah ke NICU selama 2 minggu. Amora harus minum asi lewat selang. Setelah hampir sebulan Amora dinyatakan stabil dan kami boleh pulang. Sangat panjang segala suka dan duka yang kami alami. Terapi, echo jantung, ke dokter syaraf, dokter gastro, dan banyak dokter yang harus kami temui serta segala diagnosa2 yang sampai hari ini kalau saya ingat itu sangat menyakitkan hati saya. 7,5 bulan Amora bersama saya di dunia ini, akhirnya Amora menghembuskan nafas yg terakhir bulan november th 2014 lalu.. Saya masih fase marah atas apa yang terjadi dan menyalahkan diri saya sendiri. Saya tau betul apa yang saya rasakan. Tapi saya bersyukur sudah diberi seorang anak ajaib seperti Amora. Kenapa saya bilang anak ajaib? Karena waktu itu dokter bilang umur Amora tidak lebih dari 1 minggu. Tapi saya tidak peduli, buat saya Allah yang Maha Mengetahui. Oiya, Amora terakhir gagal nafas karena pneumonia. Perjuangan anak2 kita sungguh berharga dan luar biasa indah, kadang saya bisa menyadari itu. Tapi di satu sisi hati saya hancur dan sekarang saya masih berusaha dan berjuang untuk berbenah diri dan memperbaiki kondisi mental saya sendiri. Terima kasih sudah mau berbagi disini, saya jadi tidak merasa sendirian dan saya mendapatkan banyak pelajaran berharga yang patut saya syukuri. Anak2 kita akan selalu mempunyai tempat sendiri di hati kita…
    Terima kasih sekali lagi mbak Intan yang sudah berbagi kisah Sanju disini… :)

    1. Allah maha baik.. Ia menguji ummat sesuai dengan kemampuannya.. Mbak Vivin sangaaaatt kuat, sehingga Allah menguji Mbak Vivin dengan ujian yang segitu tinggi tingkatannya.. Insyaallah pahala berlimpah atas kesabaran mbak dan keluarga yaa..

      Gimana? Amora sudah ada adek lagi kah? :-)

  13. Dear Fellow moms..
    terimakasih banyak untuk semua komen, doa dan harapannya yaaa.. Fyi: Alhamdulillah Sanju sudah punya adek. Muhammad Al Azzam, lahir 31 Januari 2015 melalui c-section. Sekarang sudah 7 bulan lebih umurnya, dan lagi semangat2nya eksplorasi dengan mpasi.

    Semoga kita bisa terus komunikasi dan bertukar pengalaman serta informasi yaa..

    Silahkan email ke intan.maulida@gmail.com. Facebook: intan maulida. IG: @intanmaulidasandy

  14. Dear Mba Intan..
    turut berduka, yaa… aku jadi ikutan nangis.. untungnya di kantor lagi sepi.. Anakku kembar, laki-laki dan perempuan, tapi usia 7 hari anak laki-lakiku meninggal. Semua rasa yang mba Intan rasain juga aku rasa.. yang buat aku tetap bisa jalani hidup karena masih ada 1 anak yang butuh aku, butuh perhatian dan kasih sayang dari Ibunya. Rasa sedih paling sering muncul saat dia tidur, seharusnya ada 2 anak yang sedang tidur lelap di tempat tidur ini, aku ngebayangin seandainya mereka tetap tumbuh kembang berdua, main bareng, berebut mainan atau bahkan perhatian dari Ayah Ibunya.. waktu awal pulang dari RS, setiap ngelihat pelengkapan bayi yang sudah kami siapkan dgn warna biru-pink itu selallluuu bikin kami sedih.. Bahkan sampai sekarang stroller tandem yang sudah kami beli belum pernah dibuka sama sekali… hhhhhhhmmm… rasanya miriiiisssssss… Kalimat dari kerabat mba itu buat aku sedih sekaligus tenang, Dia memilih jalan kehidupannya untuk kembali kepadaNya. Mungkin abang Raia sedang asyik main dengan Abang Sanju di surga sana,,

  15. dear mbak Intan,
    saya sampe nangis baca tulisan ini. Teringat pengalaman saya, kehilangan bayi saya diusia kehamilan 8bln. 14thn yg lalu
    Pada saat itu saya sangat marah dan merasa tidak becus menjadi seorang ibu. Tidak bisa menjaga anak dalam kandungan.
    Tapi saya setuju dengan mbak Intan. Semua yg terjadi itu pasti dalam kehendak TUhan. Tidak ada satu hal pun yang berjalan tanpa diketahui oleh NYA. Dan bayi ku memilih untuk tinggal di surga dibandingkan bersama mama papanya.

    Saat ini aku sdh memiliki seorang putri berusia 2thn 5bln. Selang waktu 12 thn sejak kehilangan yang lalu membuat hidupku lebih matang. Lebih bisa mensyukuri keadaan.
    Semoga semua keadaan yg pernah kita alami membuat kita lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan.
    Salam ya mbak…

Post Comment